Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Burnout Dampak Tekanan Akademik Mahasiswa

Burnout Dampak Tekanan Akademik Mahasiswa

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
07 Mei 2026, 00.37 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Burnout

Oleh: Putri Susila Wahyudi, Mahasiswa Fakultas Kedokteran.

JurnalPost.com - Kesehatan mental mahasiswa seringkali hanya dibicarakan sebagai isu sampingan, padahal persoalan ini sangat nyata di lingkungan kampus. Di media sosial, mahasiswa kerap digambarkan sebagai sosok produktif yang aktif mengikuti organisasi, lomba, magang, hingga berbagai kegiatan akademik lain. Standar “mahasiswa ideal” perlahan terbentuk: sibuk, berprestasi, dan mampu mengerjakan semuanya sekaligus. Sayangnya, di balik tuntutan itu, banyak mahasiswa justru hidup dalam tekanan yang terus menumpuk tanpa benar-benar memiliki ruang untuk berhenti sejenak.

IKLAN

Tekanan akademik menjadi salah satu sumber utama masalah kesehatan mental mahasiswa. Jadwal kuliah yang padat, tugas dengan tenggat berdekatan, tuntutan nilai tinggi, hingga persaingan antarmahasiswa sering kali membuat proses belajar kehilangan makna. Kuliah tidak lagi dipandang sebagai ruang untuk berkembang dan menambah ilmu, melainkan sekadar upaya bertahan agar tidak tertinggal dan memenuhi ekspektasi banyak orang. Dalam kondisi seperti itu, rasa lelah bukan hanya muncul secara fisik, tetapi juga emosional dan mental (burnout). Banyak mahasiswa tetap memaksa diri bekerja meskipun tubuh dan pikirannya sudah berada di batas kemampuan.

Mother and Child Workspace Moment
Baca Juga

Bisnis Laris atau Ibu Kelelahan: Akankah Work-Life Balance dan Risiko Burnout Menentukan Keberlanjutan Usaha Mompreneur?

Fenomena burnout di kalangan mahasiswa bukan lagi persoalan sepele. Burnout membuat seseorang merasa kehabisan energi, kehilangan motivasi, dan sulit menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai. Dampaknya terlihat dari menurunnya konsentrasi, produktivitas, hingga kualitas hubungan sosial. Ironisnya, kelelahan seperti ini sering dianggap normal dalam kehidupan perkuliahan. Kalimat seperti “namanya juga mahasiswa” atau “capek itu biasa” justru membuat banyak orang menganggap tekanan mental sebagai hal yang harus diterima begitu saja.

Data menunjukkan bahwa persoalan burnout memang serius. Survei kesehatan mental mahasiswa Universitas Negeri Surabaya pada 2024 terhadap 1.219 responden menunjukkan bahwa 21,9% mahasiswa berada pada tingkat gangguan mental berat, sementara 43,5% berada pada kategori sedang. Temuan lain dalam Global Student Survey 2025 menunjukkan bahwa 56% mahasiswa Indonesia mengalami burnout akademik dan 60% mengalami kurang tidur akibat tekanan perkuliahan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kelelahan mental di kalangan mahasiswa bukan sekadar keluhan individu, melainkan masalah yang dialami banyak orang secara bersamaan.

IKLAN

Budaya produktivitas berlebihan ikut memperparah kondisi tersebut. Banyak mahasiswa dan orang di sekitarnya masih menganggap bahwa mahasiswa yang hanya kuliah lalu pulang (sering disebut “kupu-kupu”) sebagai mahasiswa yang kurang aktif atau “cupu”. Akibatnya, muncul tekanan untuk selalu terlihat sibuk agar dianggap berhasil dan hebat. Pada akhirnya, banyak mahasiswa akhirnya mengambil terlalu banyak tanggung jawab sekaligus, seperti mengikuti organisasi, kepanitiaan, perlombaan, magang, bahkan pekerjaan sampingan. Dalam kondisi seperti ini, istirahat sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bersalah ketika memilih tidur lebih awal atau menolak kegiatan tambahan. Tanpa disadari, lingkungan kampus ikut membentuk budaya yang memuji kesibukan, tetapi kurang memperhatikan kondisi psikologis mahasiswa itu sendiri.

Di sisi lain, kurangnya dukungan sosial juga menjadi persoalan penting. Banyak mahasiswa merasa kesulitan mencari tempat bercerita karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi tekanan. Sebagian keluarga hanya melihat hasil akhir berupa nilai dan prestasi tanpa memahami proses yang dijalani selama kuliah. Lingkungan pertemanan juga tidak selalu menjadi ruang yang aman. Akibatnya, mahasiswa sering memilih memendam masalah sendiri hingga kondisi mental mereka semakin memburuk.

Late Night Office Hustle
Baca Juga

Lembur Bukan Dedikasi: Ketika Kerja Kehilangan Makna

Selain itu, stigma terhadap kesehatan mental membuat keadaan menjadi lebih rumit. Sampai sekarang masih ada anggapan bahwa mencari bantuan psikologis adalah tanda kelemahan. Padahal, kesehatan mental seharusnya dipandang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Seseorang yang mengalami burnout atau stres berat tidak bisa hanya diminta untuk “lebih semangat” tanpa adanya dukungan yang nyata. Kampus juga sering kali belum sepenuhnya menyadari bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan fasilitas akademik, tetapi juga lingkungan yang lebih manusiawi.

Menurut saya, persoalan kesehatan mental mahasiswa tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan untuk “pandai mengatur waktu”. Masalah ini berkaitan dengan budaya akademik yang terlalu menekankan pencapaian tanpa memperhatikan batas kemampuan manusia. Kampus perlu menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan benar-benar responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Dosen juga perlu memahami bahwa setiap mahasiswa memiliki kapasitas yang berbeda. Sementara itu, mahasiswa sendiri perlu belajar menerima bahwa beristirahat bukan berarti gagal atau tidak produktif.

Pada akhirnya, kuliah seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh, bukan tempat yang perlahan menguras kesehatan mental seseorang. Prestasi memang penting, tetapi kesehatan diri tetap harus menjadi prioritas. Tidak ada pencapaian akademik yang layak dibayar dengan hilangnya ketenangan hidup. Jika lingkungan kampus terus memelihara budaya “harus kuat” tanpa memberi ruang untuk pulih, maka burnout akan terus dianggap biasa, padahal dampaknya bisa sangat serius bagi masa depan mahasiswa.

Referensi 1. Subdirektorat Mitigasi Crisis Center Universitas Negeri Surabaya (SMCC UNESA). (2024). Statistik Kesehatan Mental Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Tahun 2024. Diakses dari: SMCC UNESA 2. Chegg. (2025). Global Student Survey 2025.

Guru 1
Baca Juga

Merawat Asa, Menjaga Batas Diri

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/burnout-dampak-tekanan-akademik-mahasiswa/92826/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.36 WITA

  • #Burnout

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Pilihan Editor

  1. 1 Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan
  2. 2

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  3. 3

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  4. 4

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  5. 5

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.