Penulis: Yosua Charis Setyawan, S.Pd., Gr.
SMP Tarakanita 1 Jakarta – Pendidikan Pancasila
JurnalPost.com - Situasi Jakarta yang dinamis pada pertengahan Agustus 2026 menghadirkan pengalaman tersendiri bagi dunia pendidikan. Adanya aksi demonstrasi di sekitar gedung DPRD, disertai kondisi lalu lintas dan keamanan yang perlu mendapat perhatian, membuat SMP Tarakanita 1 Jakarta mengambil kebijakan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Keputusan tersebut bukan sekadar memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas ke rumah. Lebih dari itu, kebijakan PJJ menjadi bentuk perhatian sekolah terhadap keselamatan, kenyamanan, serta keberlangsungan proses pendidikan bagi peserta didik.
Menariknya, situasi yang terjadi justru memberikan konteks nyata dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi mengenai hak dan kewajiban warga negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Peristiwa di sekitar peserta didik dapat menjadi media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hak dan kewajiban warga negara tidak lagi dipahami sebatas konsep yang tertulis di dalam buku pelajaran, melainkan sesuatu yang dapat diamati dan dirasakan langsung dalam kehidupan bermasyarakat.
Menghubungkan Materi dengan Realitas Kehidupan
Pembelajaran dilaksanakan melalui Zoom dengan memanfaatkan berbagai perangkat digital. Meski peserta didik mengikuti pelajaran dari rumah masing-masing, guru tetap berupaya membangun suasana belajar yang aktif, komunikatif, dan interaktif.
Pada awal pembelajaran, guru terlebih dahulu menjelaskan alasan sekolah menerapkan PJJ. Peserta didik kemudian diajak memahami situasi yang sedang berlangsung di Jakarta secara proporsional.
Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan sejumlah pertanyaan pemantik. Peserta didik diajak berpikir mengenai hak apa saja yang dimiliki warga negara serta kewajiban apa yang harus dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam diskusi, peserta didik mengidentifikasi berbagai bentuk hak warga negara. Beberapa di antaranya adalah hak memperoleh pendidikan, hak menyampaikan pendapat, serta hak mendapatkan perlindungan.
Di sisi lain, mereka juga membahas sejumlah kewajiban, seperti menaati hukum, menghormati hak orang lain, menjaga ketertiban, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Dari sini, peserta didik mulai memahami bahwa hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan.
Hak Menyampaikan Pendapat Harus Disertai Tanggung Jawab
Pembelajaran menjadi semakin relevan ketika materi dikaitkan dengan realitas demokrasi.
Peserta didik diajak memahami bahwa menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis. Setiap warga negara memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan pandangannya.
Namun, penggunaan hak tersebut juga harus disertai tanggung jawab.
Kebebasan menyampaikan pendapat perlu dilaksanakan dengan tetap menghormati hukum, ketertiban umum, keselamatan, serta hak warga negara lainnya.
Dari pembahasan tersebut, peserta didik memperoleh pemahaman bahwa hak dan kewajiban merupakan dua unsur yang berjalan beriringan. Seseorang tidak dapat hanya menuntut pemenuhan hak tanpa menyadari tanggung jawab dan kewajibannya dalam kehidupan bersama.
Pembelajaran seperti ini menjadi penting karena Pendidikan Pancasila pada dasarnya tidak berhenti pada kemampuan menghafal pasal atau konsep kewarganegaraan.
Pendidikan Pancasila juga diharapkan mampu membentuk kesadaran peserta didik untuk menjadi warga negara yang kritis, bertanggung jawab, serta mampu menghargai kepentingan orang lain.
Pentingnya Sikap Kritis di Media Sosial
Situasi yang dinamis juga tidak dapat dilepaskan dari derasnya arus informasi di media sosial.
Berbagai informasi mengenai demonstrasi, kondisi keamanan, rekayasa lalu lintas, maupun kejadian lain dapat tersebar dalam hitungan detik. Tidak seluruh informasi tersebut selalu memiliki sumber yang jelas atau dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, peserta didik diingatkan agar tidak terburu-buru mempercayai maupun menyebarkan informasi yang mereka temukan.
Mereka diarahkan untuk memeriksa sumber informasi, membandingkan dengan pemberitaan atau keterangan yang kredibel, serta memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan kewarganegaraan pada era digital.
Menjadi warga negara yang bertanggung jawab saat ini tidak hanya berarti menaati aturan dalam kehidupan nyata, tetapi juga menunjukkan perilaku yang bijak dalam ruang digital.
Kahoot Membuat PJJ Lebih Interaktif
Untuk menjaga antusiasme peserta didik selama pembelajaran jarak jauh, guru menggunakan Kahoot sebagai media kuis interaktif sekaligus sarana evaluasi.
Peserta didik menjawab sejumlah pertanyaan melalui perangkat masing-masing secara langsung. Kehadiran unsur permainan dalam Kahoot membantu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.
Peserta didik juga terdorong untuk lebih aktif mengikuti pembelajaran karena dapat melihat perkembangan skor dan menjawab pertanyaan secara real time.
Bagi guru, hasil kuis tidak hanya menjadi nilai evaluasi. Data tersebut juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah memahami materi serta mengidentifikasi bagian-bagian yang masih perlu diperkuat.
Dengan cara tersebut, penggunaan teknologi tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi benar-benar menjadi bagian dari strategi pembelajaran.
PJJ Tetap Memiliki Tantangan
Meski teknologi memberikan banyak kemudahan, pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh tetap memiliki tantangan tersendiri.
Kualitas jaringan internet setiap peserta didik tidak selalu sama. Ada pula perbedaan perangkat yang digunakan serta kondisi lingkungan rumah yang dapat memengaruhi konsentrasi selama proses belajar berlangsung.
Situasi tersebut membutuhkan fleksibilitas dari guru.
Toleransi terhadap kendala teknis serta penyediaan alternatif pembelajaran menjadi penting agar setiap peserta didik tetap memperoleh hak yang sama untuk mengikuti proses pendidikan secara optimal.
Pengalaman ini sekaligus menunjukkan bahwa adaptasi merupakan salah satu kemampuan penting dalam dunia pendidikan.
Perubahan situasi tidak seharusnya membuat proses pembelajaran berhenti. Justru dalam kondisi yang tidak biasa, sekolah dan guru ditantang untuk menemukan pendekatan pembelajaran yang paling sesuai.
Pemanfaatan Zoom dan Kahoot di SMP Tarakanita 1 Jakarta memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk menjaga interaksi antara guru dan peserta didik.
Namun, keberhasilan pembelajaran tetap bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membangun proses belajar yang aktif, reflektif, dan bermakna.
Pada akhirnya, pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam situasi tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai hak dan kewajiban warga negara.
Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk menanamkan sikap kritis, tanggung jawab, toleransi, kemampuan menghormati hak orang lain, serta kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Pelaksanaan PJJ di SMP Tarakanita 1 Jakarta menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat terus berlangsung dalam berbagai kondisi selama guru mampu beradaptasi, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan realitas kehidupan peserta didik.
Melalui pengalaman nyata seperti inilah Pendidikan Pancasila dapat menjadi lebih dari sekadar mata pelajaran. Ia dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar memahami dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan sebagai warga negara yang memiliki hak sekaligus kewajiban.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda