“Lima belas menit lagi, deh. Habis itu janji langsung taruh HP.”
Pernah mengatakan hal serupa kepada diri sendiri? Niat awalnya hanya ingin melihat beberapa video atau mengecek kabar terbaru di media sosial. Namun, tanpa terasa, lima belas menit berubah menjadi satu jam. Bahkan, ketika akhirnya meletakkan ponsel, kita sering kali tidak benar-benar mengingat apa saja yang baru saja ditonton.
Media sosial memang punya cara tersendiri untuk membuat penggunanya betah berlama-lama. Dalam hitungan detik, kita bisa berpindah dari video lucu ke berita mengejutkan, kemudian melihat kehidupan orang lain, membaca komentar, hingga mengikuti tren yang sedang ramai. Semuanya berlangsung begitu cepat, seolah tidak ada kesempatan bagi pikiran untuk berhenti sejenak.
Sekilas, kebiasaan ini tampak biasa saja. Toh, hampir semua orang melakukannya. Namun, ketika aktivitas menggulir layar atau scrolling mulai sulit dikendalikan, ada dampak yang patut diperhatikan, terutama terhadap konsentrasi, pengelolaan emosi, dan kesehatan mental.
Fenomena tersebut sering dikaitkan dengan istilah brain rot. Lantas, apa sebenarnya brain rot, dan mengapa kebiasaan doomscrolling dapat menjadi salah satu pemicunya?
Brain Rot, Ketika Pikiran Terlalu Banyak Mengonsumsi Konten
Istilah brain rot secara harfiah berarti pembusukan otak. Meski terdengar menyeramkan, istilah ini tidak berarti otak seseorang benar-benar mengalami pembusukan secara fisik.
Dalam artikel yang diterbitkan Kanal Pengetahuan Psikologi Universitas Gadjah Mada pada 13 Maret 2025, brain rot dijelaskan sebagai fenomena yang berkaitan dengan konsumsi konten digital berkualitas rendah secara berlebihan. Istilah ini menggambarkan kekhawatiran terhadap dampak kebiasaan tersebut pada kemampuan berpikir dan kondisi psikologis seseorang.
Brain rot bukanlah diagnosis medis yang secara otomatis menunjukkan adanya kerusakan otak. Namun, istilah ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi secara berlebihan dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan perhatian dan waktunya.
Bayangkan ketika seseorang terbiasa menonton puluhan video pendek dalam waktu singkat. Setiap video menawarkan sesuatu yang baru, menarik, atau mengejutkan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti membaca buku, mengerjakan tugas, atau menyimak penjelasan dosen, bisa terasa jauh lebih membosankan.
Bukan berarti setiap orang yang sering menonton video pendek pasti mengalami gangguan konsentrasi. Akan tetapi, ketika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sudah saatnya pola penggunaan media sosial dievaluasi.
Persoalan ini cukup relevan bagi generasi muda, terutama Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan membangun identitas diri.
Sayangnya, kemudahan mengakses informasi tidak selalu diikuti kemampuan untuk menentukan kapan harus berhenti.
Doomscrolling: Terjebak dalam Guliran Tanpa Akhir
Salah satu kebiasaan digital yang sering dikaitkan dengan fenomena brain rot adalah doomscrolling.
Doomscrolling merupakan perilaku terus-menerus mencari, membaca, atau menelusuri informasi negatif dan mengkhawatirkan melalui media digital, meskipun informasi tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan emosional.
Pernah membuka media sosial untuk mencari satu berita, tetapi justru berakhir membaca berbagai kabar buruk lainnya? Mulai dari bencana alam, konflik, masalah ekonomi, hingga perdebatan di kolom komentar. Meskipun merasa cemas atau lelah, jari seakan tetap ingin menggulir layar untuk mengetahui informasi berikutnya.
Itulah salah satu gambaran doomscrolling.
Dalam praktiknya, pengalaman menggunakan media sosial juga membuat seseorang berhadapan dengan perubahan suasana hati yang begitu cepat. Baru saja tertawa karena melihat video lucu, beberapa detik kemudian merasa sedih akibat berita menyentuh. Tidak lama setelah itu, muncul konten yang memancing kemarahan atau kekhawatiran.
Pergantian emosi seperti ini tidak otomatis merusak sistem saraf. Namun, paparan informasi yang terus-menerus, terutama konten negatif, dapat menambah beban psikologis dan membuat seseorang merasa kewalahan.
Penelitian Satici dan rekan-rekannya (2023) dalam jurnal Applied Research in Quality of Life membahas hubungan doomscrolling dengan tekanan psikologis, penggunaan media sosial, serta kesejahteraan individu.
Sementara itu, penelitian Shabahang dan rekan-rekannya (2024) yang melibatkan responden dari Iran dan Amerika Serikat menemukan keterkaitan antara doomscrolling dengan existential anxiety, yaitu kecemasan yang berhubungan dengan masa depan, makna kehidupan, dan ketidakpastian dunia.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan bukan sekadar persoalan waktu yang terbuang, tetapi juga berkaitan dengan kondisi emosional seseorang.
Mengapa Sulit Sekali Berhenti Scrolling?
Pernah merasa sebenarnya sudah bosan melihat media sosial, tetapi tangan masih terus menggulir layar?
Salah satu alasannya berkaitan dengan desain platform digital itu sendiri. Banyak aplikasi menggunakan fitur infinite scroll, yaitu sistem yang memungkinkan konten baru terus muncul tanpa pengguna harus berpindah halaman.
Tidak ada halaman terakhir yang memberi tanda bahwa aktivitas membaca atau menonton sudah selesai. Selama layar digulir, konten berikutnya akan terus tersedia.
Selain itu, algoritma media sosial cenderung menampilkan konten berdasarkan aktivitas dan ketertarikan pengguna. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin besar kemungkinan konten serupa kembali muncul.
Hal ini membuat pengguna mudah kehilangan kesadaran terhadap waktu.
Secara psikologis, doomscrolling juga dapat dipicu oleh keinginan untuk memperoleh kepastian. Ketika menghadapi situasi yang tidak menentu, seseorang mungkin terus mencari informasi terbaru dengan harapan dapat merasa lebih tenang.
Namun, pencarian tersebut justru bisa berubah menjadi lingkaran yang melelahkan. Semakin banyak informasi negatif yang ditemukan, semakin besar pula dorongan untuk mencari perkembangan berikutnya.
Artikel Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang diterbitkan pada 15 Januari 2026 turut membahas hubungan antara doomscrolling dan kesehatan mental.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa mengetahui banyak hal tidak selalu berarti kita merasa lebih baik. Ada kalanya terlalu banyak informasi justru membuat pikiran semakin penuh.
No Scrolling Day, Memberi Waktu Istirahat bagi Pikiran
Lalu, apakah solusi terbaik adalah berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya?
Tentu tidak harus demikian.
Media sosial tetap memiliki banyak manfaat, mulai dari mempermudah komunikasi, memperoleh informasi, mengembangkan kreativitas, hingga membuka peluang pendidikan dan pekerjaan.
Persoalannya bukan semata-mata pada teknologi, melainkan bagaimana kita menggunakannya.
Salah satu pendekatan sederhana yang dapat dicoba adalah No Scrolling Day, yaitu menetapkan satu hari tertentu untuk beristirahat dari aktivitas menggulir media sosial yang tidak diperlukan.
Misalnya, kita memilih hari Minggu sebagai hari tanpa scrolling.
Pada hari tersebut, penggunaan media sosial untuk sekadar mencari hiburan tanpa tujuan dapat dikurangi atau dihentikan sementara. Waktu yang biasanya digunakan untuk menatap layar dialihkan ke kegiatan lain yang lebih bermakna.
Tidak perlu melakukan aktivitas yang rumit atau mengeluarkan banyak biaya. Membaca buku yang sudah lama tertunda, melukis, merawat tanaman, memasak, berjalan santai, berolahraga, atau berbincang bersama keluarga bisa menjadi pilihan.
Bahkan, duduk menikmati suasana sore tanpa terus-menerus memeriksa notifikasi juga dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Tujuan No Scrolling Day bukan untuk menjauhkan manusia dari teknologi, melainkan membangun kembali kesadaran bahwa kita memiliki kendali atas waktu dan perhatian sendiri.
Meski demikian, metode ini bukan terapi medis yang terbukti dapat menyembuhkan brain rot. Manfaatnya lebih tepat dipahami sebagai langkah praktis untuk mengurangi penggunaan media sosial berlebihan dan membangun kebiasaan digital yang lebih seimbang.
Jika belum mampu berhenti selama satu hari penuh, tidak masalah untuk memulainya secara bertahap. Misalnya, menetapkan satu hingga dua jam tanpa media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menghindari scrolling sebelum tidur.
Kuncinya adalah konsistensi, bukan kesempurnaan.
Belajar Mengendalikan Layar, Bukan Dikendalikan Layar
Di tengah kehidupan modern yang semakin terhubung dengan teknologi, menghindari media sosial sepenuhnya tentu bukan perkara mudah. Hampir setiap hari ada informasi baru, tren baru, dan berbagai hal menarik yang muncul di layar ponsel.
Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan informasi mana yang layak mendapatkan perhatian.
Tidak semua konten harus ditonton. Tidak semua berita harus diikuti hingga larut malam. Tidak semua tren harus diketahui saat itu juga.
Terkadang, keputusan sederhana untuk meletakkan ponsel merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Mengelola penggunaan media sosial juga berarti belajar menghargai waktu, menjaga kesehatan mental, dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari derasnya arus informasi.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik, bukan membuat manusia kehilangan kendali atas kebiasaannya sendiri.
Jadi, ketika nanti muncul keinginan mengatakan, “Lima belas menit lagi, deh,” coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar masih membutuhkan informasi berikutnya, atau hanya belum terbiasa untuk berhenti?
Sebab, hidup bukan hanya tentang apa yang terus muncul di layar. Ada banyak pengalaman berharga yang menunggu untuk dinikmati di dunia nyata.
Jadi, masih mau membiarkan waktu habis hanya untuk doomscrolling?
Daftar Pustaka
Adam, P. (2026, 15 Januari). Doomscrolling dan dampaknya bagi kesehatan mental. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Nandiwardana, A. (2025, 13 Maret). Brain rot, benarkah otak mengalami pembusukan? Kanal Pengetahuan Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Satici, S. A., Gocet Tekin, E., Deniz, M. E., & Satici, B. (2023). Doomscrolling scale: Its association with personality traits, psychological distress, social media use, and wellbeing. Applied Research in Quality of Life, 18(2), 833–847. DOI: 10.1007/s11482-022-10110-7.
Shabahang, R., Hwang, H., Thomas, E. F., Aruguete, M. S., McCutcheon, L. E., Orosz, G., Hossein Khanzadeh, A. A., Mokhtari Chirani, B., & Zsila, Á. (2024). Doomscrolling evokes existential anxiety and fosters pessimism about human nature? Evidence from Iran and the United States. Computers in Human Behavior Reports, 15, 100438. DOI: 10.1016/j.chbr.2024.100438.
Syakira, N. R., Ifdil, I., & Khairati, A. (t.t.). Analisis doomscrolling pada mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, usia, dan intensitas penggunaan media sosial. Jurnal Konseling dan Pendidikan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda