Ditulis oleh: Elsa Salsabila Harsito (231010504441)
Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang
JurnalPost.com - Pelatihan karyawan telah lama menjadi bagian dari agenda rutin banyak perusahaan. Setiap tahun, organisasi mengalokasikan anggaran untuk mengadakan pendidikan dan pelatihan, workshop, seminar internal, maupun berbagai program peningkatan kompetensi lainnya.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering luput dari perhatian: apakah pelatihan tersebut benar-benar mengubah cara karyawan berpikir dan mengambil keputusan dalam pekerjaannya?
Pertanyaan ini menjadi penting karena pengembangan sumber daya manusia (SDM) seharusnya tidak berhenti pada peningkatan keterampilan teknis. Lebih dari itu, pengembangan SDM juga perlu membentuk kemampuan analitis, pola pikir kritis, serta kecakapan dalam menentukan keputusan ketika berhadapan dengan persoalan yang kompleks.
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, perusahaan membutuhkan karyawan yang bukan hanya mengetahui cara mengerjakan suatu pekerjaan, tetapi juga memahami alasan di balik pekerjaan tersebut serta mampu menentukan tindakan yang tepat ketika situasi berubah.
Kesenjangan antara Konsep dan Praktik Pengembangan SDM
Hasibuan (2017) menjelaskan bahwa pengembangan SDM merupakan upaya meningkatkan kemampuan teknis, teoretis, konseptual, dan moral karyawan sesuai kebutuhan pekerjaan maupun jabatan melalui pendidikan dan pelatihan.
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan karyawan memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar mengajarkan keterampilan teknis.
Namun dalam praktiknya, sebagian organisasi masih memandang pelatihan sebagai proses transfer kemampuan teknis. Karyawan diberikan pengetahuan tentang penggunaan perangkat, prosedur, sistem, atau metode tertentu, tetapi tidak selalu dibekali kemampuan untuk menganalisis persoalan dan mengambil keputusan.
Padahal, kemampuan manajerial dan konseptual memiliki peran yang sama pentingnya. Kemampuan tersebut membuat seorang karyawan mampu memahami persoalan secara lebih luas, mempertimbangkan berbagai alternatif, membaca risiko, hingga menentukan keputusan yang paling sesuai dengan kondisi organisasi.
Masalah lainnya muncul dalam proses menentukan kebutuhan pelatihan.
Idealnya, sebuah program pelatihan disusun berdasarkan kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Proses tersebut dikenal sebagai training needs analysis atau analisis kebutuhan pelatihan.
Evaluasi kinerja, analisis pekerjaan, tuntutan jabatan, hingga kebutuhan organisasi seharusnya menjadi dasar sebelum perusahaan menentukan materi dan metode pelatihan.
Namun pada kondisi tertentu, pelatihan justru dilaksanakan sekadar untuk memenuhi agenda tahunan, mengikuti tren, menggunakan anggaran yang tersedia, atau memenuhi kebutuhan administratif.
Akibatnya, pelatihan berisiko kehilangan hubungan dengan persoalan nyata yang dihadapi karyawan di tempat kerja.
Ketika Pelatihan Tidak Mengubah Perilaku Kerja
Pelatihan yang tidak dirancang berdasarkan kebutuhan dapat melahirkan kondisi yang dapat disebut sebagai “karyawan terlatih di atas kertas”.
Karyawan mungkin memiliki banyak sertifikat pelatihan, tetapi pola kerja, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kualitas keputusan yang dihasilkan tidak menunjukkan perubahan berarti.
Simamora (2012) menjelaskan bahwa pengembangan SDM merupakan proses jangka panjang untuk mempersiapkan karyawan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar pada masa mendatang.
Artinya, keberhasilan sebuah pelatihan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, jumlah sertifikat yang diberikan, atau apakah program tersebut berhasil diselenggarakan sesuai jadwal.
Hal yang lebih penting adalah melihat perubahan setelah pelatihan selesai.
Apakah karyawan mampu bekerja lebih efektif? Apakah mereka lebih cepat menyelesaikan masalah? Apakah kesalahan kerja berkurang? Apakah keputusan yang diambil menjadi lebih tepat?
Tanpa evaluasi lanjutan, perusahaan sulit mengetahui apakah investasi yang dikeluarkan untuk pelatihan benar-benar menghasilkan perubahan terhadap kualitas SDM.
Tantangan di Tengah Disrupsi Digital
Kebutuhan terhadap kemampuan berpikir dan mengambil keputusan semakin penting ketika dunia kerja menghadapi transformasi digital, otomatisasi, dan perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Karyawan tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan perangkat atau teknologi tertentu.
Mereka juga harus mampu memahami situasi, menilai risiko, beradaptasi dengan perubahan, serta menentukan tindakan ketika prosedur yang biasa digunakan tidak lagi sesuai dengan keadaan.
Keterampilan teknis dapat berubah seiring perkembangan teknologi. Sebuah aplikasi, perangkat, atau sistem yang digunakan hari ini bisa saja digantikan oleh teknologi baru beberapa tahun kemudian.
Sebaliknya, kemampuan berpikir analitis, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan mengambil keputusan akan tetap dibutuhkan dalam berbagai jenis pekerjaan.
Karena itu, perusahaan perlu mengubah pandangan bahwa pelatihan merupakan kegiatan sekali selesai.
Pengembangan SDM seharusnya berlangsung secara berkelanjutan dan mengikuti perubahan lingkungan bisnis, teknologi, maupun kebutuhan organisasi.
Keberagaman Generasi di Tempat Kerja
Perubahan demografi tenaga kerja juga membuat strategi pengembangan SDM semakin kompleks.
Saat ini, lingkungan kerja dapat dihuni oleh beberapa generasi dengan pengalaman, gaya belajar, cara berkomunikasi, dan harapan karier yang berbeda.
Karyawan dari generasi yang lebih muda, misalnya, cenderung menginginkan proses pengembangan yang lebih personal, relevan dengan pekerjaan, serta memiliki dampak terhadap perkembangan karier.
Kondisi tersebut membuat pendekatan pelatihan yang seragam untuk seluruh karyawan menjadi semakin sulit dipertahankan.
Pratama (2022) menekankan bahwa perencanaan SDM perlu memperhatikan kepentingan organisasi sekaligus aspirasi individu karyawan.
Dengan pendekatan tersebut, program pengembangan tidak hanya ditentukan secara sepihak oleh manajemen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dan potensi setiap individu.
Perusahaan dapat mulai menggeser paradigma dari sekadar “membekali keterampilan” menjadi “membangun kemampuan berpikir dan mengambil keputusan”.
Pelatihan Harus Mendekati Situasi Nyata
Pemilihan metode pelatihan memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan peserta dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Hasibuan (2017) menjelaskan sejumlah metode pengembangan seperti studi kasus (case study), simulasi bisnis (business games), dan role playing.
Metode tersebut memungkinkan peserta menghadapi persoalan yang menyerupai kondisi nyata. Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga harus menganalisis masalah, mempertimbangkan alternatif, berkomunikasi dengan pihak lain, dan menentukan keputusan.
Pendekatan seperti ini dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif dibandingkan metode ceramah satu arah yang menempatkan peserta sebagai penerima informasi.
Selain metode off the job training, pengembangan juga dapat dilakukan langsung di tempat kerja melalui on the job training.
Mutasi jabatan, coaching, pendampingan, pemberian proyek khusus, maupun penugasan sementara dapat memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menghadapi persoalan yang nyata.
Melalui pengalaman tersebut, karyawan belajar bahwa pengambilan keputusan tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.
Mereka harus mempertimbangkan data, risiko, kepentingan organisasi, waktu, hingga dampak keputusan terhadap pihak lain.
Evaluasi Tidak Boleh Berhenti pada Kepuasan Peserta
Tahapan penting lainnya adalah evaluasi.
Pratama (2022) menekankan bahwa pengelolaan SDM yang efektif membutuhkan hubungan antara proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Karena itu, evaluasi pelatihan seharusnya tidak hanya menanyakan apakah peserta merasa puas terhadap materi, pembicara, fasilitas, atau penyelenggaraan program.
Perusahaan perlu melihat dampak pelatihan terhadap perilaku kerja.
Indikatornya dapat berupa berkurangnya kesalahan dalam pekerjaan, meningkatnya kecepatan penyelesaian masalah, membaiknya kualitas koordinasi tim, meningkatnya produktivitas, atau semakin baiknya kualitas keputusan yang dihasilkan.
Dengan indikator yang terukur, perusahaan dapat mengetahui apakah pelatihan benar-benar menghasilkan perubahan atau hanya menjadi kegiatan rutin tanpa dampak yang jelas.
Peran Pemimpin dan Budaya Kerja
Program pelatihan yang baik juga membutuhkan dukungan dari pemimpin dan lingkungan kerja.
Karyawan sulit menerapkan pengetahuan baru apabila setelah kembali dari pelatihan mereka tetap bekerja dalam budaya organisasi yang tidak memberikan ruang untuk berkembang.
Atasan perlu memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mencoba, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan dalam batas kewenangannya, dan belajar dari kesalahan yang masih dapat dikendalikan.
Budaya kerja yang terlalu kaku dan menghukum setiap kesalahan justru dapat membuat karyawan takut mencoba pendekatan baru.
Pada akhirnya, mereka kembali menggunakan cara lama yang dianggap paling aman meskipun telah memperoleh berbagai pengetahuan melalui pelatihan.
Karena itu, pengembangan SDM tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab bagian sumber daya manusia. Atasan langsung dan pimpinan organisasi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan karyawan menerapkan hasil pembelajaran.
Dari Keterampilan Menuju Kapasitas Berpikir
Keberhasilan pengembangan SDM pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa sering perusahaan mengadakan pelatihan.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh pelatihan tersebut mampu mengubah cara karyawan memahami persoalan, berpikir kritis, beradaptasi, serta mengambil keputusan.
Di tengah perubahan dunia kerja yang cepat, perusahaan perlu mengevaluasi kembali pendekatan pengembangan SDM yang selama ini digunakan.
Apakah pelatihan hanya menghasilkan pekerja yang semakin terampil menjalankan prosedur, atau juga membentuk individu yang mampu berpikir ketika prosedur tersebut tidak lagi memberikan jawaban?
Karyawan dengan keterampilan teknis tentu tetap dibutuhkan. Namun, organisasi yang ingin tumbuh secara berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar tenaga kerja yang mampu mengikuti instruksi.
Mereka membutuhkan SDM yang mampu memahami situasi, membaca perubahan, mempertimbangkan konsekuensi, dan menentukan keputusan secara bertanggung jawab.
Investasi terhadap kemampuan berpikir inilah yang dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi daya saing organisasi.
Sebab pada akhirnya, perusahaan bukan hanya membutuhkan orang yang mengetahui bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, tetapi juga orang yang mampu menentukan apa yang harus dilakukan ketika keadaan tidak lagi berjalan sesuai rencana.
Daftar Referensi
Hasibuan, Malayu S.P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Pratama, A. (2022). Manajemen Sumber Daya Manusia (Untuk Pemerintahan dari Teori ke Praktik). Bandung: Penerbit Widina.
Simamora. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Penerbit STIE YKPN.
Teguh, Ambar. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Graha Ilmu.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda