Karya: Khairani Amalina
JurnalPost.com - Masih terasa hangatnya ingatan yang dulu pernah ada dalam kehidupan ini, indahnya membuat lupa akan rasa sakit tanpa bisa dihentikan, terlena dalam kenyamanannya hingga lupa untuk siap akan masa depan yang tak tau arahnya. Aku masih berdiri menatap jalan yang dipenuhi genangan air karena sisa-sisa hujan semalam. Menghela nafas lelah akan semuanya, berjalan pergi meninggalkan jalan menuju rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang.
Saat memasuki rumah aku disambut dengan kata-kata menusuk hati, mengikis kewarasan perlahan tapi pasti.
Ia mengatakan “Dek mama capek dengan ayahmu itu, kerja gak masuk, pulang jarang, sekali pulang cuman buat beradu mulut dengan mama.” Aku terdiam sebentar mencerna kata-kata yang tidak ingin kudengar.
“Ma, seharusnya mama enggak beritau ke aku dan anak-anak mama yang lain keluh kesah mama, mama kan bisa ngomong baik-baik sama ayah. Aku cape ma baru pulang kerja bukannya disuruh istirahat tapi malah disambut dengan keluhan mama.”ujarku.
Mendengar ucapanku raut wajah mama berubah menahan amarah “ Seharusnya kamu tau kan kalau sama kalian mama bisa cerita, masa dengan mama mengeluh sama kalian, kalian malah gak suka. Ayah mu itu engga bisa diajak bicara karena dia udah kekeh dengan pemikirannya yang dangkal itu. Udahlah cape mama bicara denganmu seharusnya kamu mendukung mama bukan malah sok menasehati.” Ucap mama masuk kamar meninggalkan ku sendiri di depan pintu.
Tanpa pikir panjang aku berjalan memasuki kamar merebahkan diri, memejamkan mata merenungi perkataan mama dan semua hal yang menyesakan dada. Aku mengingat dulu bahagianya hidup kami, berada pada masa kejayaan disaat dia masih bersama kami sebelum tergoda dengan kenikmatan dunia.
Dulu saat hidup kami masih jaya betapa mudahnya kehidupan, hidup seperti apa pun terasa menyenangkan karena kebersamaan. Namun, sekarang hilang entah kemana semuanya pergi menyisakan luka perih yang membekas hingga kini. Ingin menghilang pergi tanpa Kembali melupakan semua ini. Tapi kemana aku bisa pergi? Tak ada satupun yang memihak diri ini, kemanapun ku pergi sesak menghampiri. Aku menangis tanpa suara ingin mengatakan semuanya tapi tak bisa. Setiap malam rasa sakit menghampiri perlahan menghancurkan diri ini. Lelah batin dan tubuh ini tak lagi terasa.
Menyakiti diri seolah semua ini dapat terhapuskan, mengapa masih menyakitkan?sesak rasanya memikirkan semua hal yang seharusnya tak pernah kualami. Haruskah aku hidup seperti ini? Tak adil rasanya hidupku dihujani rasa yang tak pernah kuinginkan.
Di tempat kerja pun aku juga tak bisa tenang, mencari pundi-pundi rupiah sulit rasanya melihat orang tak suka melihat ku, tapi aku bisa apa? Mereka yang mengatur apa pekerjaanku, aku tak bisa membantah menuruti semua yang disuruhnya, ia mempunyai jabatan yang tinggi, tanpanya aku sedikit mendapatkan uang.
Sebelum aku mendengar keluh kesah mama, aku juga diabaikan oleh orang diatasku. Ia tak mengaturk, membiarkan aku kerja sendiri. Karena itu aku lelah pulang dari kerja. Bukannya istirahat tapi aku malah dihadapi dengan masalah rumah tangga orangtuaku yang tak ingin ku ketahui. Seharusnya mama megerti keadaanku, menanyakan kabarku ataupun menyuruh ku istirahat, bukannya mengajakku bertengkar.
Kala itu disaat mama masih bersama papa masih ada papa yang membelaku, menenangkanku disaat aku butuh sesorang di sampingku. Walaupun papa sering tidak pulang karena pekerjaannya tapi papa tetap mengusahakan untuk bertemu denganku. Tapi sekarang semuanya berubah papa tidak lagi bersamaku, papa lebih memilih orang asing yang baru sebentar masuk ke dalam kehidupannya.
Nada dering dari ponsel membuatku kembali kedunia nyata. Aku melihat nama di layar ponsel ku yaitu nama sahabatku salah satu penyemangat disaat aku dalam kesendirian. Sebelum mengangkat panggilan aku menghapus air mataku, berdehem untuk menghilangkan serak suaraku agar sahabatku tidak menyadari bahwa aku habis menangis.
“Halo Vi, aku lagi di rumah nih. Besok libur tidak?, mau ketemu aku” ujar sahabatku setelah aku angkat panggilannya.
“Mau kemana emangnya,” Aku mengatakannya seraya menenangkan diri setelah menangis.
“ Suara kamu kenapa berubah Vi? Ada masalah dirumah? Coba cerita siapa tau nanti kamu bisa lebih tenang”.
Aku menjawab “ Gapapa, aku cuman rindu papa, mau ketemu papa, lelah aja disini.”
“Kamu mau ketemu papa? besok aku jemput kita ketemu papa kamu seraya kita keluar mencari udara baru, aku ga tega liat kamu sedih terus-terusan.”
“Aku cape disini Ra, cape disalahin sama orang-orang disini, dunia jahat banget sama aku.” Ucapku mengeluarkan apa yang kurasakan.
“Vi bukan begitu, orang-orang itu ga jahat cuman mereka ga tau cara bersikap lebih baik. Kamu ga boleh bicara seperti itu, masih ada aku yang akan selalu ada buatmu, aku bakal usahain buat sering pulang kerumah, biar nanti kita pergi kemana aja sama-sama. Aku temanin kalo kamu lagi butuh seseorang untuk menemani kamu.” Sahabatku berkata seraya menenangkan aku dari rasa sedih.
Seolah tau apa yang kurasakan sahabatku selalu mengusahakan untuk membuatkan tidak teringat dengan rasa sakit yang kurasakan.
“Iya, aku mau pergi dari sini. Menenangkan diri, melupakan semua yang ada di pikiranku. Aku berharap nanti menemukan rumah yang nyaman untuk ku bisa pulang” Ujarku kepada sahabatku.
Sahabatku membalas“Aku mengharapkan hal yang sama untukmu, menemukan rumah yang benar-benar jadi tempat pulang untukmu. Tapi kalau tidak ketemu kamu bisa mencariku, aku akan selalu ada untukmu, membantumu jika kamu dalam kesulitan karna kamu sahabatku. Nah besok kita kita ke rumah papamu dulu katanya kamu rindu sama papa kamu.”
“Iya mau ketemu papa,” ucapku kepada sahabatku.
“Sekarang istirahat dulu, tenangin pikiran kamu, jangan memikirkan banyak hal, mereka ga pantes kamu khawatirin sekarang.” Ujar sahabatku.
“Aku istirahat dulu.” ucapku sekaligus mengakhiri percakapan dengan sahabatku.
Mungkin aku lelah dengan semuanya, berharap jika bertemu orang yang telah menyakiti bisa mengurangi luka yang telah lama terpendam, karena sejauh apapun aku pergi ikatan darah tak akan pernah terhapus walaupun menyakitkan melihat orang yang dulu menyanyangi kita berubah dalam sekejap tanpa bisa dihentikan. Sekarang aku berserah pada takdir kemana membawaku pergi. Membawaku pergi dari kelamnya tarian takdir.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda