Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kalau Puasa Bersama, Kenapa Merayakannya Tidak Bersama-sama?

Kalau Puasa Bersama, Kenapa Merayakannya Tidak Bersama-sama?

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
29 Maret 2026, 09.03 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Muhammad Fadhil Wathani

Oleh: Muhammad Fadhil Wathani

JurnalPost.com - Setiap tahun, jutaan keluarga Muslim menjalani Ramadan bersama-sama, sahur beriringan, berbuka dalam satu meja, tarawih berjamaah, dan saling menguatkan di hari-hari yang berat. Tidak ada yang bertanya siapa yang lebih berhak berpuasa, siapa yang ibadahnya lebih sah, atau siapa yang boleh merasakan keutamaan malam Lailatul Qadar. Semua dianggap setara di hadapan ibadah. Namun begitu Ramadan usai dan Idul Fitri tiba, kesetaraan itu seolah ikut berakhir—dan dapur kembali menjadi wilayah satu pihak saja.

IKLAN

Gambaran ini bukan hiperbola. Di banyak rumah tangga Muslim Indonesia, Lebaran disambut dengan pembagian kerja yang tidak pernah benar-benar dibicarakan: perempuan bangun lebih awal untuk memasak, membersihkan rumah, menyiapkan pakaian anak-anak, melayani tamu, dan memastikan semuanya berjalan lancar—sementara laki-laki bersiap shalat Id, menerima tamu di ruang depan, lalu beristirahat. Pola ini begitu mendarah daging hingga terasa alamiah. Padahal ia tidak alamiah; ia adalah hasil dari konstruksi sosial yang sudah lama kita normalisasi.

Muhammad Fadhil Wathani
Baca Juga

Ramadan Pergi, Kebiasaan Baik Ikut Pergi: Fenomena yang Kita Biarkan Terjadi Berulang

Islam sesungguhnya tidak pernah mendelegasikan perayaan hanya kepada satu jenis kelamin. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang aktif membantu pekerjaan rumah tangga. Dalam sebuah riwayat yang dicatat oleh Imam Bukhari, Aisyah ra. Ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi di rumah, dan ia menjawab bahwa beliau membantu pekerjaan keluarganya. Ini bukan kisah pinggiran, ini adalah teladan utama. Jika Nabi tidak merasa turun derajat dengan membantu di rumah, mengapa kita justru membangun tradisi Lebaran yang membebankan semua persiapan perayaan kepada perempuan?

Prinsip mubadalah—kesalingan dan kesetaraan relasional dalam Islam—mengajak kita membaca tradisi Lebaran dengan pertanyaan yang jujur: apakah perayaan ini benar-benar dirayakan bersama, atau hanya dinikmati bersama? Ada jarak besar antara keduanya. Merayakan bersama berarti beban persiapan ditanggung bersama, keputusan diambil bersama, dan kegembiraan dirasakan bersama. Menikmati bersama tanpa kesalingan dalam prosesnya, hanyalah bentuk lain dari ketidakadilan yang dibungkus tradisi. Faqihuddin Abdul Kodir, dalam Qira’ah Mubadalah (2019), menegaskan bahwa relasi suami-istri dalam Islam seharusnya dibangun di atas prinsip al-mu’asyarah bil-ma’ruf, yakni pergaulan yang baik, setara, dan saling memuliakan.

Ketika perayaan tidak ditanggung bersama, yang pertama terdampak adalah perempuan itu sendiri. Kelelahan fisik yang menumpuk sejak akhir Ramadan karena sekaligus berpuasa dan menyiapkan segala kebutuhan Lebaran, membuatnya tiba di hari raya dalam kondisi yang sudah terkuras. Kegembiraan Idul Fitri yang seharusnya menjadi haknya pun ikut terkikis. Ironisnya, kondisi ini jarang dianggap sebagai masalah, karena sudah terlanjur dianggap sebagai “kodrat” atau “bentuk kasih sayang” seorang ibu dan istri kepada keluarganya.

Kesalingan dalam merayakan Lebaran tidak membutuhkan revolusi besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil yang konkret: laki-laki yang ikut memasak ketupat dan opor, anak laki-laki yang turut membersihkan rumah, suami yang mengambil alih sebagian tugas menerima tamu agar istri bisa beristirahat, atau sekadar keputusan bersama untuk memesan makanan jadi agar tidak ada satu pihak yang kelelahan sebelum hari raya tiba. Perubahan kecil ini bukan penghinaan terhadap tradisi, namun penyempurnaan tradisi agar lebih sejalan dengan nilai Islam yang sesungguhnya.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

IKLAN

Idul Fitri berarti kembali ke fitrah, kembali ke kemanusiaan yang bersih dan setara. Jika di bulan Ramadan kita percaya bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama mampu berpuasa, sama-sama berhak atas pahala, dan sama-sama dipanggil untuk bertakwa, maka tidak ada alasan untuk tidak percaya bahwa keduanya juga sama-sama mampu memasak, sama-sama berhak beristirahat, dan sama-sama bisa merayakan kemenangan Ramadan dengan sepenuh hati. Sebab kemenangan yang sejati adalah kemenangan yang dirasakan semua pihak—bukan hanya sebagian.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari. Hadis tentang pekerjaan Nabi di rumah (HR. Bukhari, No. 676).

Faqihuddin Abdul Kodir. (2019). Qira'ah Mubadalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam. IRCiSoD.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Husein Muhammad. (2001). Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender. LKiS.

Kementerian Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahannya. QS. Al-Baqarah [2]: 228.

Musdah Mulia. (2004). Islam Menggugat Poligami. Gramedia Pustaka Utama.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/kalau-puasa-bersama-kenapa-merayakannya-tidak-bersama-sama/91757/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.45 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Puasa ramadhan
  • #Ramadan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik
  2. 2

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  3. 3

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  4. 4

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  5. 5

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.