Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  2. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  3. Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  4. Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  5. Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Barangkali Kita Hanya Takut Tidak Lagi Disukai

Barangkali Kita Hanya Takut Tidak Lagi Disukai

M
Penulis: Mifta Nur Khasanah | Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta
30 Oktober 2026, 14.00 WITA Editor: Galih Prasetyo
5 menit baca
Mifta Nur Khasanah
Mifta Nur Khasanah, Sumber Dokumentasi Penulis

JurnalPost.com - Tidak semua persetujuan lahir dari keinginan. Ada yang terucap karena sungkan, ada yang muncul karena takut mengecewakan, dan ada pula yang sekadar menjadi cara untuk menghindari perasaan tidak nyaman.

Penyesalan memang sering datang belakangan. Ada rasa kesal yang sulit dijelaskan, bukan kepada orang yang meminta bantuan, melainkan kepada diri sendiri yang kembali mengabaikan keinginannya demi menyenangkan orang lain.

IKLAN

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah people pleasing, yaitu kecenderungan untuk mengutamakan keinginan dan kenyamanan orang lain hingga kebutuhan diri sendiri terabaikan. Orang yang mengalaminya kerap dipandang sebagai sosok yang baik, ramah, dan selalu bisa diandalkan. Namun, menjadi "baik" dengan terus-menerus mengorbankan diri sendiri bukanlah bentuk kebaikan yang sehat.

Penelitian terhadap 112 mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori sedang dalam perilaku people pleaser (Zalika & Nisa, 2024).

Mengapa Mengatakan "Tidak" Terasa Begitu Berat?

Sulitnya mengatakan "tidak" terkadang muncul karena rasa takut kehilangan sesuatu, seperti penerimaan, kedekatan, atau citra diri sebagai orang yang baik.

Manusia memang memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung dan diterima dalam hubungan dengan orang lain (Baumeister & Leary, 1995). Kebutuhan tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan muncul ketika kita merasa harus terus mengalah agar hubungan tetap baik-baik saja.

Budaya tempat kita tumbuh turut membentuk cara kita memperlakukan orang lain. Dalam masyarakat Jawa, nilai kerukunan sering diajarkan sejak kecil. Kita dibiasakan untuk tidak menunjukkan keberatan, menghindari perselisihan, dan tidak membuat orang lain kecewa.

Nilai-nilai tersebut pada dasarnya baik. Akan tetapi, kerukunan bisa berubah menjadi beban ketika kedamaian hanya dimaknai sebagai sikap diam, mengalah, dan menahan diri.

Untuk memahami kerukunan secara utuh, penting untuk membedakan antara rukun semu dan rukun esensial. Rukun semu hanya tampak damai di permukaan, padahal di dalamnya masih tersimpan konflik serta ketidakpuasan yang tidak pernah disampaikan.

Sebaliknya, rukun esensial dibangun melalui empati dan kesediaan untuk saling memahami (Lestari et al., 2013).

Ketika kita selalu berkata "iya" hanya supaya tidak ada yang kecewa, yang sedang kita jaga mungkin bukan hubungan yang sehat, melainkan kerukunan yang semu.

Ketika Selalu Mengiyakan Justru Melelahkan

Mengiyakan semua permintaan memang terasa aman untuk sementara. Tidak ada pertengkaran, tidak ada rasa bersalah, dan tidak ada kekecewaan yang harus dihadapi.

Namun, ada harga yang perlahan harus dibayar. Tenaga terkuras, waktu habis untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak kita inginkan, sementara kekesalan terus menumpuk tanpa pernah tersampaikan.

Kebiasaan ini juga dapat membuat hubungan menjadi kurang jujur. Orang lain hanya mengenal kita sebagai sosok yang selalu setuju dan tidak pernah keberatan. Mereka mungkin mengira kita benar-benar bersedia, padahal di balik setiap persetujuan terdapat keinginan yang tidak pernah berani kita sampaikan.

IKLAN

Penelitian tentang self-silencing, yaitu kebiasaan menahan pikiran dan perasaan sendiri demi menjaga hubungan, menemukan adanya kaitan antara kebiasaan tersebut dengan gejala depresi, terutama pada perempuan (Jack & Dill, 1992).

Temuan itu bukan berarti setiap orang yang kesulitan menolak akan mengalami depresi. Namun, hal tersebut menunjukkan bahwa perasaan yang terus dipendam tidak selalu hilang begitu saja. Perasaan itu dapat berkembang menjadi kelelahan emosional, kesepian, atau bahkan kebencian terhadap diri sendiri.

Teori determinasi diri juga menegaskan pentingnya otonomi, yaitu perasaan bahwa pilihan dan tindakan kita benar-benar berasal dari diri sendiri (Ryan & Deci, 2000).

Ketika seseorang terus melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan hanya demi menyenangkan orang lain, ia perlahan dapat kehilangan kesempatan untuk mengenali dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Belajar Menolak Tanpa Merasa Bersalah

Kemampuan menolak bukanlah bakat bawaan. Ia merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih.

Sebuah penelitian terhadap mahasiswa di Surabaya menemukan bahwa konseling kelompok dengan teknik assertiveness training atau pelatihan asertif dapat menurunkan perilaku people pleaser secara signifikan (Arlenia & Farid, 2025).

Jumlah peserta yang terbatas membuat hasil penelitian tersebut perlu dipahami secara hati-hati dan belum dapat digeneralisasi secara luas. Meski demikian, temuan ini menunjukkan bahwa belajar menyampaikan pikiran, kebutuhan, dan batasan diri secara asertif dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kecenderungan selalu menyenangkan orang lain.

Menolak tidak harus dilakukan dengan kasar atau dingin. Kita tetap bisa menyampaikan batasan secara jujur tanpa mengabaikan perasaan orang lain.

Misalnya, dengan mengatakan, "Kayaknya aku belum bisa bantu hari ini. Kalau besok sore, mungkin bisa."

Atau, "Makasih sudah ngajak, tapi aku lagi butuh istirahat."

Kalimat-kalimat sederhana seperti ini mengingatkan kita bahwa menolak sebuah permintaan tidak sama dengan menolak seseorang. Kita hanya sedang mengakui bahwa kebutuhan orang lain bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan.

Bagi seseorang yang baru mulai belajar menolak, munculnya rasa bersalah pada awalnya merupakan hal yang wajar. Perasaan tersebut tidak selalu berarti kita telah melakukan kesalahan. Bisa jadi, rasa bersalah muncul karena kita sedang mencoba meninggalkan kebiasaan lama yang selama ini dianggap sebagai bentuk kebaikan.

Menjadi orang baik tidak berarti harus selalu tersedia untuk semua orang. Kebaikan yang sehat juga memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, menentukan pilihan, dan menyampaikan keberatan.

Pada akhirnya, menjaga hubungan dengan orang lain memang penting. Namun, hubungan yang sehat seharusnya tidak menuntut seseorang untuk terus-menerus mengabaikan dirinya sendiri.

Sebab, "iya" yang lahir dari keinginan akan terasa lebih tulus daripada "iya" yang terucap hanya karena takut mengecewakan.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/barangkali-kita-hanya-takut-tidak-lagi-disukai/98421/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.10 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #asertif
  • #hubungan sosial
  • #kecemasan
  • #pengembangan diri
  • #people pleasing
  • #psikologi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Pilihan Editor

  1. 1 Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian
  2. 2

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. 5

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.