JurnalPost.com — Memiliki keahlian di bidang tertentu sering dianggap sebagai modal utama untuk meraih kesuksesan dalam dunia kerja. Seorang koki harus mampu memasak, arsitek harus memahami perancangan bangunan, sementara seorang barista dituntut menguasai teknik meracik kopi. Namun, apakah keahlian teknis saja sudah cukup untuk membuat seseorang berkembang dalam kariernya?
Menurut saya, jawabannya belum tentu. Ada satu keterampilan yang kerap dianggap sepele, padahal memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karier seseorang, yaitu kemampuan berbicara atau speaking skill.
Pandangan serupa disampaikan Kemal Mochtar, seorang pelatih kemampuan berbicara, dalam podcast Suara Berkelas bersama Bilal. Dalam perbincangan tersebut, Kemal menjelaskan mengapa kemampuan berkomunikasi tidak semestinya hanya dikaitkan dengan profesi pembawa acara, penyiar radio, atau presenter televisi.
Selama ini, istilah public speaking sering dipahami secara terbatas. Ketika seseorang disarankan mengikuti pelatihan public speaking, tidak sedikit yang langsung menolak karena merasa tidak memiliki keinginan menjadi seorang MC atau tampil di atas panggung.
Padahal, kemampuan berbicara jauh lebih luas daripada sekadar tampil di hadapan banyak orang.
Kemal kemudian memilih menggunakan istilah speaking skill untuk menjelaskan keterampilan tersebut. Menariknya, perubahan istilah membuat orang lebih terbuka untuk mempelajarinya, meskipun substansi keterampilan yang diajarkan tidak jauh berbeda.
Bagi saya, pendekatan ini menunjukkan bahwa cara menyampaikan suatu kebutuhan dapat memengaruhi bagaimana seseorang menerimanya. Terkadang, persoalannya bukan terletak pada manfaat keterampilan tersebut, melainkan pada persepsi yang telah terbentuk sebelumnya.
Keahlian Teknis Perlu Didukung Kemampuan Komunikasi
Kemampuan teknis memang menjadi dasar penting dalam setiap pekerjaan. Namun, keahlian tersebut akan sulit memberikan manfaat maksimal apabila seseorang tidak mampu menjelaskan gagasan, menyampaikan hasil pekerjaan, atau membangun komunikasi dengan orang lain.
Kemal memandang speaking skill sebagai salah satu keterampilan pendamping terpenting bagi berbagai profesi.
Seorang arsitek, misalnya, mungkin mampu menghasilkan rancangan bangunan yang sangat baik. Namun, ia tetap membutuhkan kemampuan menjelaskan konsepnya kepada klien agar gagasan tersebut dapat dipahami dan diterima.
Begitu pula seorang koki yang ingin mengembangkan usaha kuliner. Selain menghasilkan makanan berkualitas, ia perlu mampu memperkenalkan produknya, membangun hubungan dengan pelanggan, dan menyampaikan keunggulan usahanya.
Menurut saya, kebutuhan tersebut tidak hanya berlaku bagi pekerja profesional yang sehari-hari beraktivitas di kantor.
Kurir, pengemudi, pelayan toko, hingga pekerja lapangan juga membutuhkan keterampilan komunikasi. Cara mereka menyapa, memberikan informasi, dan merespons pertanyaan pelanggan dapat memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap pelayanan yang diberikan.
Mungkin pekerjaan mereka saat ini belum menuntut kemampuan presentasi di hadapan banyak orang. Namun, ketika memperoleh kesempatan menjadi koordinator, supervisor, atau pemimpin tim, keterampilan berbicara akan semakin dibutuhkan.
Karena itu, mempelajari kemampuan komunikasi sejak dini merupakan bentuk investasi dalam pengembangan diri.
Menunggu sampai keterampilan tersebut benar-benar dibutuhkan justru dapat membuat seseorang kesulitan ketika kesempatan datang.
Ide Bagus Bisa Gagal karena Cara Penyampaian
Hal menarik lainnya dari pembahasan Kemal adalah hubungan antara kualitas gagasan dan kemampuan menyampaikannya.
Seseorang bisa memiliki ide yang sangat baik, produk yang berkualitas, atau solusi yang bermanfaat. Namun, semua itu belum tentu memperoleh perhatian apabila tidak disampaikan dengan cara yang tepat.
Dalam dunia kerja, kemampuan menjelaskan ide sering menjadi faktor penting ketika seseorang mengikuti wawancara, menyampaikan usulan dalam rapat, atau mempresentasikan pekerjaan kepada atasan.
Bukan berarti orang yang pandai berbicara pasti lebih kompeten dibandingkan mereka yang memiliki kemampuan teknis tinggi.
Akan tetapi, komunikasi yang baik dapat membantu orang lain memahami kompetensi yang sebenarnya dimiliki seseorang.
Di sinilah kemampuan berbicara berfungsi sebagai penghubung antara pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan.
Keahlian memberi seseorang sesuatu yang bernilai untuk ditawarkan. Sementara itu, kemampuan komunikasi membantu nilai tersebut diketahui dan dipahami oleh orang lain.
Gugup Berbicara Bukan Berarti Tidak Mampu
Salah satu hambatan terbesar ketika seseorang ingin meningkatkan kemampuan berbicara adalah rasa gugup.
Banyak orang merasa percaya diri saat berbincang santai dengan teman atau keluarga, tetapi tiba-tiba kehilangan kelancaran ketika diminta berbicara dalam acara formal.
