MALANG, JurnalPost.com – Sejumlah siswa sekolah dasar di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, mencoba pengalaman baru saat menggoreskan canting di atas kain putih. Dengan pendampingan mentor, mereka mengikuti pola yang telah dibuat sembari belajar mengenal proses pembuatan batik secara langsung.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam Festival Canting Menari: Membatik Asa Menari Bersama yang digelar Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 180 di Balai Desa Tulusbesar, Kamis (13/8/2026).
Festival melibatkan siswa SD Negeri 1 Tulusbesar dan SD Negeri 2 Tulusbesar sebagai bagian dari program pengenalan sekaligus pelestarian batik kepada generasi muda.
Bagi sebagian peserta, kegiatan itu menjadi pengalaman pertama mengenal proses membatik tidak hanya melalui penjelasan di ruang kelas, tetapi dengan mempraktikkannya sendiri.
Belajar Membatik dari Pola hingga Mencanting
Para siswa mengikuti beberapa tahapan membatik, mulai dari mengenal motif, membuat dan mengikuti pola pada kain, hingga mencoba menggunakan canting dengan malam panas.
Untuk menjaga keamanan sekaligus memastikan teknik yang digunakan sesuai, peserta mendapat pendampingan dari mentor membatik. Mereka diajarkan cara memegang canting, mengatur penggunaan malam, hingga menggoreskannya mengikuti pola.
Koordinator Program Kerja Festival Canting Menari, Rayhan, mengatakan konsep praktik langsung dipilih agar pengenalan batik lebih mudah diterima anak-anak.
“Kami ingin mengenalkan batik bukan sekadar teori di dalam kelas, melainkan lewat pengalaman langsung yang interaktif dan menyenangkan. Melihat adik-adik SD begitu antusias mencoba mencanting untuk pertama kalinya serta bangga menunjukkan hasil karya mereka sendiri menjadi momen yang sangat luar biasa bagi kami,” ujar Rayhan.
Antusiasme terlihat ketika para siswa mencoba mengendalikan canting dan mengaplikasikan malam pada kain. Karya yang telah diselesaikan kemudian dapat dibawa pulang sebagai hasil dari pengalaman mereka belajar membatik.
Bagian dari Program Pelestarian Seni Budaya
Ketua KKN UNS Kelompok 180, Muhammad Daffa Satria Akmaldi, menjelaskan bahwa Festival Canting Menari menjadi bagian dari program pelestarian dan digitalisasi seni budaya di Desa Tulusbesar.
Seni budaya menjadi salah satu dari tiga sektor utama yang menjadi perhatian kelompok KKN tersebut. Dua sektor lainnya adalah pertanian organik serta penguatan usaha mikro masyarakat.
Menurut Daffa, mengenalkan batik sejak usia sekolah dasar dapat menjadi salah satu cara menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya.
“Harapan kami, benih kecintaan terhadap budaya lokal ini tidak berhenti di festival saja. Kami berharap pihak sekolah dapat menindaklanjutinya dengan mengintegrasikan kegiatan membatik ke dalam ekstrakurikuler atau pembelajaran seni berkala, sehingga seni membatik terus lestari di Desa Tulusbesar,” katanya.
Pihak SD Negeri 1 Tulusbesar dan SD Negeri 2 Tulusbesar turut mendukung kegiatan tersebut. Pembelajaran di luar ruang kelas dinilai memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengenal proses berkesenian melalui praktik.
Dokumentasikan Potensi Seni Desa Tulusbesar
Festival Canting Menari merupakan bagian dari rangkaian program KKN UNS Kelompok 180 yang disusun berdasarkan pemetaan potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Tulusbesar.

Desa tersebut memiliki potensi pada sektor kesenian khas Malangan, pertanian dengan beragam komoditas sayuran, serta usaha mikro berbasis industri rumah tangga.
Pada sektor seni budaya, aktivitas latihan maupun pementasan telah dijalankan melalui sanggar dan padepokan seni. Namun, dokumentasi visual serta promosi melalui kanal digital masih menjadi salah satu aspek yang perlu dikembangkan.
Karena itu, selain menggelar Festival Canting Menari, mahasiswa juga membuat video profil kesenian Tari Topeng Malangan dan video profil batik desa sebagai bagian dari dokumentasi serta promosi.
Dalam kegiatan membatik, para peserta diarahkan menyelesaikan satu karya batik tulis sederhana. Dokumentasi berupa foto dan video juga disiapkan agar dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan promosi maupun program pelestarian seni berikutnya.
Program Pertanian hingga Pendampingan UMKM
Selain sektor budaya, KKN UNS Kelompok 180 menjalankan sejumlah program di bidang pertanian.
Kegiatan tersebut antara lain pelatihan pembuatan pestisida organik berbasis bahan alami lokal, pembuatan pupuk organik cair berbahan tetes tebu, serta optimalisasi pekarangan sekolah melalui budidaya sayuran.
Program menyasar anggota Gabungan Kelompok Tani, kader PKK, serta masyarakat yang memiliki ketertarikan pada bidang pertanian.
Peserta mengikuti praktik mulai dari pembuatan sarana produksi organik, pengenceran dosis dan penyemprotan, hingga penyiapan media tanam, penyemaian, dan perawatan tanaman.
Sementara pada sektor usaha mikro, mahasiswa menjalankan pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), literasi keuangan, penyusunan katalog usaha mikro desa, serta sosialisasi kewirausahaan muda dan pemasaran digital.
Pendampingan diarahkan untuk membantu menjawab kebutuhan pelaku usaha terkait legalitas, pencatatan keuangan, promosi, serta pengembangan usaha. Beberapa pelaku usaha juga menyelesaikan proses pendaftaran NIB dengan pendampingan teknis saat program berlangsung.
Secara keseluruhan, program KKN UNS Kelompok 180 diarahkan pada tiga sektor utama, yakni seni budaya, pertanian, dan usaha mikro.
Untuk bidang seni budaya, Festival Canting Menari menjadi salah satu pintu masuk mengenalkan batik kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar. Sementara dokumentasi digital yang dibuat diharapkan dapat membantu memperluas pengenalan potensi seni dan produk lokal Desa Tulusbesar.
Mahasiswa berharap kegiatan pelestarian batik tetap dapat dilanjutkan setelah masa KKN berakhir, baik melalui pembelajaran sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun komunitas seni di desa.
Bagi para siswa yang baru pertama kali memegang canting, kegiatan tersebut bukan hanya kesempatan menghasilkan kain bermotif, tetapi juga pengalaman awal untuk mengenal proses di balik salah satu warisan budaya Indonesia.
Penulis: Cirta Rizky Maulita Aisyah, Dias Tri Nugroho, Ilham Kurnia Sandi, Jhon Frederick Marcelino Nobel, Muhammad Daffa Satria Akmaldi, Muhammad Rayhan, Okta Puspitaloka Setiya Budi, Qeyla Pramudita Putri, Ratna Setyowati, Sehoveni Marianty Sinaga – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda