JurnalPost.com - Matahari dikampung tak pernah lagi disambut dengan kebisingan kota melainkan bunyi suara ayam berkokok. Udara pagi membuat tetesan embun dari seng rumah . Arga membuka jendela kamarnya agar udara segar masuk. Namun dari kamarnya terdengar suara ibu yang sedang batuk dan tiada henti. Rumah mereka terletak di pinggiran Kota Padang. Rumah mereka sangat sederhana, dengan atap seng, dan dinding semen kasar.
Dahulu, Arga sekeluarga tinggal di Jakarta, mereka tinggal dirumah mewah dan sekaligus tempat usaha mereka. Tapi semuanya berbah, orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Perceraian tersebuat menimbulkan dampak buruk bagi Arga dan keluarga, rumah dijual, dan mereka pulang ke Padang dengan membawa tabungan yang tidak banyak. Mereka berencana untuk membuat usaha baru lagi namun semuanya gagal, karena persaingan dunia bisnis yang bagitu keras.
Arga merupakan Anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya bernama Mira, ia tinggal di Jakarta, karena menikah dengan pria asal Jakarta. Dan kakak keduanya Bernama Damar, ia bekerja di Medan untuk melanjutkan hidupnya. Kini hanya Arga yang tinggal denagn ibunya yang sama-sama terluka, namun harus saling menguatkan. Kini Arya sudah berusia dua puluh tahun. Arga bekerja di Toko Bangunan pak Ade, namun gajinya tak cukup untuk kehidupan mereka berdua.
Ibu sekarang sangat jarang keluar kamar dikarenakan asam lambung. Setiap hari ibunya hanya berdiam dikamar dan enggan untuk bergerak. Terkadang hanya di dalam kamar sepanjang hari untuk rebahan dan bermain handphone. Namun, biaya hidup bukan suatu tantangan bagi Arga. Melainkan ibu mudah tersinggung dan selalu marah-marah sekalipun itu kepada hal kecil.
“Liat tuh si kakak mu si Mira, ia selalu ngasih uang buat Ibu, dan Damar juga sering kok ngasih ke Ibu”
“Kamu kapan bisa kayak mereka? Ini buat makaan aja susah”
Arga hanya terdiam mendengarkan kata Ibu, walaupun hatinya sangan tertusuk denagn ucapan Ibu yang sangat tajam. Ia tahu Ibunya sedang lelah, tapi tetap saja itu sangat menyakitkan. Setiap malam Arga hanya makan sendirian di meja makan, Ibu tidak mau makan bersama Arga. Kadang ibu cuman berkata “Ibu udah kenyang”, padahal Arga tau Ibunya cuman malas.
Setelah berpisah dengan ayah Ibu seperti kehilangan arah. Seakan-akan dunia berhenti pada detik itu juga. Arga masih ingat saat dulu masih Bersama, Ayah sering kali mmebawa cerita hangat dari toko dan disambut dengan makan sore dari Ibu. Tapi kini semuanya telah berubah, mau tidak mau Arga harus bisa meneriman kenyataan pahit ini. Sekarang Arga harus berjuang demi kesembuhan ibunya.
Lebaran tahun ini menjadi bukti betapa sepinya dunia aku dan Ibu. Mira hanya mengirimkan bingkisan lewat JNT, lalu Damar tanpa kabar sama sekali. Ibu terlihat biasa saja, namun malamnya terdengan isak pelan dari kamar ibu. Tangisnya memang pelan tetapi, tetapi menyimpan luka yang begitu dalam.
Suatu malam saat Arga pulang dari bekerja, Arga melihat ibu yang sedang menatapi foto kami berlima. Difoto itu, ada aku, Ayah, Ibu, Kak Mira, dan Kak Damar. Didalam foto itu kami masih kecil dan semuanya tersenyum.
“Ibu kangen masa itu ya?” tanya Arga dengan hangat.
“Iya, Ibu kangen saat kita masih utuh seperti dulu” Jawabnya dengan pelan
Ibu menatap foto itu lama-lama, lalu berkata lagi,
“Kadang ibu samamu bukan karena kamu salah, tapi Ibu takut kamu pergi ninggalin ibu.”
Awalnnya Arga tak menjawab. Ia hanya mendekat dan memeluk Ibu, lalu Ia berkata “Aku nggak bakalan ninggalin Ibu kok Bu”. Namun dalam hati Ia sadar janji ini sangat berat, karena dunia diluar selalu memanggilnya. Dia tak tau apa yang terjadi kedepannya. Dan dia pun tidak ingin meninggalkan ibunya.
Beberapa bulan kemudian hidup Arga perlahan berubah. Di tempat kerjanya sering datang gadis cantik yang bernama Sinta, Sinta pegawai Apotek disebelah tepat kerjanya. Awalnya mereka saling sapa dan ngobrol biasa. Namun, setap sinta datang kesana untuk membeli sesuatu, obrolan mereka semakin berlanjut. Sinta orangnya ramaha, namun punya tawa yang bikin nular.
Suatu hari, Sinta melihat Arga yang sedang bercucuran keringat. “Capek ya?” ujar Sinta. Arga tersenyum “ Lumayan kadang dirumah juga sering berdebat dengan ibu” Sinta tak mengomentarinya. Namun Sinta hanya menepuk bahu Arga. “Kuat ya ga, jangan lupa Bahagia” Kalimat itu ternyata membuat Arga baper. Tanpa disadari, Ia mulai memerhatikan Sinta,kadang-kadang menunggu Sinta keluar.
Suatu malam ibu menegur Arga, namun dengan nada bercanda.
“Tumben pulang malam, jangan-jangan udah punya pacar ya?”
“Hehe, kayaknya sih Bu.”
“Hati-hati, ntar lupa sama Ibu loh.”
Walaupun seperti bercanda, tapi Nampaknya ibu sedang sungguh-sungguh.
“Engga lah Buu, mana mungkin , Ibu kan rumah aku,” jawab Arga.
Ibu tersenyum kecil. “Rumah juga bisa sesak loh” Katanya pelan tetapi menggantung di kepala Arga.
Beberapa minggu kemudian, Arga memberanikan diri memperkenalkan Sinta pada ibunya. Ia takut ibunya sinis, tapi ternyata sambutannya hangat.
“Assalamualaikum Bu, saya Sinta” sapa gadis itu dengan sopan.
“Waalaikumsalam, wah kamu cantik ya, kayaknya baik lagi” kata ibu dengan senyum.
Sore itu, kami banyak ngobrol serta bercanda sambil makan martabak yang dibawakan Sinta. Suasana yang dulunya dingin sekarang telah mencair. Sesekali Ibu pun ikut tertawa. Namun, tak lama setelah itu Sinta pulang. Setelah Sinta pulang, Ibu berkata pelan,
“Anaknya sopan, ramah juga, Ibu suka deh.”
Arga tersenyum, ternyata ibunya juga suka kepada Sinta. Dan diam-diam ibu juga senang melihat Arga tidak sendiri lagi. Akan tetapi Arga teringat kepada sang Kakak yaitu Damar.
Hubungan Arga dengan Damar tidak akrab seperti dulu lagi. Damar jarang memberi kabar, terkadang menelpon itupun dengan suara datar tanpa ekspresi.
“Ga, gimana Ibu?” tanya damar ke Arga.
“Masih sering sakit-sakit Bang”
“Abang belum bisa pulang, banyak kerjaan soalnya”
“Iya, gapapa.”
Seminggu kemudia Damar pulang ke Padang. Namun Damar tidak pulang ke rumah Ibu. Melainkan Damar pulang ke rumah tante. Mendengarkan kabar itu Damar sangat kecewa dan takut Ibu jadi sedih.
“Katanya banyak kerjaan, tapi mala ke rumah orang,” tutur ibu dengan kecewa,
“Mungkin Bang Damar belum siap Bu.”
“Atau dia masih marah sama Ibu,”balasnya pelan.
Ibu menatap langit kamar. “ Ibu dulu juga salah, terlalu mengekang Damar. Tapi siapa sih yang ngajarin Ibu jadi orang tua seperti ini?” Klaimat itu membuat Arga seketika terdiam. Ia sadar, bahwa Ibu bukan tidak mau berubah, melainkan tidak tau bagaimana caranya berubah.
Sore itu hujan panas. Arga dan Ibu sedang duduk di ruang tamu. Angin membawa udara basah dan bunyi tetes air hujan di genting.
“Gaa,” kata Ibu dengan tiba-tiba,
“Ibu minta maaf ya Nak. Kadang Ibu marah karna Ibu takut kehilangan kamu Nak.”
“Gapapa kok Bu, aku tau kok Bu, Ibu cuman mau di perhatiin.”
“Ibu ni aneh ya Ga?”
“Engga Bu, Aneh gimana.”
Mereka berdua tertawa kecil. Tawa sederhana, namaun terasa sangat berharga.
Beberapa bulan kemudian, Damar pulang. Namun, Ia pulang dengan mata sembab, seperti usai, menangis
“Ibu….”Katanya sambil membuka pintu.
“Damar?” suara ibu bergetar.
“Iya Bu, maafin aku ya Bu, aku banyak salah sama Ibu.”
Ibu menatap kedua anak perjakanya itu. Tanpa kata-kata, Ibu langsung memeluk mereka. Melainkan hanya air mata yang berkata.
Malam itu, Adalah malam pertama setelah bertahun tahun lamanya, Mereka makan malam bersama Ibu, Damar dan juga Arga. Lalu Sinta datang membawakan rendang. Rumah Itu Kembali berwarna sepeti dulu lagi. Kebahagiaan yang telah lama hilang kini bisa dirasakan oleh Ibu. Walaupun uang masih pas-pasan, dianding rumah masih kasar, dan atap masih bocor, semuanya terasa lebih ringan apabila semuanya dilakukan bersama.
Ibu sekarang lebih sering duduk di depan televisi, sambil menonton sinetron. Terkadang Sinta juga datang membawakan makanan atau cemilan. Arga tahu bahwa kebahagiaan itu tidak datang dengan tiba-tiba. Ia tumbuh dari hal- kecil seperi, Maaf yang diucapkan, Senyum yang dikembalikan, dan waktu yang diluangkan untuk bersama.
Malam itu, lampu kamar mulai redup.Arga menatap wajah Ibu yang sudah tertidur pulas. Wajah yang dulu selalu murah sekarang tampak ceria Wajah yang duluh penuh keluhan sekarang tampak damai. Di dapur, teh di cangkirnya masih panas. Ia menyeruputnya dengan pelan, lalu berbicara sendiri.
“Rumah ini memang tidak terlalu besar, tetapi rumah ini mengajarkan bagaimana agar aku bisa bertahan”
Hujan sore itu lumayan lama, seperti ingin menghapuskan luka kecil dirumah mereka. Namun kali ini, marah tak ada lagi, luka pun sudah pergi. Hanya tawa kecil dan rasa Syukur yang mengisi hati. Ketikan rembulan dan bintang menembus awan, disanalah hujan mulai reda.
Penulis : Lusi Ikhwana Universitas Negeri Padang
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda