Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. 8.000 WNI Memilih Melepas Kewarganegaraan: Apa yang Sedang Dicari?

8.000 WNI Memilih Melepas Kewarganegaraan: Apa yang Sedang Dicari?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
09 Juli 2026, 19.15 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Rohaisah

Oleh: Rohaisah Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina

JurnalPost.com - Perbincangan mengenai hampir 8.000 permohonan pelepasan kewarganegaraan Indonesia kembali menjadi perhatian publik. Data tersebut memunculkan berbagai tanggapan, mulai dari kekhawatiran hingga perdebatan mengenai rasa nasionalisme. Namun, sebelum menarik kesimpulan, fenomena ini sebaiknya dipahami secara lebih utuh. Di balik setiap keputusan berpindah kewarganegaraan terdapat latar belakang dan pertimbangan yang berbeda-beda.

IKLAN

Keputusan seseorang untuk melepas kewarganegaraan tidak selalu berarti kehilangan rasa cinta terhadap Indonesia. Banyak warga yang telah lama tinggal di luar negeri harus menyesuaikan status kewarganegaraannya karena pekerjaan, pendidikan, keluarga, atau aturan negara tempat mereka menetap. Di era global, mobilitas masyarakat semakin tinggi sehingga pilihan hidup pun semakin beragam. Kondisi tersebut membuat perpindahan kewarganegaraan menjadi salah satu konsekuensi yang tidak selalu dapat dihindari.

614314c8bda99
Baca Juga

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Meski demikian, angka hampir 8.000 permohonan tetap layak menjadi bahan evaluasi. Pemerintah perlu melihatnya bukan hanya sebagai data administrasi, tetapi juga sebagai masukan mengenai harapan masyarakat. Ketika sebagian warga menilai peluang karier, kualitas layanan publik, atau kepastian masa depan lebih menjanjikan di negara lain, berarti ada ruang yang masih dapat diperbaiki di dalam negeri. Refleksi semacam ini penting agar Indonesia mampu mempertahankan talenta terbaiknya.

IKLAN

Fenomena tersebut mengingatkan pada ramainya tagar #KaburAjaDulu yang sempat menjadi perbincangan luas di media sosial. Saat itu banyak warganet mengungkapkan keinginan mencari kesempatan hidup yang dianggap lebih baik di luar negeri. Kini, setelah muncul pemberitaan mengenai ribuan permohonan pelepasan kewarganegaraan, diskusi serupa kembali mengemuka. Walaupun keduanya tidak dapat disamakan secara langsung, keduanya memperlihatkan adanya kegelisahan sebagian masyarakat mengenai pekerjaan, biaya hidup, dan masa depan.

Dari sudut pandang komunikasi, setiap keresahan publik merupakan pesan yang patut didengar. Dalam Situational Crisis Communication Theory (SCCT), kepercayaan publik dapat menurun apabila berbagai persoalan terus berkembang tanpa diikuti komunikasi yang mampu menjawab harapan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya perlu memberikan penjelasan melalui data, tetapi juga membuka ruang dialog dan menunjukkan langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat. Komunikasi yang baik bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga membangun rasa percaya.

Pada akhirnya, mempertahankan warga negara bukan hanya soal aturan kewarganegaraan. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang memberi kesempatan untuk berkembang, bekerja, dan merencanakan masa depan dengan optimistis. Fenomena hampir 8.000 permohonan pelepasan kewarganegaraan seharusnya dipandang sebagai momentum untuk berbenah, bukan sekadar angka statistik. Semakin besar kepercayaan masyarakat terhadap negaranya, semakin kuat pula alasan mereka untuk tetap berkarya dan membangun masa depan di Indonesia.

98 Tahun Sumpah Pemuda dan Potret Bela Negara Para Pemuda
Baca Juga

98 Tahun Sumpah Pemuda dan Potret Bela Negara Para Pemuda

Rohaisah

Oleh: Rohaisah Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/8-000-wni-memilih-melepas-kewarganegaraan-apa-yang-sedang-dicari/95627/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.56 WITA

  • #Kewarganegaraan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang
  2. 2

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  3. 3

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.