Oleh : Kuliah Kerja Nyata (KKN) R-24 Sub Kelompok 6 (Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)
JurnalPost.com - Limbah pertanian di pedesaan sering kali dipandang sebelah mata. Sekam padi dan bonggol jagung, dua "produk sisa" yang muncul pasca panen, kerap hanya dibakar begitu saja atau dibiarkan membusuk. Padahal, kalau dipikir-pikir, dua limbah ini punya potensi besar kalau kita mau sedikit lebih kreatif dan peduli lingkungan.
Berdasarkan pengamatan kami selama menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kutorejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, tumpukan sekam padi dan bonggol jagung jadi pemandangan umum di lahan pertanian warga. Bahkan, beberapa petani mengaku, mereka tak tahu harus diapakan limbah tersebut selain dibakar. Fenomena ini menjadi dasar kegelisahan kami untuk menghadirkan proker arang briket dari limbah pertanian sebagai solusi konkret, berkelanjutan, dan punya nilai ekonomi.

Program kerja ini hadir bukan hanya untuk "mengolah limbah", tapi juga jadi bentuk edukasi dan pemberdayaan warga. Kami memperkenalkan teknologi sederhana pembuatan arang briket dari sekam dan bonggol jagung, yang dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk rumah tangga atau pelaku usaha mikro. Prosesnya cukup mudah, biaya produksinya rendah, dan hasilnya bisa langsung dimanfaatkan atau dijual.
Lebih dari sekadar solusi praktis, arang briket ini membawa misi sosial dan lingkungan. Dari sisi sosial, produksi briket bisa jadi ladang usaha baru — terutama bagi ibu-ibu rumah tangga atau karang taruna yang ingin menambah penghasilan. Dari sisi lingkungan, tentu saja ini mencegah praktik pembakaran terbuka yang selama ini menyumbang emisi karbon dan memperburuk kualitas udara desa.

Kami sadar, program ini nggak akan berjalan kalau hanya mengandalkan mahasiswa. Kunci keberhasilannya justru ada di tangan warga. Maka dari itu, kami menggelar berbagai sesi pelatihan mulai dari pemahaman dasar limbah pertanian, cara membuat briket, hingga simulasi pengemasan dan pemasaran. Inilah yang kami sebut sebagai transfer ilmu yang organik. Kampus membawa metode, warga membawa semangat dan potensi. Ketika keduanya saling bersinergi, hasilnya luar biasa.
Di tengah tantangan ekonomi dan isu keberlanjutan global, konsep ekonomi sirkular — di mana limbah menjadi bahan baku baru — semakin relevan. Dan ternyata, kita nggak perlu menunggu pemerintah atau perusahaan besar untuk memulainya. Dari desa, dari limbah pertanian, kita bisa menciptakan sistem kecil yang efisien dan berkelanjutan.
Arang briket dari sekam padi dan bonggol jagung hanyalah satu contoh kecil. Tapi kalau terus dikembangkan, bisa jadi langkah awal untuk membangun ekosistem pengolahan limbah terpadu di Tentu kami menyadari, KKN hanyalah sementara. Tapi kami berharap, proker ini bisa menjadi "benih" perubahan. Kami bermimpi, satu-dua warga Kutorejo bisa melanjutkan produksi arang briket, lalu menjualnya di pasar lokal, bahkan online. Kami membayangkan, anak-anak muda desa bisa memodifikasi desain kemasan agar lebih menarik. Dan siapa tahu, suatu saat nanti, Desa Kutorejo dikenal sebagai penghasil briket ramah lingkungan berbasis limbah pertanian.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda