Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Cerpen: Senja di Pulau Sunyi

Cerpen: Senja di Pulau Sunyi

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
22 Oktober 2025, 20.49 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Senja di Pulau Sunyi

Karya : Nurma Indah

JurnalPost.com - Julian menatap jendela bus yang berembun oleh sisa hujan dini hari. Suara klakson bersahutan, motor saling serobot, dan baliho besar yang berkilauan di antara gedung tinggi terasa seperti potret yang menyesakkan. Ia tidak tahu sejak kapan kota—yang dulu menjadi simbol impian—berubah menjadi tempat yang menenggelamkan dirinya perlahan.

IKLAN

Sudah berbulan-bulan ia merasa asing di tengah rutinitasnya sendiri. Bangun pagi, mengejar rapat, menatap layar komputer seharian, lalu pulang larut malam ke apartemen yang terlalu rapi dan terlalu sepi. Di kalender kerja, ada satu kolom yang belum terisi: “cuti.” Dan hari itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Julian menekan tombol “izin libur.”

Buku Antologi Cerpen
Baca Juga

IPAB Luncurkan Buku Antologi Cerpen ke-10: “Biru Langitku, Hijau Bumiku”, Warnai Semangat Literasi Lintas Generasi

Ia tidak memberi tahu siapa pun. Tidak teman kantornya, tidak juga ibunya di kampung. Hanya satu pesan pendek yang ia kirim ke rekan kerjanya: “Aku butuh jeda.”

Pulau kecil itu bahkan tidak ada di peta turis. Namanya Pulau Nara, hanya bisa ditempuh dua jam naik kapal dari pelabuhan di kota pesisir. Penduduknya sedikit, dan sebagian besar hidup dari hasil laut. Julian menemukannya secara tak sengaja, dari unggahan seorang fotografer di media sosial. Foto pasir putih dan air biru bening itu tampak seperti janji akan ketenangan yang selama ini ia cari.

Begitu menjejakkan kaki di dermaga kayu, Julian merasa napasnya sedikit lega. Angin asin laut menyentuh kulitnya, suara deburan ombak berpadu dengan teriakan anak-anak yang berlarian membawa jaring kecil. Tak ada suara klakson, tak ada getar ponsel yang menuntut balasan cepat. Hanya laut yang luas, dan waktu yang berjalan pelan.

Penginapan kecil di tepi pantai menjadi tempatnya beristirahat. Pemiliknya, seorang pria tua bernama Pak Agus, menawarkan kamar dengan jendela menghadap laut. Di malam pertama, Julian duduk di balkon, menatap garis horizon yang mulai gelap. Ia memejamkan mata, membiarkan suara ombak menjadi lagu pengantar tidur. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tertidur tanpa mimpi tentang pekerjaan.

Garis Warna
Baca Juga

Cerpen: Garis Warna-warni di Ujung Papan Tulis

Pagi berikutnya, Julian membawa kameranya berjalan di sepanjang pantai. Ia suka memotret, meski hanya sekadar hobi. Namun kali ini, bukan untuk diunggah ke media sosial, melainkan sebagai cara untuk mengingat kembali rasa kagum pada dunia yang sederhana. Ia memotret perahu nelayan, bekas jejak kaki di pasir, juga seekor burung camar yang melayang di atas ombak.

Lalu, ia melihat seseorang.

Di ujung pantai, seorang perempuan sedang berdiri di air setinggi lutut, menatap laut dengan wajah teduh. Rambutnya dibiarkan terurai, diterpa angin. Ia mengenakan gaun sederhana warna biru muda, dan di tangannya ada selembar buku catatan yang tampak basah di ujungnya. Cahaya pagi menyentuh wajahnya lembut, membuatnya tampak seperti bagian dari laut itu sendiri.

Julian tidak tahu mengapa langkahnya terhenti. Ia tidak berniat mengganggu, tapi matanya sulit berpaling. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu—bukan sekadar keindahan, tapi semacam kedalaman, seperti ombak yang menyimpan banyak rahasia.

Cerpen
Baca Juga

Cerpen: Meninggalkan Bayangan

Perempuan itu menoleh sekilas, menyadari kehadirannya. Tatapan mereka bertemu, hanya sekejap, tapi cukup membuat dada Julian bergetar aneh. Ia buru-buru menunduk, pura-pura memeriksa kameranya. Saat ia menengadah lagi, perempuan itu sudah berjalan menjauh, meninggalkan jejak kaki di pasir yang perlahan terhapus air.

Hari-hari berikutnya, Julian mulai mengenal ritme pulau itu. Pagi ia berjalan di pantai, siang membantu nelayan menarik jaring, malam duduk di warung kecil menikmati teh hangat. Tapi tanpa ia sadari, setiap langkahnya selalu membawa harapan kecil: bertemu lagi dengan perempuan itu.

Harapan itu terwujud pada hari keempat.

Ia sedang memotret bunga liar di tepi tebing ketika mendengar suara lembut di belakangnya. “Hati-hati, tanahnya rapuh.” Julian menoleh—dan di sana, berdiri perempuan yang sama.

“Kamu tinggal di sini?” tanya Julian, suaranya sedikit gugup.

Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. “Namaku Nai. Aku lahir di pulau ini. Kamu turis, ya?”

Julian tertawa pelan. “Mungkin lebih tepatnya… orang kota yang sedang melarikan diri.”

Nai tersenyum, lalu duduk di atas batu, menatap laut yang bergemuruh di bawah tebing. “Kadang orang datang ke sini karena ingin menemukan sesuatu. Kadang juga karena ingin melupakan.”

“Kalau kamu?” tanya Julian.

“Aku menulis,” jawabnya. “Tentang laut, orang-orang yang datang dan pergi, juga tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.”

IKLAN

Julian menatap buku catatan di tangannya, lalu tersenyum. “Aku sempat melihatmu waktu itu, di pantai. Kau menulis sambil menatap laut.”

Nai tertawa kecil. “Aku menulis tentang laut, jadi kadang aku harus menatapnya lama-lama agar dia mau bercerita.”

Hari-hari setelah itu berubah menjadi kisah yang tidak direncanakan. Julian dan Nai sering bertemu—kadang di warung kopi kecil tempat nelayan berkumpul, kadang di pantai saat senja turun. Mereka bicara tentang hal-hal sederhana: tentang mimpi, masa kecil, dan perasaan yang sulit dijelaskan.

Julian mulai bercerita tentang hidupnya di kota—tentang rapat tanpa akhir, tekanan, dan rasa hampa yang datang tanpa alasan. Nai mendengarkan dengan tatapan yang tenang, seperti laut yang selalu sabar menampung setiap gelombang.

“Kau tahu, Nai,” kata Julian suatu sore, “aku datang ke sini untuk lari. Tapi entah kenapa, justru di sini aku merasa seperti menemukan sesuatu yang hilang.”

Nai menatapnya lama. “Mungkin karena di sini kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa. Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri.”

Kata-kata itu sederhana, tapi menggema lama di kepala Julian.

Malam itu, mereka duduk di tepi pantai. Bulan separuh memantulkan cahayanya ke air yang tenang. Nai membawa gitar tua dan memetik beberapa nada pelan. Suaranya lembut, seperti bisikan angin.

“Lagu apa itu?” tanya Julian.

“Lagu yang belum selesai,” jawab Nai sambil tersenyum. “Aku menulisnya untuk seseorang yang belum kukenal.”

Julian menatapnya, dan di dada muncul sesuatu yang sulit diungkapkan. Mungkin rasa rindu, tapi untuk sesuatu yang baru akan dimulai. Ia ingin mengatakan bahwa mungkin orang itu kini duduk di sampingnya. Namun ia hanya tersenyum, membiarkan angin malam membawa kata-kata yang belum sempat lahir.

Waktu berjalan cepat. Seminggu di pulau terasa seperti sekejap. Hari terakhirnya tiba tanpa permisi. Saat matahari naik, Julian berdiri di dermaga dengan ransel di punggung. Kapal kecil sudah siap berangkat. Nai datang membawa bungkusan kecil—sebuah buku catatan dengan sampul cokelat muda.

“Untukmu,” katanya. “Aku sudah menulis sesuatu di dalamnya.”

Julian membuka halaman pertama. Tertulis dengan tinta hitam: ‘Kadang, laut tidak menyembuhkan luka. Tapi ia memberi kita ruang untuk memahami rasa sakitnya.’

Ia menatap Nai, mencoba tersenyum. “Terima kasih. Aku tidak tahu harus bilang apa.”

“Tidak perlu bilang apa-apa,” jawab Nai lembut. “Kalau suatu hari kamu kembali, aku mungkin masih di sini, menulis dan menunggu laut bercerita lagi.”

Julian mengangguk. Kapal mulai bergerak, perlahan menjauh dari dermaga. Nai melambaikan tangan, dan untuk beberapa saat, hanya ada jarak yang tumbuh di antara mereka—jarak yang tidak menyakitkan, tapi juga tidak bisa dihapus.

Beberapa bulan kemudian, Julian kembali bekerja di kota. Tapi kali ini ia tidak lagi terburu-buru. Ia mulai menulis—bukan laporan, melainkan catatan kecil tentang laut, tentang pertemuan, dan tentang seseorang yang mengajarinya arti diam.

Di dinding apartemennya, tergantung foto laut biru dengan tulisan kecil di bawahnya: Pulau Nara, tempat aku berhenti berlari.

Setiap kali lelah, Julian membuka buku pemberian Nai. Di halaman terakhir, ia menemukan tulisan kecil yang sebelumnya belum sempat ia baca: “Jika laut mempertemukan kita, biarlah waktu yang menentukan apakah ia akan membawa kita kembali.”

Julian tersenyum, lalu menatap langit dari jendela. Di kejauhan, samar-samar ia bisa mendengar suara ombak dalam ingatannya.

Dan entah mengapa, malam itu, kota terasa sedikit lebih tenang.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/cerpen-senja-di-pulau-sunyi/87221/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.44 WITA

  • #Cerpen

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting
  2. 2

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.