Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Gunung Erupsi, Jangan Biarkan Smartphone Ikut “Meletus”

Ketika Gunung Erupsi, Jangan Biarkan Smartphone Ikut “Meletus”

Foto profil Rina Maharani
Editor: Rina Maharani
08 September 2026, 00.43 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
9 menit baca
Erupsi Gunung

Oleh: Rahmah Hastuti, M.Psi., Psikolog

JurnalPost.com - Ada sesuatu yang menarik setiap kali bencana datang: ruang belajar dapat berubah jauh lebih cepat daripada kesiapan psikologis kita untuk menghadapinya.

IKLAN

Ketika Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan abu vulkanik berdampak pada sejumlah wilayah, aktivitas pendidikan pun harus menyesuaikan diri.

Di Banten, misalnya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan pada 7–9 September 2026 untuk sejumlah jenjang pendidikan sebagai langkah kesiapsiagaan. Keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan warga sekolah ditempatkan sebagai prioritas, sementara pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan kondisi wilayah.

Kebijakan tersebut tentu masuk akal.

Jika lingkungan sekolah sedang tidak aman, anak tidak seharusnya dipaksa datang hanya demi mempertahankan rutinitas pembelajaran.

Namun, ada pertanyaan yang menurut saya lebih dalam daripada sekadar apakah PJJ dapat dilaksanakan dengan baik.

Apakah kita sudah benar-benar adaptif?

Sebab adaptasi pendidikan bukan sekadar kemampuan memindahkan kelas dari ruang sekolah ke layar smartphone.

Rumah Belum Tentu Menjadi Ruang Belajar yang Ideal

Indonesia pernah melewati masa ketika hampir seluruh aktivitas pendidikan berpindah ke rumah.

Pandemi Covid-19 membuat guru, dosen, peserta didik, dan orangtua mengenal Zoom, Google Meet, WhatsApp, Learning Management System (LMS), serta berbagai platform pembelajaran digital.

Namun, pengalaman panjang tersebut tidak berarti seluruh persoalan pembelajaran jarak jauh telah selesai.

Kita perlu mengingat bahwa Indonesia bukan negara dengan kondisi ruang belajar yang seragam.

Ada anak yang memiliki kamar sendiri, laptop, koneksi Wi-Fi stabil, dan orangtua yang dapat mendampingi proses belajar.

Namun, ada pula anak yang hanya dapat mengikuti pembelajaran menggunakan smartphone milik orangtuanya.

Ada yang harus berbagi perangkat dengan kakak atau adiknya.

Ada yang belajar di tengah rumah yang ramai.

Ada yang sambil membantu pekerjaan keluarga.

Ada pula orangtua yang harus menghitung kembali pengeluaran rumah tangga karena membutuhkan tambahan kuota internet untuk anaknya belajar.

Perbedaan kondisi semacam ini tidak selalu terlihat oleh guru atau dosen dari balik layar.

Karena itu, kita harus berhati-hati ketika memberikan penilaian terhadap perilaku peserta didik.

Anak yang mematikan kamera saat kelas daring belum tentu tidak menghargai gurunya.

Mahasiswa yang terlambat bergabung dalam kelas belum tentu tidak disiplin.

Siswa yang tampak kehilangan konsentrasi juga belum tentu malas.

Bisa jadi ada situasi yang tidak terlihat dari layar.

Dalam konteks seperti inilah empati perlu menjadi bagian dari pedagogi, terlebih ketika pendidikan berlangsung di tengah situasi bencana.

Perspektif psikologi mengajarkan bahwa perilaku manusia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks yang sedang dihadapi.

Ketika seseorang berada dalam situasi penuh ketidakpastian, ia dapat menjadi lebih mudah cemas, sulit berkonsentrasi, cepat lelah, atau terus-menerus mencari informasi untuk memastikan bahwa dirinya dan keluarganya aman.

Respons seperti itu perlu dipahami secara proporsional.

Tidak setiap kecemasan harus segera dianggap sebagai gangguan psikologis. Dalam banyak situasi bencana, rasa khawatir dan kewaspadaan justru merupakan respons manusiawi terhadap ancaman.

Karena itu, ketika bencana terjadi, sekolah tidak hanya memiliki tugas untuk memastikan materi pelajaran tetap berjalan.

Sekolah juga perlu menjadi ruang yang membantu peserta didik mempertahankan rasa aman.

Kita Punya Teknologi, tetapi Apakah Kita Punya Regulasi Diri?

Di sinilah muncul sebuah paradoks.

Ketika sekolah berpindah ke rumah, smartphone menjadi semakin penting.

Perangkat kecil itu berubah menjadi ruang kelas, perpustakaan, alat komunikasi, tempat menerima tugas, sumber informasi, sekaligus pintu untuk mengetahui perkembangan bencana.

Namun, pada perangkat yang sama terdapat media sosial, video pendek, gim, hiburan, percakapan grup, dan notifikasi yang seolah tidak pernah berhenti.

Batas antara menggunakan internet untuk belajar dan terus menggunakan internet karena sulit berhenti akhirnya menjadi semakin tipis.

Hal inilah yang perlu diperhatikan, terutama pada anak dan remaja.

Dalam kajian psikologi dikenal istilah Problematic Internet Use (PIU) atau penggunaan internet bermasalah.

PIU tidak semata-mata ditentukan oleh berapa lama seseorang berada di internet.

Seseorang dapat menggunakan internet dalam waktu cukup panjang karena memang diperlukan untuk belajar atau bekerja.

Masalah mulai muncul ketika penggunaan internet menjadi sulit dikendalikan dan secara nyata mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, seperti belajar, tidur, hubungan sosial, kesehatan, ataupun kesejahteraan psikologis.

Dalam situasi bencana, persoalan tersebut dapat menjadi lebih kompleks.

Bayangkan seorang anak yang merasa cemas karena mendengar kabar tentang erupsi.

Ia mengambil smartphone untuk mencari perkembangan informasi.

Awalnya hanya ingin melihat informasi selama lima menit.

Namun lima menit berubah menjadi tiga puluh menit.

Mencari informasi resmi bergeser menjadi membaca komentar.

Membaca komentar kemudian berubah menjadi menonton sebuah video.

Setelah video pertama selesai, muncul video berikutnya.

Kemudian video berikutnya lagi.

Pada akhirnya, anak tersebut mungkin tidak menjadi lebih memahami situasi yang sedang terjadi.

Ia justru menjadi semakin cemas.

Smartphone yang pada awalnya digunakan untuk mencari rasa aman dapat berubah menjadi perangkat yang memperpanjang kecemasan.

Karena itu, literasi digital saja tidak cukup.

Anak juga membutuhkan regulasi diri digital: kemampuan memahami kapan teknologi perlu digunakan, untuk tujuan apa, seberapa lama, serta kapan dirinya perlu berhenti.

Jangan Sampai PJJ Berarti “Online Sepanjang Hari”

Ada satu kekeliruan yang perlu dihindari ketika PJJ diberlakukan dalam situasi bencana: memindahkan seluruh jadwal sekolah secara utuh ke layar.

Enam jam belajar di sekolah kemudian diganti menjadi enam jam di depan perangkat.

Pelajaran berlangsung melalui aplikasi.

Tugas datang melalui grup.

Diskusi dilakukan secara daring.

Informasi diberikan lewat media sosial.

Evaluasi dikerjakan menggunakan platform digital.

Akibatnya, anak memang tidak pergi ke sekolah, tetapi secara psikologis seperti tidak pernah benar-benar meninggalkan sekolah.

Padahal, PJJ dalam situasi bencana seharusnya memiliki karakter berbeda dengan pembelajaran dalam keadaan normal.

Durasi maupun pola pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Ini penting karena PJJ saat bencana bukan perlombaan mempertahankan sebanyak mungkin jam tatap muka melalui layar.

Yang seharusnya dipertahankan adalah kebermaknaan proses belajar.

Anak tetap belajar, tetapi memiliki kesempatan untuk beristirahat.

IKLAN

Mahasiswa tetap produktif tanpa kehilangan waktu tidur.

Guru tetap menjalankan proses pendidikan tanpa harus membanjiri siswa dengan tugas.

Dosen tetap menjaga capaian pembelajaran, tetapi pada saat bersamaan memahami bahwa kondisi psikologis mahasiswa mungkin tidak sama dengan hari-hari normal.

Adaptasi membutuhkan fleksibilitas.

Jika metode lama dipaksakan ketika situasi telah berubah, itu bukan adaptasi. Kita hanya memindahkan masalah ke tempat yang berbeda.

Bencana Juga Menjadi Ujian Berpikir Kritis

Ada kemampuan lain yang semakin penting dalam situasi bencana, yaitu critical thinking atau berpikir kritis.

Bencana hampir selalu diikuti arus informasi yang sangat cepat.

Foto lama dapat beredar kembali dan dianggap sebagai foto terbaru.

Video dari wilayah lain dapat diklaim sebagai dokumentasi erupsi yang baru terjadi.

Pesan berantai dapat menyebarkan kepanikan.

Informasi yang tidak memiliki sumber jelas dapat diteruskan berkali-kali.

Sementara judul yang sensasional dapat membuat keadaan terasa jauh lebih mengerikan daripada fakta yang sebenarnya.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting.

Anak dan mahasiswa perlu dibiasakan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana ketika menerima informasi:

Siapa yang mengatakan?

Dari mana sumber informasinya?

Kapan informasi tersebut dibuat?

Apakah ada konfirmasi dari sumber resmi?

Apakah yang saya baca merupakan fakta atau opini?

Dan satu pertanyaan yang tidak kalah penting:

Apakah informasi ini membantu saya mengambil keputusan yang aman atau justru membuat saya semakin panik?

Berpikir kritis bukan berarti selalu mencurigai semua informasi.

Berpikir kritis adalah kemampuan untuk tidak terburu-buru mempercayai sesuatu sebelum melakukan pemeriksaan.

Dalam situasi bencana, keterampilan tersebut bukan lagi sekadar kompetensi akademik.

Ia merupakan keterampilan hidup.

Lima Pegangan Saat PJJ karena Bencana

Setidaknya ada lima prinsip yang dapat menjadi pegangan bersama ketika pembelajaran jarak jauh diterapkan akibat situasi bencana.

Pertama, jangan mengorbankan keselamatan demi kehadiran.

Jika lingkungan tidak aman, keselamatan harus ditempatkan terlebih dahulu. Kehadiran akademik tidak boleh lebih penting daripada kesehatan peserta didik.

Kedua, jangan menganggap semua rumah memiliki kondisi yang sama.

Tidak setiap peserta didik mempunyai perangkat memadai, jaringan internet stabil, ruang belajar yang tenang, maupun dukungan keluarga yang setara.

Ketiga, jangan mengubah PJJ menjadi kewajiban menatap layar sepanjang hari.

Belajar memang membutuhkan konsentrasi, tetapi konsentrasi juga membutuhkan istirahat.

Keempat, jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Dalam situasi bencana, satu informasi keliru dapat memperbesar kecemasan dan kepanikan banyak orang.

Kelima, jangan terlalu cepat memberikan label.

Sebelum mengatakan seorang anak malas, mahasiswa tidak disiplin, atau orangtua tidak peduli, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu:

Apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi?

Sebaliknya, ada lima hal yang dapat dilakukan: mengutamakan keselamatan, menggunakan sumber informasi terpercaya, menyederhanakan pembelajaran tanpa kehilangan tujuan, membuat batas penggunaan smartphone, dan mempertahankan komunikasi yang manusiawi.

Guru dapat bertanya kepada siswanya, “Kamu baik-baik saja?”

Dosen dapat mengatakan kepada mahasiswa, “Jika ada kendala karena kondisi bencana, silakan komunikasikan.”

Orangtua dapat bertanya kepada anak, “Apa yang kamu butuhkan agar bisa belajar dengan nyaman?”

Pertanyaan sederhana seperti itu terkadang jauh lebih bermakna daripada hanya bertanya, “Sudah mengerjakan tugas?”

Kita Membutuhkan Pendidikan yang Tangguh, Bukan Pendidikan yang Kaku

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa pendidikan harus mampu hidup berdampingan dengan ketidakpastian.

Ketika seorang anak belajar mengenai erupsi gunung api, ia tentu perlu mengetahui apa itu gunung api, bagaimana erupsi terjadi, serta apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri.

Namun pendidikan kebencanaan seharusnya tidak berhenti di sana.

Anak juga perlu belajar bagaimana mengelola kecemasan.

Bagaimana mencari informasi yang benar.

Bagaimana membedakan fakta dengan rumor.

Bagaimana mengambil keputusan dengan tenang.

Bagaimana membantu orang lain.

Dan bagaimana menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri.

Artinya, pendidikan kebencanaan tidak semestinya hanya berisi prosedur evakuasi.

Pendidikan kebencanaan juga perlu menyentuh aspek psikologis, sosial, dan digital.

Apakah Kita Sudah Adaptif?

Mungkin jawabannya adalah: kita sudah belajar beradaptasi, tetapi belum selesai menjadi adaptif.

Pandemi mengajarkan kepada kita bagaimana memindahkan kelas ke layar.

Erupsi gunung mengingatkan bahwa kemampuan tersebut harus digunakan dengan cara yang lebih manusiawi.

Kita tidak hanya membutuhkan digital adaptation, tetapi juga human adaptation.

Kemampuan untuk berubah tanpa tenggelam dalam kepanikan.

Kemampuan menggunakan teknologi tanpa diperbudak olehnya.

Kemampuan menerima begitu banyak informasi tanpa kehilangan daya kritis.

Kemampuan tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan psikologis.

Dan yang terpenting, kemampuan untuk tetap melihat manusia di balik sebuah layar.

Gunung boleh erupsi.

Sekolah mungkin harus berpindah ke rumah.

Kelas dapat berpindah ke layar.

Namun jangan sampai dalam upaya mempertahankan berlangsungnya pendidikan, kita justru kehilangan rasa aman, empati, dan kemampuan anak untuk mengatur dirinya sendiri.

Sebab pendidikan yang tangguh bukan pendidikan yang memaksa semuanya tetap berjalan normal ketika situasi memang sedang tidak normal.

Pendidikan yang tangguh adalah pendidikan yang memahami kapan harus berubah, bagaimana perubahan itu dilakukan, dan siapa yang harus lebih dahulu dilindungi.

Dan mungkin, di situlah makna adaptasi yang sesungguhnya.

Biodata Penulis

Rahmah Hastuti, M.Psi., Psikolog adalah Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara dan mahasiswa Program Doktor Psikologi. Fokus kajiannya antara lain psikologi pendidikan, keluarga, serta perkembangan peserta didik di era digital.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-gunung-erupsi-jangan-biarkan-smartphone-ikut-meletus/97612/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.23 WITA

  • #Bencana Alam
  • #Literasi Digital
  • #Pembelajaran Jarak Jauh
  • #erupsi gunung
  • #kecemasan anak
  • #psikologi pendidikan
  • #regulasi diri digital

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.