- salah satu prosesi Rejeban “Tumpeng/gunungan sayur buah yang sedang diperebutkan ”. Jumat (09/01/2026).
Semarang, JurnalPost.com - Di Dusun Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, syukur tak hanya diucapkan, tetapi dirayakan bersama alam, sejarah, dan kebersamaan. Tradisi Rejeban yang digelar masyarakat setempat bukan sekadar ritual tahunan, melainkan penanda kuat hubungan manusia dengan leluhur, tanah yang dipijak, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Di sinilah masyarakat setempat turun-temurun, menjaga Prasasti Ngrawan saksi bisu tahun 1372 Saka atau 1450 masehi melalui tradisi Rejeban yang digelar setiap Jumat Legi atau Wage di awal bulan Rajab, tetapi lebih diutamakan Legi karena sudah dititen atau diperhitungkan oleh sesepuh desa dan disepakati dalam musyawarah dusun. Bukan sekadar ritual, Rejeban adalah ikrar cinta generasi muda maupun seluruh lapisan masyarakat terhadap leluhur, tempat situs kuno tetap terlindungi karena dijaga oleh tangan-tangan warganya.
Rejeban dilaksanakan di area Situs Ngrawan—sebuah ruang sakral yang hingga kini tetap lestari karena kesadaran warga untuk menjaga, bukan mengeksploitasi. Situs ini bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga pusat hidup nilai-nilai kebersamaan. Setiap sudutnya dirawat, dijaga, dan dihormati, oleh masyarakat Ngrawan karena mereka memahami betul bahwa tradisi akan hidup jika ruangnya tetap bernapas.
Prosesi Rejeban diawali dengan penyembelihan kambing betina, sebuah ritual yang sarat makna. Mbah Jumadi, sesepuh yang dipercaya warga untuk memimpin prosesi tersebut, menyampaikan kepercayaan turun-temurun yang masih dipegang erat hingga kini.

Prosesi penyembelihan kambing
"Menurut kepercayaan kami, jika kambing yang disembelih ternyata mengandung anak, itu pertanda rezeki hasil panen dan ekonomi warga akan melimpah serta berkah setahun ke depan," ujar Mbah Jumadi dengan tenang. Menariknya, kepercayaan ini tidak dimaknai secara kaku. “Hasil panen mungkin tidak melimpah, tapi tetap akan cukup. Rezeki itu tidak harus selalu banyak, yang penting adalah kecukupan,” tutur Mbah Jumadi lagi. Bagi warga Ngrawan, kecukupan pun adalah anugerah. Selama masih diberi ruang untuk hidup, bertani, dan berkumpul, rasa syukur harus tetap dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebuah filosofi sederhana, namun dalam, yang mengajarkan keseimbangan antara harapan dan penerimaan yang dibalut dalam dekapan alam.
Usai ritual, suasana berubah menjadi perayaan. Arak-arakan tumpeng dari seluruh warga dusun Ngrawan menghiasi jalan —tumpeng buah dan sayur sebagai simbol kesuburan bumi, serta tumpeng snack yang diperuntukkan bagi anak-anak, tanda bahwa tradisi juga diwariskan dengan cara yang menggembirakan. Tawa anak-anak berpadu dengan langkah warga yang mengiringi tumpeng, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan.
Tak berhenti di sana, Rejeban juga menjadi panggung pengenalan budaya lokal. Tari Topeng Gecul, tarian tradisional khas Dusun Ngrawan, ditampilkan sebagai bentuk pelestarian seni. Gerakannya lincah, topengnya penuh ekspresi, dan karakter topeng yang unik menceritakan identitas masyarakat Ngrawan yang tangguh namun tetap jenaka dalam menghadapi tantangan hidup. Tradisi Rejeban di Dusun Ngrawan mengajarkan satu hal penting bahwa menjaga budaya berarti menjaga keseimbangan—antara manusia dan alam, antara masa lalu dan masa depan, antara doa dan usaha. Di tengah perubahan zaman, masyarakat Ngrawan memilih untuk tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, merawat situs, merawat tradisi, dan memanjatkan rasa syukur.
Tulisan dan liputan ini merupakan bagian dari luaran kegiatan yang diikuti oleh Tim Hibah MBKM Universitas Sebelas Maret. Kehadiran serta keterlibatan aktif tim mahasiswa dalam ritual adat Rejeban ini menjadi salah satu agenda utama dari rangkaian kegiatan MBKM Riset mereka, yang berfokus pada penelitian, dokumentasi, sekaligus penguatan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat di Dusun Ngrawan.
Dian Wulandari/Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi, Universitas Sebelas Maret.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda