Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ramadan Pergi, Kebiasaan Baik Ikut Pergi: Fenomena yang Kita Biarkan Terjadi Berulang

Ramadan Pergi, Kebiasaan Baik Ikut Pergi: Fenomena yang Kita Biarkan Terjadi Berulang

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
24 Maret 2026, 19.38 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Muhammad Fadhil Wathani

Oleh: Muhammad Fadhil Wathani

JurnalPost.com - Setiap tahun, cerita ini berulang dengan cara yang nyaris sama. Selama Ramadan, masjid penuh, tilawah Al-Qur’an terdengar di mana-mana, sedekah mengalir lebih deras, dan waktu terasa lebih bermakna. Lalu Idul Fitri tiba, takbir menggema, dan perlahan tanpa kita sadari sepenuhnya semua itu memudar. Shalat subuh kembali terasa berat, Al-Qur’an kembali berdebu di rak, dan rutinitas lama yang justru kita tinggalkan di awal Ramadan perlahan merayap kembali. Kita menyebutnya “kembali ke kehidupan normal.” Padahal yang kita maksud adalah kembali ke kebiasaan lama yang belum tentu baik.

IKLAN

Fenomena ini begitu umum hingga hampir tidak lagi mengejutkan siapa pun. Namun, justru karena itulah ia berbahaya, karena kita sudah terlalu terbiasa untuk menganggapnya wajar. Dalam kajian psikologi perilaku, kebiasaan terbentuk melalui pengulangan yang konsisten dalam jangka waktu tertentu. Phillippa Lally, peneliti dari University College London, menemukan bahwa rata-rata seseorang membutuhkan 66 hari untuk membentuk kebiasaan baru secara otomatis. Ramadan berlangsung 29 hingga 30 hari—cukup untuk membangun fondasi, tetapi belum cukup untuk membuat kebiasaan itu berakar kuat jika tidak dijaga setelahnya.

Muhammad Fadhil Wathani
Baca Juga

Kalau Puasa Bersama, Kenapa Merayakannya Tidak Bersama-sama?

Islam sendiri sangat menghargai konsistensi dalam beramal, bukan intensitas sesaat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah panduan psikologis yang jauh melampaui zamannya. Amal yang sedikit tetapi terus-menerus jauh lebih bernilai daripada amal yang besar namun hanya meledak satu bulan dalam setahun, lalu padam begitu bedug Lebaran berhenti berbunyi.

IKLAN

Lalu mengapa kita tetap membiarkan ini terjadi berulang? Salah satu jawabannya ada pada cara kita selama ini memaknai Ramadan. Kita kerap menempatkan Ramadan sebagai “musim khusus ibadah”, sebuah program intensif yang memang dirancang hanya untuk satu bulan. Akibatnya, kebiasaan-kebiasaan baik yang kita bangun di dalamnya tidak kita anggap sebagai bagian dari identitas diri, melainkan hanya sebagai kewajiban musiman. Begitu musimnya lewat, kewajiban itu pun dianggap selesai. Padahal Ramadan dalam Al-Qur’an disebut sebagai sarana mencapai takwa (QS. Al-Baqarah [2]: 183), dan takwa bukan kondisi musiman, akan tetapi orientasi hidup yang berkelanjutan.

Ada pula faktor lingkungan yang kerap luput dari perhatian. Kebiasaan baik selama Ramadan tumbuh subur karena ditopang oleh ekosistem yang mendukung: jadwal sahur dan buka bersama, suasana masjid yang hidup, tekanan sosial positif untuk ikut tarawih, serta ritme harian yang berubah secara kolektif. Begitu Ramadan usai, ekosistem itu runtuh seketika. Kita kembali ke lingkungan lama dengan godaan lama dan tanpa struktur pendukung yang sama, kebiasaan baik pun kehilangan pijakan. Ini bukan kelemahan iman semata; ini juga soal desain lingkungan yang tidak kita siapkan untuk mendukung perubahan jangka panjang.

Maka pertanyaan sesungguhnya bukan hanya “mengapa kebiasaan baik itu pergi?”, melainkan “apa yang kita siapkan agar ia bertahan?”. Para ulama klasik mengenal konsep muhasabah (evaluasi diri) yang dilakukan secara berkala. Idul Fitri sejatinya adalah momen muhasabah terbaik: bukan hanya merayakan kemenangan menahan hawa nafsu selama sebulan, tetapi juga menetapkan niat konkret tentang apa yang akan kita bawa dari Ramadan ke bulan-bulan berikutnya. Satu kebiasaan kecil yang dijaga, shalat dhuha dua rakaat, membaca satu halaman Al-Qur’an setiap pagi, atau bersedekah rutin sekali seminggu jauh lebih bermakna dari ribuan niat yang tidak pernah menjadi tindakan.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Ramadan bukan checkpoint tahunan yang bisa kita “reset” begitu saja. Akan tetapi, cemin yang memperlihatkan siapa kita ketika benar-benar berusaha menjadi lebih baik. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup jujur untuk menatap cermin itu setelah Lebaran berlalu, dan cukup berani untuk tidak memalingkan wajah?

Daftar Pustaka Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail & Muslim ibn al-Hajjaj. Hadis tentang amal yang paling dicintai Allah (HR. Bukhari No. 6464 & Muslim No. 783). Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. QS. Al-Baqarah [2]: 183. Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. Al-Muhasibi, Al-Harith ibn Asad. (2001). Ar-Ri’ayah li Huquqillah (Pemeliharaan Hak-Hak Allah). Terjemahan. Pustaka Azzam. Faqihuddin Abdul Kodir. (2019). Qira’ah Mubadalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam. IRCiSoD.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ramadan-pergi-kebiasaan-baik-ikut-pergi-fenomena-yang-kita-biarkan-terjadi-berulang/91671/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.45 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Ramadan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online
  2. 2

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  3. 3

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

  4. 4

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  5. 5

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.