Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Satu Negara, Beragam Pengalaman: Memahami Kesehatan Mental dalam Perspektif Multikultural di Tengah Dinamika Sosial-Politik

Satu Negara, Beragam Pengalaman: Memahami Kesehatan Mental dalam Perspektif Multikultural di Tengah Dinamika Sosial-Politik

Y
Penulis: Yulia Darma
26 Oktober 2026, 14.05 WITA Editor: Hasbi
7 menit baca
60091
Teori Ekologi Brofenbrenner

JurnalPost.com - Perkembangan informasi melalui media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengikuti berbagai peristiwa, mulai dari kebijakan pemerintah, persoalan ekonomi, konflik sosial, ketidakadilan, diskriminasi, hingga bencana alam.

Berbagai informasi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, pernahkah kita bertanya, bagaimana jika berita yang dikonsumsi setiap hari justru memengaruhi kondisi psikologis dan membuat seseorang merasa cemas, kecewa, atau khawatir terhadap masa depan?

Perasaan kecewa atau khawatir ketika menyaksikan berbagai persoalan sosial tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu mengelola emosinya. Dalam situasi tertentu, perasaan tersebut dapat muncul sebagai respons terhadap kondisi sosial yang dianggap sulit, tidak pasti, atau tidak adil.

Oleh karena itu, kesehatan mental masyarakat perlu dipahami tidak hanya berdasarkan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan, tetapi juga dengan mempertimbangkan lingkungan sosial dan budaya tempat individu tersebut hidup.

Ketika Berita dan Situasi Sosial Menjadi Sumber Tekanan

Saat membaca berita, seseorang sering kali menemukan berbagai komentar dan pendapat masyarakat yang saling bertentangan. Jika berlangsung secara terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat individu sulit melepaskan perhatian dari informasi yang menimbulkan kekhawatiran.

Fenomena tersebut dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi berita atau konten negatif secara berulang, terutama melalui media digital. Selain itu, terdapat fenomena information overload, yakni kondisi ketika seseorang menerima informasi dalam jumlah terlalu banyak sehingga kesulitan memprosesnya secara optimal.

Penelitian Oktaviani dan Zatrahadi (2026) membahas hubungan antara doomscrolling dan information overload dengan kesehatan mental Generasi Z. Kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara berulang melalui media sosial dapat memicu kecemasan, stres, dan kelelahan emosional. Sementara itu, paparan informasi yang berlebihan dapat meningkatkan beban kognitif individu.

Meski demikian, pengalaman setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kemampuan regulasi diri dan strategi coping yang digunakan untuk menghadapi tekanan. Sumber tekanan terhadap kesehatan mental juga tidak hanya berasal dari berita yang dibaca. Sebagian masyarakat mengalami dampak langsung dari kebijakan, kondisi ekonomi, atau perlakuan tidak adil di lingkungan mereka.

Karena itu, menyarankan masyarakat untuk sekadar mengurangi konsumsi berita belum cukup untuk memahami keseluruhan tekanan psikologis yang mereka alami.

Dampak pemberitaan dan persoalan sosial juga tidak selalu sama bagi setiap individu. Latar belakang budaya, kondisi ekonomi, pengalaman hidup, serta dukungan sosial dapat membentuk cara seseorang memahami dan menghadapi suatu situasi.

Dengan demikian, kesehatan mental perlu dipahami melalui perspektif yang lebih luas, termasuk kondisi sosial dan budaya yang melatarbelakangi pengalaman setiap kelompok masyarakat.

Satu Negara, tetapi Tidak Semua Orang Memiliki Pengalaman yang Sama

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang memiliki keberagaman budaya, agama, bahasa, kondisi ekonomi, dan pengalaman sosial.

Keberagaman tersebut membuat setiap individu maupun kelompok dapat memiliki pengalaman berbeda ketika menghadapi dinamika sosial-politik. Kebijakan atau peristiwa yang dianggap biasa oleh sebagian masyarakat belum tentu memberikan dampak yang sama bagi kelompok lainnya.

Virdiyanti (2025) meneliti kesehatan mental dalam konteks budaya kolektivis pada komunitas adat di Jawa, Bali, dan Sumatra. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai kolektivisme dapat memberikan dukungan sosial sekaligus memperkuat ketahanan psikologis individu. Namun, tuntutan untuk mengikuti norma dan harapan kelompok juga berpotensi menimbulkan stres serta perasaan terasing.Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman kesehatan mental berkaitan erat dengan nilai budaya dan hubungan sosial dalam lingkungan individu.

Selain itu, perbedaan budaya dapat memengaruhi cara seseorang menyampaikan perasaan dan kebutuhannya. Penelitian Bangun et al. (2025) membahas budaya ewuh pakewuh pada masyarakat Jawa, yaitu rasa sungkan dalam interaksi sosial yang dapat memengaruhi keterbukaan individu ketika menyampaikan kebutuhan maupun perasaannya. Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa norma budaya dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan emosi dan menghadapi tekanan psikologis.

Oleh sebab itu, pemahaman mengenai kesehatan mental perlu mempertimbangkan keberagaman konteks sosial-budaya serta pengalaman hidup masing-masing individu.

Memahami Kesehatan Mental melalui Teori Ekologi Bronfenbrenner

Teori ekologi Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh interaksi dengan berbagai lingkungan, mulai dari hubungan terdekat hingga sistem sosial dan budaya yang lebih luas (Bronfenbrenner, 1979, 1994).

Perspektif ini membantu menjelaskan bahwa pengalaman psikologis seseorang tidak hanya dibentuk oleh cara berpikir atau kemampuan mengelola emosi, tetapi juga dipengaruhi oleh hubungan sosial, kondisi lingkungan, kebijakan, dan nilai budaya. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan serta pengalaman individu dapat dipahami melalui lima sistem berikut:

1. Mikrosistem (Microsystem)

Mikrosistem merupakan lingkungan terdekat tempat individu berinteraksi secara langsung, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tempat kerja. Hubungan serta interaksi yang berlangsung dalam lingkungan tersebut dapat memengaruhi pengalaman sehari-hari dan kondisi psikologis seseorang.

2. Mesosistem (Mesosystem)

Mesosistem menggambarkan hubungan antara berbagai lingkungan terdekat individu, misalnya hubungan antara keluarga dan tempat kerja. Sebagai contoh, tekanan yang dialami seseorang di lingkungan kerja dapat terbawa ke rumah sehingga memengaruhi hubungan dengan anggota keluarga serta kondisi psikologisnya.

3. Eksosistem (Exosystem)

Eksosistem mencakup lingkungan atau struktur sosial yang tidak selalu melibatkan individu secara langsung, tetapi tetap dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupannya. Contohnya meliputi kebijakan lembaga, kondisi pekerjaan anggota keluarga, dan pemberitaan media massa. 

Seseorang mungkin tidak terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan pemerintah. Namun, kebijakan yang ditetapkan dapat memengaruhi kondisi ekonomi, akses terhadap layanan, serta rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

4. Makrosistem (Macrosystem)

Makrosistem mencakup nilai budaya, norma sosial, ideologi, serta struktur sosial dan ekonomi yang lebih luas. Dalam masyarakat Indonesia yang beragam, nilai budaya dapat memengaruhi cara individu memahami tekanan, mengekspresikan emosi, dan mencari bantuan psikologis.

Oleh karena itu, pengalaman kesehatan mental perlu dipahami dengan mempertimbangkan latar belakang budaya dan struktur sosial yang membentuk kehidupan individu.

5. Kronosistem (Chronosystem)

Kronosistem berkaitan dengan dimensi waktu, termasuk perubahan yang terjadi dalam kehidupan individu maupun lingkungan sosial sepanjang perjalanan hidupnya. Perubahan sosial-politik, krisis ekonomi, atau peristiwa besar yang berlangsung pada periode tertentu dapat memengaruhi cara individu memandang masa depan dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Dampak perubahan tersebut dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada waktu terjadinya peristiwa, pengalaman sebelumnya, dan dukungan yang tersedia.

Kelima sistem tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman kesehatan mental terbentuk dalam konteks lingkungan yang saling berkaitan. Perspektif ekologi Bronfenbrenner dapat membantu memahami keberagaman pengalaman kesehatan mental masyarakat di tengah dinamika sosial-politik Indonesia.

Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan mental tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan individu dalam mengelola emosi, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas hubungan sosial, dukungan lingkungan, kondisi sosial-ekonomi, serta nilai budaya yang memengaruhinya.

Penelitian Omega (2023) turut membahas penerapan model Process-Person-Context-Time (PPCT) Bronfenbrenner dalam konteks kebencanaan. Model tersebut menekankan pentingnya memahami pengalaman individu dengan mempertimbangkan karakteristik pribadi, proses interaksi, konteks lingkungan, dan perubahan sepanjang waktu. Meskipun penelitian tersebut berada dalam konteks kebencanaan, perspektif yang digunakan dapat membantu memperluas pemahaman bahwa kesehatan mental perlu dilihat melalui hubungan timbal balik antara individu dan lingkungannya.

Tetap Peduli Tanpa Mengabaikan Kesehatan Mental

Mengikuti perkembangan berita dan memperhatikan kondisi negara merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kehidupan bersama.

Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka, mempertanyakan ketidakadilan, serta menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial.

Namun, kepedulian tersebut juga perlu disertai dengan kesadaran terhadap batas kemampuan diri dalam menerima dan memproses informasi.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menentukan waktu tertentu untuk mengikuti berita, memeriksa informasi melalui sumber yang dapat dipercaya, serta mengambil jeda ketika mulai mengalami kelelahan emosional.

Berinteraksi dengan orang-orang yang dipercaya atau terlibat dalam kegiatan sosial juga dapat membantu individu memperoleh dukungan dan mengurangi perasaan sendirian ketika menghadapi berbagai persoalan.

Di sisi lain, kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam mengelola tekanan. Dukungan sosial, keamanan lingkungan, perlindungan terhadap diskriminasi, serta kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat juga memiliki peran penting.

Karena itu, upaya menjaga kesehatan mental tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada individu. Diperlukan pula lingkungan sosial yang adil, aman, dan mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat.

Kesimpulan

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, kondisi sosial, serta pengalaman hidup yang beragam. Oleh karena itu, dampak dinamika sosial-politik terhadap kesehatan mental tidak dapat dipahami hanya melalui satu sudut pandang.

Paparan berita negatif, diskriminasi, kondisi sosial-ekonomi, norma budaya, dan dukungan lingkungan merupakan berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam memahami pengalaman psikologis masyarakat.

Perspektif multikultural dan teori ekologi Bronfenbrenner membantu menjelaskan bahwa kesehatan mental terbentuk melalui interaksi antara individu dan lingkungan sosial-budayanya.

Dengan memahami keberagaman pengalaman tersebut, masyarakat diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan pribadi dalam menghadapi tekanan, tetapi juga membutuhkan dukungan sosial dan lingkungan yang lebih inklusif.


Profil Penulis

Ni Nyoman Yulia Niti Darma merupakan mahasiswa Magister Sains Psikologi di Soegijapranata Catholic University. Melalui perspektif psikologi multikultural, penulis mengangkat pentingnya memahami kesehatan mental dengan mempertimbangkan latar belakang budaya, kondisi sosial, norma masyarakat, serta lingkungan tempat individu hidup.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/satu-negara-beragam-pengalaman-memahami-kesehatan-mental-dalam-perspektif-multikultural-di-tengah-dinamika-sosial-politik/98348/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.59 WITA

  • #Doomscrolling
  • #Kesehatan Mental
  • #Kesehatan Mental Indonesia
  • #dinamika sosial politik
  • #dukungan sosial
  • #keberagaman budaya
  • #psikologi
  • #psikologi multikultural
  • #teori ekologi bronfenbrenner

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.