Jakarta, JurnalPost.com — Belajar bahasa Jepang kini tak harus berhenti ketika kelas selesai. Royyuda Agusto Ompusunggu atau yang akrab disapa Sansan menghadirkan Student Portal, sebuah Learning Management System (LMS) yang dikembangkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran di komunitas pendidikan Nande Nihon.
Royyuda yang merupakan pendiri Nande Nihon melihat perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memberikan ruang belajar yang lebih fleksibel bagi peserta. Melalui platform tersebut, siswa bisa kembali mengakses pembelajaran meski sesi kelas telah berakhir.
Student Portal mulai digunakan dalam program pembelajaran bahasa Jepang Nande Nihon sebagai ruang belajar digital yang menggabungkan berbagai kebutuhan siswa dalam satu sistem.
Mulai dari materi pembelajaran, jadwal kelas, tugas, kuis hingga perkembangan belajar dapat dipantau melalui platform tersebut. Fitur absensi juga tersedia, termasuk sertifikat digital yang dapat diakses peserta setelah menyelesaikan program sesuai ketentuan.
Bagi Royyuda, kehadiran platform tersebut berangkat dari kebutuhan sederhana. Ia ingin siswa memiliki tempat untuk melanjutkan proses belajar tanpa sepenuhnya bergantung pada jadwal pertemuan di kelas.
“Saya ingin siswa memiliki ruang belajar mereka sendiri. Jadi, proses belajar tidak hanya berlangsung ketika kelas dimulai, tetapi dapat dilanjutkan secara mandiri melalui materi, tugas, kuis, dan pemantauan progres yang tersedia dalam Student Portal,” ujar Royyuda.
Dengan konsep tersebut, peserta dapat mengulang materi yang sebelumnya dipelajari, mengerjakan tugas, mengikuti kuis maupun melihat perkembangan belajar mereka secara mandiri.

Hal itu dinilai penting terutama dalam pembelajaran bahasa asing yang membutuhkan proses latihan dan pengulangan secara konsisten.
Bukan Sekadar Membuat Platform
Royyuda menilai pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan tidak cukup hanya dengan menghadirkan sebuah aplikasi atau sistem digital.
Menurutnya, teknologi harus mampu menjawab kebutuhan peserta didik sekaligus membantu mereka memahami perkembangan belajar masing-masing.
“Bagi saya, membuat platform pembelajaran bukan hanya tentang teknologi. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar membantu siswa belajar dan mengetahui sejauh mana perkembangan mereka,” katanya.
Karena itu, Student Portal dirancang dengan sejumlah fitur yang berkaitan langsung dengan aktivitas pembelajaran.
Peserta tidak hanya menjadi pengguna yang membaca materi, tetapi juga dapat mengikuti aktivitas belajar, menyelesaikan tugas dan melihat progres yang telah dicapai selama mengikuti program.
Penggunaan LMS tersebut sekaligus menjadi salah satu langkah Nande Nihon dalam mengembangkan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur dengan memanfaatkan teknologi digital.

Berawal dari Nande Nihon
Nande Nihon merupakan komunitas pendidikan yang berdiri sejak 2025. Komunitas tersebut berfokus pada pembelajaran bahasa sekaligus pengenalan budaya Jepang kepada masyarakat Indonesia.
Sejak didirikan, Nande Nihon mengembangkan berbagai kegiatan pendidikan dan edukasi bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap Jepang.
Pengembangan Student Portal kemudian menjadi bagian dari upaya komunitas tersebut untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan kebutuhan peserta didik.
Dengan sistem digital, materi dan aktivitas pembelajaran dapat terdokumentasi serta diakses kembali oleh peserta ketika dibutuhkan.
Selain memberikan fleksibilitas, sistem tersebut juga memungkinkan peserta melihat proses belajar secara lebih terukur karena aktivitas hingga perkembangan mereka tercatat dalam platform.
Masih Akan Dikembangkan
Student Portal yang digunakan saat ini bukan menjadi tahap akhir pengembangan.
Royyuda berencana terus menyempurnakan platform tersebut secara bertahap dengan menambahkan sejumlah kebutuhan dan fitur pembelajaran lainnya.
Pengembangan akan disesuaikan dengan kebutuhan peserta sekaligus perkembangan program pembelajaran yang dijalankan Nande Nihon.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa Jepang semakin relevan, terutama bagi peserta yang membutuhkan metode belajar lebih fleksibel di tengah aktivitas sehari-hari.
Bagi Royyuda, teknologi pada akhirnya bukan sekadar pelengkap dalam proses pendidikan. Kehadirannya diharapkan menjadi sarana yang membuat peserta lebih mudah belajar, mengetahui progres, sekaligus tetap terhubung dengan proses pembelajaran meski sesi kelas telah selesai.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda