Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia
JurnalPost.com - Tidak semua badai bisa dihentikan. Tetapi sebuah kapal yang memiliki awak yang saling memahami akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap berada di jalurnya. Perekonomian Indonesia sedang berlayar di tengah laut yang tidak sepenuhnya tenang. Ketidakpastian geopolitik meningkat, harga energi dan komoditas bergerak, pasar keuangan global bergejolak, sementara nilai tukar dan arus modal menghadapi tekanan. Dalam kondisi seperti ini, tantangannya bukan sekadar bagaimana menghindari badai, tetapi bagaimana memastikan perekonomian tetap bergerak ketika badai datang. Sebab tidak ada negara yang dapat memilih cuaca global, tetapi setiap negara dapat memilih bagaimana mempersiapkan kapalnya.
Di sinilah peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK menjadi penting. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan tidak bekerja dalam ruang masing-masing ketika risiko mulai meningkat, tetapi terus memperkuat koordinasi dan melakukan asesmen secara forward looking. Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika satu guncangan dapat merambat dari pasar global menuju nilai tukar, pasar keuangan, perbankan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Stabilitas, pada akhirnya, bukan hasil dari satu kebijakan, melainkan hasil dari banyak kebijakan yang bergerak dalam arah yang sama.
Badai globalnya pun bukan sesuatu yang kecil. Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkatkan risiko terhadap pasokan energi, harga minyak, perdagangan, dan rantai pasok global, sementara perilaku flight to safety mendorong penguatan dolar AS dan tekanan terhadap aliran modal negara berkembang. IMF pada Juli 2026 juga memprakirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0%, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%. Ketika dunia tumbuh lebih lambat dan ketidakpastian meningkat, Indonesia membutuhkan fondasi domestik yang cukup kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Kabar baiknya, kapal Indonesia tidak sedang dalam kondisi kosong. Perekonomian domestik tetap menunjukkan ketahanan dengan daya beli masyarakat yang dijaga melalui perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta berbagai stimulus. Investasi juga diprakirakan tetap kuat, terutama melalui proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur, sementara konsumsi Pemerintah terus didukung percepatan program prioritas, pembayaran gaji ke-13 ASN, dan penyaluran bantuan sosial. Dengan berbagai sinergi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6–6,0%.
Namun menjaga kapal tetap berlayar bukan berarti mengabaikan ombak yang datang dari luar. Ketahanan eksternal tetap perlu diperkuat, terutama ketika arus modal dan nilai tukar menghadapi tekanan. Pada Januari–Juni 2026, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sebesar 3,58 miliar dolar AS, sementara investasi portofolio asing pada triwulan II mencatat net inflows 8,5 miliar dolar AS. Cadangan devisa pada akhir Juni juga tetap berada di level 145,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Yang menarik, ketahanan tidak hanya terlihat dari sisi eksternal. Inflasi IHK Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan, turun dari 3,34% pada bulan sebelumnya, sementara inflasi inti tetap terjaga pada 2,76%. Aktivitas manufaktur yang sempat termoderasi pada akhir triwulan II juga kembali memasuki fase ekspansi pada Juli, tercermin dari PMI Manufaktur sebesar 50,2. Ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan global belum sepenuhnya mereda, mesin ekonomi domestik masih memiliki daya untuk kembali bergerak.
Tetapi justru karena badai belum sepenuhnya berlalu, kewaspadaan tidak boleh diturunkan. Risiko global dapat berubah dengan cepat, sementara hubungan antar pasar keuangan semakin erat sehingga tekanan di satu wilayah dapat dengan mudah menjalar ke wilayah lain. Karena itu, KSSK berkomitmen memperkuat coordinated policy response, memitigasi berbagai risiko terhadap perekonomian dan sistem keuangan, sekaligus tetap mendukung sektor riil dan program prioritas nasional. Menjaga stabilitas bukan berarti mengerem pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan ketika kondisi berubah.
Pada akhirnya, ekonomi tidak pernah berjalan dalam ruang hampa. Ada kebijakan fiskal yang menjaga daya beli, kebijakan moneter yang menjaga stabilitas, pengawasan sektor keuangan yang menjaga ketahanan, dan perlindungan sistem keuangan yang menjaga kepercayaan masyarakat. Keempatnya mungkin memiliki instrumen dan mandat yang berbeda, tetapi tujuannya bertemu pada satu titik: memastikan masyarakat dan dunia usaha tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Karena ketika badai datang, ekonomi tidak membutuhkan satu pahlawan yang bekerja sendirian, ia membutuhkan seluruh awak yang tahu kapan harus mengubah layar, kapan harus memperkuat kemudi, dan kapan harus menjaga kapal tetap pada jalurnya.
Dan mungkin, itulah makna terdalam dari stabilitas. Bukan ketika laut selalu tenang. Tetapi ketika gelombang meninggi, kapal tetap mampu melaju.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda