Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  2. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  3. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  5. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Brain Rot: Ketika Otak Terjebak dalam Doomscrolling

Brain Rot: Ketika Otak Terjebak dalam Doomscrolling

K
Penulis: Khayra Attami
16 Oktober 2026, 03.30 WITA Editor: Rina Maharani
8 menit baca
Midnight Doomscrolling in a Tangled Mind
Ilustrasi seorang perempuan yang menghabiskan waktu menelusuri media sosial hingga larut malam, menggambarkan fenomena brain rot dan doomscrolling. Sumber foto: Ilustrasi AI/JurnalPost.

“Lima belas menit lagi, deh. Habis itu janji langsung taruh HP.”

Pernah mengatakan hal serupa kepada diri sendiri? Niat awalnya hanya ingin melihat beberapa video atau mengecek kabar terbaru di media sosial. Namun, tanpa terasa, lima belas menit berubah menjadi satu jam. Bahkan, ketika akhirnya meletakkan ponsel, kita sering kali tidak benar-benar mengingat apa saja yang baru saja ditonton.

IKLAN

Media sosial memang punya cara tersendiri untuk membuat penggunanya betah berlama-lama. Dalam hitungan detik, kita bisa berpindah dari video lucu ke berita mengejutkan, kemudian melihat kehidupan orang lain, membaca komentar, hingga mengikuti tren yang sedang ramai. Semuanya berlangsung begitu cepat, seolah tidak ada kesempatan bagi pikiran untuk berhenti sejenak.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Sekilas, kebiasaan ini tampak biasa saja. Toh, hampir semua orang melakukannya. Namun, ketika aktivitas menggulir layar atau scrolling mulai sulit dikendalikan, ada dampak yang patut diperhatikan, terutama terhadap konsentrasi, pengelolaan emosi, dan kesehatan mental.

Fenomena tersebut sering dikaitkan dengan istilah brain rot. Lantas, apa sebenarnya brain rot, dan mengapa kebiasaan doomscrolling dapat menjadi salah satu pemicunya?

Brain Rot, Ketika Pikiran Terlalu Banyak Mengonsumsi Konten

Istilah brain rot secara harfiah berarti pembusukan otak. Meski terdengar menyeramkan, istilah ini tidak berarti otak seseorang benar-benar mengalami pembusukan secara fisik.

Dalam artikel yang diterbitkan Kanal Pengetahuan Psikologi Universitas Gadjah Mada pada 13 Maret 2025, brain rot dijelaskan sebagai fenomena yang berkaitan dengan konsumsi konten digital berkualitas rendah secara berlebihan. Istilah ini menggambarkan kekhawatiran terhadap dampak kebiasaan tersebut pada kemampuan berpikir dan kondisi psikologis seseorang.

60091
Baca Juga

Satu Negara, Beragam Pengalaman: Memahami Kesehatan Mental dalam Perspektif Multikultural di Tengah Dinamika Sosial-Politik

Brain rot bukanlah diagnosis medis yang secara otomatis menunjukkan adanya kerusakan otak. Namun, istilah ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi secara berlebihan dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan perhatian dan waktunya.

Bayangkan ketika seseorang terbiasa menonton puluhan video pendek dalam waktu singkat. Setiap video menawarkan sesuatu yang baru, menarik, atau mengejutkan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti membaca buku, mengerjakan tugas, atau menyimak penjelasan dosen, bisa terasa jauh lebih membosankan.

Bukan berarti setiap orang yang sering menonton video pendek pasti mengalami gangguan konsentrasi. Akan tetapi, ketika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sudah saatnya pola penggunaan media sosial dievaluasi.

Persoalan ini cukup relevan bagi generasi muda, terutama Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan membangun identitas diri.

Quiet Moments Beyond the Feed
Baca Juga

Ketika Validasi Orang Lain Menjadi Tolak Ukur Kebahagiaan

Sayangnya, kemudahan mengakses informasi tidak selalu diikuti kemampuan untuk menentukan kapan harus berhenti.

Doomscrolling: Terjebak dalam Guliran Tanpa Akhir

Salah satu kebiasaan digital yang sering dikaitkan dengan fenomena brain rot adalah doomscrolling.

Doomscrolling merupakan perilaku terus-menerus mencari, membaca, atau menelusuri informasi negatif dan mengkhawatirkan melalui media digital, meskipun informasi tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan emosional.

Pernah membuka media sosial untuk mencari satu berita, tetapi justru berakhir membaca berbagai kabar buruk lainnya? Mulai dari bencana alam, konflik, masalah ekonomi, hingga perdebatan di kolom komentar. Meskipun merasa cemas atau lelah, jari seakan tetap ingin menggulir layar untuk mengetahui informasi berikutnya.

Itulah salah satu gambaran doomscrolling.

Dalam praktiknya, pengalaman menggunakan media sosial juga membuat seseorang berhadapan dengan perubahan suasana hati yang begitu cepat. Baru saja tertawa karena melihat video lucu, beberapa detik kemudian merasa sedih akibat berita menyentuh. Tidak lama setelah itu, muncul konten yang memancing kemarahan atau kekhawatiran.

Pergantian emosi seperti ini tidak otomatis merusak sistem saraf. Namun, paparan informasi yang terus-menerus, terutama konten negatif, dapat menambah beban psikologis dan membuat seseorang merasa kewalahan.

Penelitian Satici dan rekan-rekannya (2023) dalam jurnal Applied Research in Quality of Life membahas hubungan doomscrolling dengan tekanan psikologis, penggunaan media sosial, serta kesejahteraan individu.

Sementara itu, penelitian Shabahang dan rekan-rekannya (2024) yang melibatkan responden dari Iran dan Amerika Serikat menemukan keterkaitan antara doomscrolling dengan existential anxiety, yaitu kecemasan yang berhubungan dengan masa depan, makna kehidupan, dan ketidakpastian dunia.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan bukan sekadar persoalan waktu yang terbuang, tetapi juga berkaitan dengan kondisi emosional seseorang.

Mengapa Sulit Sekali Berhenti Scrolling?

Pernah merasa sebenarnya sudah bosan melihat media sosial, tetapi tangan masih terus menggulir layar?

Salah satu alasannya berkaitan dengan desain platform digital itu sendiri. Banyak aplikasi menggunakan fitur infinite scroll, yaitu sistem yang memungkinkan konten baru terus muncul tanpa pengguna harus berpindah halaman.

Tidak ada halaman terakhir yang memberi tanda bahwa aktivitas membaca atau menonton sudah selesai. Selama layar digulir, konten berikutnya akan terus tersedia.

Selain itu, algoritma media sosial cenderung menampilkan konten berdasarkan aktivitas dan ketertarikan pengguna. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin besar kemungkinan konten serupa kembali muncul.

Hal ini membuat pengguna mudah kehilangan kesadaran terhadap waktu.

Secara psikologis, doomscrolling juga dapat dipicu oleh keinginan untuk memperoleh kepastian. Ketika menghadapi situasi yang tidak menentu, seseorang mungkin terus mencari informasi terbaru dengan harapan dapat merasa lebih tenang.

Namun, pencarian tersebut justru bisa berubah menjadi lingkaran yang melelahkan. Semakin banyak informasi negatif yang ditemukan, semakin besar pula dorongan untuk mencari perkembangan berikutnya.

IKLAN

Artikel Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang diterbitkan pada 15 Januari 2026 turut membahas hubungan antara doomscrolling dan kesehatan mental.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa mengetahui banyak hal tidak selalu berarti kita merasa lebih baik. Ada kalanya terlalu banyak informasi justru membuat pikiran semakin penuh.

No Scrolling Day, Memberi Waktu Istirahat bagi Pikiran

Lalu, apakah solusi terbaik adalah berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya?

Tentu tidak harus demikian.

Media sosial tetap memiliki banyak manfaat, mulai dari mempermudah komunikasi, memperoleh informasi, mengembangkan kreativitas, hingga membuka peluang pendidikan dan pekerjaan.

Persoalannya bukan semata-mata pada teknologi, melainkan bagaimana kita menggunakannya.

Salah satu pendekatan sederhana yang dapat dicoba adalah No Scrolling Day, yaitu menetapkan satu hari tertentu untuk beristirahat dari aktivitas menggulir media sosial yang tidak diperlukan.

Misalnya, kita memilih hari Minggu sebagai hari tanpa scrolling.

Pada hari tersebut, penggunaan media sosial untuk sekadar mencari hiburan tanpa tujuan dapat dikurangi atau dihentikan sementara. Waktu yang biasanya digunakan untuk menatap layar dialihkan ke kegiatan lain yang lebih bermakna.

Tidak perlu melakukan aktivitas yang rumit atau mengeluarkan banyak biaya. Membaca buku yang sudah lama tertunda, melukis, merawat tanaman, memasak, berjalan santai, berolahraga, atau berbincang bersama keluarga bisa menjadi pilihan.

Bahkan, duduk menikmati suasana sore tanpa terus-menerus memeriksa notifikasi juga dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Tujuan No Scrolling Day bukan untuk menjauhkan manusia dari teknologi, melainkan membangun kembali kesadaran bahwa kita memiliki kendali atas waktu dan perhatian sendiri.

Meski demikian, metode ini bukan terapi medis yang terbukti dapat menyembuhkan brain rot. Manfaatnya lebih tepat dipahami sebagai langkah praktis untuk mengurangi penggunaan media sosial berlebihan dan membangun kebiasaan digital yang lebih seimbang.

Jika belum mampu berhenti selama satu hari penuh, tidak masalah untuk memulainya secara bertahap. Misalnya, menetapkan satu hingga dua jam tanpa media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menghindari scrolling sebelum tidur.

Kuncinya adalah konsistensi, bukan kesempurnaan.

Belajar Mengendalikan Layar, Bukan Dikendalikan Layar

Di tengah kehidupan modern yang semakin terhubung dengan teknologi, menghindari media sosial sepenuhnya tentu bukan perkara mudah. Hampir setiap hari ada informasi baru, tren baru, dan berbagai hal menarik yang muncul di layar ponsel.

Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan informasi mana yang layak mendapatkan perhatian.

Tidak semua konten harus ditonton. Tidak semua berita harus diikuti hingga larut malam. Tidak semua tren harus diketahui saat itu juga.

Terkadang, keputusan sederhana untuk meletakkan ponsel merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Mengelola penggunaan media sosial juga berarti belajar menghargai waktu, menjaga kesehatan mental, dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari derasnya arus informasi.

Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik, bukan membuat manusia kehilangan kendali atas kebiasaannya sendiri.

Jadi, ketika nanti muncul keinginan mengatakan, “Lima belas menit lagi, deh,” coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar masih membutuhkan informasi berikutnya, atau hanya belum terbiasa untuk berhenti?

Sebab, hidup bukan hanya tentang apa yang terus muncul di layar. Ada banyak pengalaman berharga yang menunggu untuk dinikmati di dunia nyata.

Jadi, masih mau membiarkan waktu habis hanya untuk doomscrolling?


Daftar Pustaka

Adam, P. (2026, 15 Januari). Doomscrolling dan dampaknya bagi kesehatan mental. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Nandiwardana, A. (2025, 13 Maret). Brain rot, benarkah otak mengalami pembusukan? Kanal Pengetahuan Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Satici, S. A., Gocet Tekin, E., Deniz, M. E., & Satici, B. (2023). Doomscrolling scale: Its association with personality traits, psychological distress, social media use, and wellbeing. Applied Research in Quality of Life, 18(2), 833–847. DOI: 10.1007/s11482-022-10110-7.

Shabahang, R., Hwang, H., Thomas, E. F., Aruguete, M. S., McCutcheon, L. E., Orosz, G., Hossein Khanzadeh, A. A., Mokhtari Chirani, B., & Zsila, Á. (2024). Doomscrolling evokes existential anxiety and fosters pessimism about human nature? Evidence from Iran and the United States. Computers in Human Behavior Reports, 15, 100438. DOI: 10.1016/j.chbr.2024.100438.

Syakira, N. R., Ifdil, I., & Khairati, A. (t.t.). Analisis doomscrolling pada mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, usia, dan intensitas penggunaan media sosial. Jurnal Konseling dan Pendidikan.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/brain-rot-ketika-otak-terjebak-dalam-doomscrolling/98212/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.58 WITA

  • #Doomscrolling
  • #Generasi Z
  • #Kesehatan Mental
  • #Teknologi
  • #brain rot
  • #media sosial
  • #psikologi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Pilihan Editor

  1. 1 Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital
  2. 2

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  3. 3

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  4. 4

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  5. 5

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.