Dalam podcast tersebut, Bilal menceritakan pengalaman pamannya yang dikenal pandai mengobrol dengan siapa saja. Namun, ketika harus berbicara dalam acara pertunangan anggota keluarga, pamannya justru terlihat kaku.
Kemal menjelaskan bahwa keadaan semacam itu dapat terjadi karena seseorang belum terbiasa menghadapi situasi berbicara tertentu.
Artinya, rasa gugup tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki kemampuan komunikasi.
Seseorang yang terbiasa berbicara santai belum tentu memiliki pengalaman menyampaikan sambutan resmi. Sebaliknya, orang yang sering melakukan presentasi mungkin lebih mudah mengendalikan kegugupan karena telah memahami situasi yang dihadapinya.
Kemal juga menyinggung anggapan bahwa orang introvert tidak cocok berbicara di depan umum.
Menurut saya, anggapan tersebut perlu diluruskan. Kepribadian introvert tidak otomatis menentukan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi.
Seseorang mungkin lebih menyukai suasana tenang atau interaksi dalam kelompok kecil, tetapi tetap dapat mengembangkan keterampilan presentasi melalui latihan dan pengalaman.
Dengan demikian, kalimat seperti "saya introvert, jadi tidak bisa berbicara di depan umum" seharusnya tidak dijadikan alasan untuk berhenti mencoba.
Rasa gugup lebih tepat dipandang sebagai tantangan yang dapat dikelola, bukan sebagai batas kemampuan yang tidak mungkin dilampaui.
Speaking Skill Tidak Bisa Dikuasai dalam Semalam
Kemal mengibaratkan proses mempelajari kemampuan berbicara dengan belajar memasak.
Mengikuti pelatihan selama satu hari bersama seorang koki profesional tidak serta-merta membuat seseorang langsung mahir memasak.
Begitu pula dengan kemampuan berbicara. Mengetahui teori mengenai intonasi, artikulasi, bahasa tubuh, dan penyusunan pesan belum tentu membuat seseorang langsung percaya diri ketika tampil di hadapan orang lain.
Keterampilan tersebut membutuhkan latihan yang dilakukan secara berulang.
Seseorang mungkin masih terbata-bata ketika pertama kali melakukan presentasi. Ada pula yang kesulitan menyusun kalimat atau merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Semakin sering seseorang berlatih dengan metode yang tepat, semakin besar peluangnya untuk memahami kelemahan dan memperbaiki cara berkomunikasi.
Meski demikian, latihan juga perlu dilakukan secara terarah. Pengalaman yang buruk tanpa evaluasi dan pendampingan dapat membuat seseorang semakin takut untuk mencoba.
Karena itu, ruang belajar yang mendukung dan memberikan masukan secara konstruktif sangat diperlukan.
Sekolah, kampus, dan tempat kerja seharusnya memberi lebih banyak kesempatan kepada individu untuk melatih keterampilan komunikasi.
Kegiatan seperti diskusi kelompok, presentasi, simulasi wawancara, dan penyampaian pendapat dapat menjadi sarana latihan yang sederhana tetapi bermanfaat.
Kemampuan Berbicara Merupakan Investasi Karier
Perkembangan dunia kerja membuat kebutuhan terhadap keterampilan komunikasi semakin luas.
Jika dahulu pelatihan public speaking sering dikaitkan dengan profesi penyiar, pembawa acara, atau pejabat, kini kemampuan tersebut juga relevan bagi mahasiswa, pelaku usaha, pekerja kreatif, hingga karyawan dari berbagai bidang.
Kemampuan menyampaikan gagasan bukan lagi sekadar keterampilan tambahan untuk orang-orang yang ingin tampil di depan umum.
Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun relasi, menunjukkan kompetensi, dan membuka kesempatan pengembangan karier.
Kemal juga mengingatkan pentingnya memahami bagaimana keterampilan yang dimiliki dapat memberikan nilai ekonomi.
Menurut saya, pandangan ini menarik karena menghubungkan kemampuan berbicara dengan pengembangan potensi diri secara lebih luas.
Seseorang tidak harus menjadi pembawa acara profesional untuk memperoleh manfaat dari speaking skill. Kemampuan tersebut dapat membantu ketika menawarkan produk, bernegosiasi, membangun jaringan profesional, atau memperjuangkan suatu gagasan.
Namun, kemampuan berbicara juga tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti keahlian utama.
Komunikasi yang baik harus tetap didukung oleh pengetahuan, kompetensi, dan tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan.
Pada akhirnya, keahlian teknis dan kemampuan komunikasi bukanlah dua hal yang perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi.
Memiliki keterampilan yang baik membuat seseorang mampu menghasilkan pekerjaan berkualitas. Sementara itu, kemampuan berbicara membantu orang lain memahami hasil pekerjaan tersebut.
Karena itu, sudah saatnya kita berhenti menganggap kemampuan berbicara sebagai keterampilan yang hanya dibutuhkan oleh profesi tertentu.
Setiap orang memiliki alasan untuk mempelajarinya, terutama mereka yang ingin mengembangkan diri dan mempersiapkan kesempatan karier yang lebih luas.
Sebab, menjadi ahli dalam suatu bidang memang penting. Namun, kemampuan menjelaskan keahlian tersebut kepada orang lain juga menentukan sejauh mana potensi diri dapat berkembang.
Pertanyaannya sekarang, setelah menguasai keterampilan utama, apakah kita sudah memberikan perhatian yang sama terhadap kemampuan berkomunikasi?
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda