Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  2. Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  3. Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  4. Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

Foto profil Nanda Meifiani Ardelia
Penulis: Nanda Meifiani Ardelia
01 November 2026, 00.57 WITA Editor: Gilang Pamungkas
9 menit baca
Seseorang berbaring di lantai dengan kaki bertumpu pada kursi putar tua, menggambarkan rasa enggan memulai pekerjaan.
Dibuat dengan AI

JurnalPost.com - Pada pukul tujuh malam, seorang mahasiswa membuka laptop dengan niat menyelesaikan tugas kuliahnya. Namun, dua jam kemudian, dokumen yang seharusnya dikerjakan masih kosong. Waktunya justru habis untuk merapikan meja, membuka media sosial, dan membalas pesan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Keesokan paginya, ia hanya bisa menyimpulkan satu hal: “Aku memang malas.”

IKLAN

Namun, benarkah kebiasaan menunda pekerjaan selalu disebabkan oleh kemalasan?

Dalam psikologi, perilaku menunda terkadang berkaitan dengan sesuatu yang lebih kompleks, seperti ketakutan akan kegagalan, kecemasan menghadapi penilaian orang lain, atau tuntutan untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Tanpa disadari, seseorang dapat melakukan tindakan yang justru menghambat tujuan yang ingin dicapainya. Pola perilaku ini dapat berkaitan dengan fenomena yang dikenal sebagai self-sabotage atau sabotase diri.

Menariknya, persoalan ini tidak hanya dapat dipahami melalui psikologi modern. Pemikiran para filsuf seperti Plato, Aristoteles, Søren Kierkegaard, dan Jean-Paul Sartre juga menawarkan sudut pandang untuk memahami konflik antara keinginan, ketakutan, kebebasan, dan tindakan manusia.

Apa Itu Self-Sabotage?

Self-sabotage merupakan pola tindakan atau keputusan yang menghambat seseorang dalam mencapai tujuan yang sebenarnya ingin diwujudkan.

Fuhua Zhang (2022), dalam artikel ilmiah yang diterbitkan di Frontiers in Psychology, membahas bagaimana perilaku sabotase diri dapat mengganggu keterlibatan akademik, harga diri, dan pencapaian tujuan seseorang.

Perilaku ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menunda pekerjaan, menghindari persiapan, menetapkan target yang tidak realistis, hingga mencari alasan untuk menjelaskan kemungkinan kegagalan.

Dalam kajian psikologi, terdapat pula konsep self-handicapping, yakni kecenderungan menciptakan atau menyatakan hambatan yang dapat digunakan untuk melindungi harga diri ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin sengaja menunda belajar hingga menjelang ujian. Jika nilainya buruk, ia dapat mengatakan bahwa dirinya gagal karena kekurangan waktu, bukan karena tidak mampu memahami materi.

Dengan demikian, penundaan tersebut dapat berfungsi sebagai perlindungan psikologis terhadap kemungkinan penilaian negatif.

Meski begitu, tidak semua kebiasaan menunda merupakan bentuk sabotase diri. Kelelahan, beban pekerjaan berlebihan, kesulitan mengatur waktu, hingga kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi seseorang dalam menyelesaikan tugas.

Ketika Perlindungan Diri Justru Menjadi Jebakan

Mengapa seseorang tetap melakukan sesuatu yang berpotensi merugikan dirinya sendiri?

Salah satu penjelasannya berkaitan dengan keinginan manusia untuk mempertahankan harga diri.

Ketika seseorang takut gagal, tidak memulai pekerjaan terkadang terasa lebih aman daripada mencoba dengan sungguh-sungguh tetapi memperoleh hasil yang mengecewakan.

Penundaan memberikan kenyamanan sementara karena seseorang belum harus menghadapi kemungkinan kegagalan tersebut.

Sayangnya, kenyamanan ini dapat berubah menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Semakin lama pekerjaan ditunda, semakin besar tekanan yang dirasakan. Ketika tenggat waktu mendekat, kecemasan meningkat. Hasil pekerjaan yang kurang maksimal kemudian memperkuat keyakinan negatif terhadap kemampuan diri sendiri.

Penelitian Rabia Afzal dan Hina Saeed (2026) terhadap 600 mahasiswa di Pakistan menemukan hubungan negatif yang signifikan antara kecenderungan sabotase diri dan kesejahteraan psikologis.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri atau self-efficacy berperan dalam hubungan tersebut.

Temuan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan perilaku sabotase diri dalam konteks kesehatan mental. Namun, hubungan yang ditemukan tidak serta-merta membuktikan bahwa sabotase diri menjadi penyebab langsung gangguan psikologis.

Untuk memahami mengapa manusia dapat terjebak dalam pertentangan dengan dirinya sendiri, pemikiran filsafat menawarkan perspektif yang menarik.

Memahami Konflik Diri Melalui Pemikiran Para Filsuf

Plato dan Aristoteles: Ketika Keinginan Bertentangan dengan Akal

Dalam karya Republic, Plato menggambarkan jiwa manusia melalui tiga unsur, yakni akal, semangat, dan hasrat.

Ketiganya tidak selalu bergerak ke arah yang sama.

Salah satu gambaran yang terkenal adalah kisah Leontius, seseorang yang merasa tertarik untuk melihat jenazah, tetapi pada saat bersamaan marah terhadap keinginannya sendiri.

Kisah ini memperlihatkan bahwa manusia dapat mengalami pertentangan antara dorongan yang muncul dan penilaian rasionalnya.

Konflik serupa dapat ditemukan dalam kebiasaan menunda pekerjaan. Seseorang mengetahui bahwa menyelesaikan tugas merupakan tindakan yang baik, tetapi dorongan untuk menghindari ketidaknyamanan justru membuatnya melakukan hal lain.

Aristoteles membahas persoalan ini melalui konsep akrasia, yaitu keadaan ketika seseorang gagal bertindak sesuai dengan penilaian terbaiknya.

Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles juga menekankan pentingnya kebiasaan dalam pembentukan karakter.

Dari sudut pandang ini, keberanian menghadapi pekerjaan yang sulit bukan sekadar sifat bawaan, tetapi dapat dikembangkan melalui tindakan yang dilakukan secara berulang.

Memulai pekerjaan meskipun belum merasa sepenuhnya siap dapat menjadi latihan untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

Søren Kierkegaard: Kecemasan dalam Menghadapi Kebebasan

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, mengembangkan pemikiran tentang kecemasan dalam karyanya The Concept of Anxiety.

Dalam pemikirannya, kecemasan berkaitan dengan kesadaran manusia terhadap kemungkinan dan kebebasan untuk memilih.

Kierkegaard menggambarkan kecemasan sebagai semacam rasa pusing yang muncul ketika manusia berhadapan dengan kebebasannya sendiri.

Bayangkan seseorang yang harus memulai sebuah proyek penting.

Selama proyek tersebut belum dikerjakan, masih terbuka berbagai kemungkinan. Ia bisa berhasil, gagal, menerima pujian, atau menghadapi kritik.

Semua kemungkinan itu dapat menimbulkan ketidakpastian.

Bagi sebagian orang, ketidakpastian tersebut terasa lebih menakutkan dibandingkan pekerjaan itu sendiri.

Menunda akhirnya menjadi cara untuk sementara waktu menghindari keputusan dan kemungkinan konsekuensinya.

IKLAN

Pemikiran Kierkegaard membantu kita melihat bahwa kecemasan tidak selalu muncul karena seseorang tidak memiliki pilihan. Terkadang, kecemasan justru hadir karena manusia menyadari bahwa dirinya memiliki banyak kemungkinan untuk dipilih.

Jean-Paul Sartre: Bersembunyi di Balik Label Diri

Jean-Paul Sartre, salah satu tokoh penting filsafat eksistensialisme, membahas konsep mauvaise foi atau itikad buruk dalam Being and Nothingness.

Konsep ini menggambarkan keadaan ketika manusia menghindari pengakuan terhadap kebebasan dan tanggung jawabnya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemikiran tersebut dapat digunakan untuk merefleksikan kebiasaan memberikan label negatif pada diri sendiri.

Misalnya, seseorang terus mengatakan, “Aku memang pemalas. Dari dulu juga seperti ini.”

Kalimat tersebut sekilas terdengar seperti pengakuan yang jujur. Namun, apabila digunakan untuk menganggap perubahan sebagai sesuatu yang mustahil, label itu justru dapat menjadi alasan untuk berhenti mencoba.

Seseorang mungkin merasa lebih mudah menerima identitas sebagai orang malas daripada menghadapi kenyataan bahwa ia takut gagal atau takut dinilai.

Melalui perspektif Sartre, manusia diajak untuk menyadari bahwa kebiasaan masa lalu tidak harus menentukan seluruh tindakan di masa depan.

Meskipun seseorang tidak selalu dapat mengendalikan semua keadaan, ia masih dapat berusaha menentukan respons terhadap situasi yang dihadapinya.

Tentu saja, pemikiran ini bukan berarti seluruh hambatan psikologis dapat diselesaikan hanya dengan kemauan. Kondisi mental, lingkungan, dan keterbatasan nyata tetap perlu diperhatikan.

Bagaimana Cara Memutus Lingkaran Self-Sabotage?

Mengenali pola sabotase diri merupakan langkah awal untuk mengubah kebiasaan yang merugikan.

Ada beberapa pendekatan sederhana yang dapat dicoba dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, ubah cara berbicara kepada diri sendiri.

Daripada terus bertanya, “Mengapa aku begitu malas?”, cobalah menggantinya dengan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya membuatku sulit memulai?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang mengenali sumber kesulitan tanpa langsung memberikan penilaian negatif terhadap dirinya.

Kedua, mulailah dari langkah yang kecil dan realistis.

Pekerjaan yang terlihat besar sering kali menimbulkan tekanan sebelum benar-benar dimulai.

Memecah tugas menjadi beberapa bagian sederhana dapat membuat proses pengerjaan terasa lebih mudah dikelola.

Misalnya, daripada menargetkan penyelesaian seluruh makalah dalam satu malam, seseorang dapat memulai dengan membuat kerangka tulisan atau menyelesaikan satu paragraf.

Ketiga, berikan ruang untuk melakukan kesalahan.

Keinginan menghasilkan sesuatu yang sempurna terkadang membuat seseorang takut memulai.

Padahal, pekerjaan yang belum sempurna masih dapat diperbaiki. Sebaliknya, pekerjaan yang terus dihindari tidak memberikan kesempatan untuk berkembang.

Keempat, bangun lingkungan yang mendukung.

Penelitian Sertel dan Tanrıöğen (2019) terhadap 1.370 guru dan pengelola sekolah di Turki menemukan hubungan negatif, meskipun relatif lemah, antara persepsi positif terhadap iklim sekolah dan tingkat sabotase diri.

Temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara lingkungan sosial dan perilaku sabotase diri, walaupun tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Dalam kehidupan sehari-hari, meminta dukungan teman, berdiskusi dengan orang terpercaya, atau menciptakan ruang belajar yang nyaman dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi perilaku menghindar.

Kelima, cari bantuan profesional apabila diperlukan.

Jika perilaku menghindar terus berulang hingga mengganggu kegiatan akademik, pekerjaan, hubungan sosial, atau kesejahteraan psikologis, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi pilihan.

Pendekatan psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat membantu seseorang mengenali dan mengevaluasi pola pikir serta perilaku yang tidak membantu. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Berani Memulai dan Berhenti Menghindari

Tidak semua penundaan berarti kemalasan. Namun, tidak semua penundaan juga dapat disebut sebagai self-sabotage.

Ada kalanya seseorang memang membutuhkan istirahat, mengalami kelelahan, atau menghadapi hambatan yang berada di luar kendalinya.

Meski demikian, apabila kebiasaan menghindar terus muncul ketika seseorang menghadapi pekerjaan penting, ada baiknya pola tersebut mulai diperhatikan.

Psikologi membantu menjelaskan bagaimana ketakutan, harga diri, dan kecemasan dapat berkaitan dengan perilaku sabotase diri. Sementara itu, filsafat mengajak manusia merenungkan pertentangan antara keinginan, tindakan, dan kebebasan dalam menentukan pilihan.

Dari Plato dan Aristoteles, kita dapat belajar memahami konflik dalam diri serta pentingnya membangun kebiasaan. Kierkegaard mengingatkan bahwa kebebasan memilih dapat membawa kecemasan. Sartre mengajak manusia untuk tidak sepenuhnya bersembunyi di balik label yang membatasi dirinya.

Pada akhirnya, mengatasi kebiasaan menunda bukan hanya persoalan menjadi lebih disiplin. Terkadang, seseorang juga perlu memahami ketakutan yang membuatnya enggan melangkah.

Tidak perlu menunggu hingga seluruh kecemasan menghilang untuk mulai melakukan sesuatu.

Sebab, terkadang bagian tersulit dari sebuah pekerjaan bukanlah menyelesaikannya, melainkan mengumpulkan keberanian untuk memulainya.

Referensi

Afzal, R., & Saeed, H. (2026). Self-Sabotaging Tendencies and Their Impact on Students’ Mental Health: A Study on the Mediating Role of Self-Efficacy. Social Science Review Archives, 4(1), 2905–2914. DOI: 10.70670/sra.v4i1.1853.

Sertel, G., & Tanrıöğen, Z. M. (2019). The Relationship Between Self-Sabotage and Organizational Climate of Schools. Educational Research and Reviews, 14(15), 541–550. DOI: 10.5897/ERR2019.3784.

Zhang, F. (2022). A Theoretical Review on the Impact of EFL/ESL Students’ Self-Sabotaging Behaviors on Their Self-Esteem and Academic Engagement. Frontiers in Psychology, 13, 873734. DOI: 10.3389/fpsyg.2022.873734.


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/self-sabotage-ketika-kita-justru-menghalangi-diri-sendiri/98448/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 02 November 2026, 11.21 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #Produktivitas
  • #filsafat
  • #menunda pekerjaan
  • #psikologi
  • #sabotase diri
  • #self-sabotage

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Modernisasi Bioproses Pangan: Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Birokrasi Seharusnya Memudahkan, Bukan Justru Menambah Beban Masyarakat dalam Mengurus Pelayanan Publik

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

Pilihan Editor

  1. 1 Analisis Potensi, Karakteristik, dan Kompetensi Talenta Antaranggota Kelompok dalam Membangun Kerja Sama Tim yang Efektif
  2. 2

    Birokrasi Seharusnya Memudahkan, Bukan Justru Menambah Beban Masyarakat dalam Mengurus Pelayanan Publik

  3. 3

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  4. 4

    Raih ACRA Award di Thailand, Kepala BSSN Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Hadapi Ancaman Siber

  5. 5

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.