Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Kafe Menjadi Kebutuhan, Kopi Tradisional Mulai Kehilangan Tempat

Ketika Kafe Menjadi Kebutuhan, Kopi Tradisional Mulai Kehilangan Tempat

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
01 Juni 2026, 09.08 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Kafe

Oleh; Assifa Nur Rahmanda

JurnalPost.com - Budaya minum kopi di Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu kopi identik dengan warung sederhana dan obrolan santai masyarakat, kini kopi lebih sering hadir dalam bentuk coffee shop modern yang ramai dikunjungi anak muda. Kafe tidak lagi sekedar tempat membeli minuman, tetapi telah menjadi ruang untuk belajar, bekerja, rapat organisasi, hingga bersosialisasi. Sebagai mahasiswa, saya melihat fenomena ini semakin nyata. Ketika ada tugas kelompok, banyak yang langsung mengusulkan untuk mengerjakannya di kafe. Ketika ingin berdiskusi atau mengadakan rapat, bahkan untuk sekedar menghabiskan waktu bersama teman, coffee shop menjadi tempat yang dianggap paling nyaman. Tidak heran jika banyak kafe selalu dipenuhi mahasiswa, terutama pada sore hingga malam hari.

IKLAN

Di satu sisi, tren ini menunjukkan perkembangan yang positif. Coffee shop menyediakan tempat yang nyaman, fasilitas internet, serta suasana yang mendukung produktivitas. Kehadirannya juga membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru. Namun di sisi lain, ada satu hal yang mulai terlihat, yaitu semakin memudarnya keberadaan kopi tradisional di tengah kehidupan anak muda. Saat ini, banyak generasi muda yang lebih akrab dengan latte, cappuccino, atau americano dibandingkan kopi tubruk yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Padahal Indonesia memiliki sejarah dan tradisi kopi yang sangat kuat. Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada jenis kopinya, melainkan pada perubahan cara pandang terhadap kopi itu sendiri.

Dari Secangkir
Baca Juga

Dari Secangkir Kopi hingga Tarik Tunai, BRILink di Desa Jadi Tempat Singgah Warga

IKLAN

Media sosial ikut memperkuat fenomena ini. Kafe dengan desain menarik lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan warung kopi tradisional yang sederhana. Akibatnya, banyak anak muda lebih tertarik mengunjungi tempat yang terlihat estetik daripada tempat yang sebenarnya memiliki nilai budaya yang lebih kuat. Kondisi ini membuat persaingan menjadi tidak seimbang. Warung kopi tradisional tidak kalah dari segi fungsi maupun cita rasa, tetapi kalah dalam hal citra dan pemasaran. Mereka sulit bersaing dengan coffee shop yang mampu menawarkan pengalaman yang lebih sesuai dengan selera generasi saat ini.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa yang sedang dicari anak muda bukan hanya kopi, tetapi ruang. Sayangnya, banyak ruang publik dan fasilitas kampus yang belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, kafe mengambil peran yang sebelumnya bisa dijalankan oleh perpustakaan, taman publik, atau ruang diskusi kampus.

Saya tidak berpendapat bahwa coffee shop adalah penyebab hilangnya kopi tradisional. Kehadiran mereka merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari. Namun, perkembangan tersebut tidak seharusnya membuat kopi tradisional kehilangan tempatnya. Modernisasi seharusnya berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.

Pada akhirnya, berkembangnya budaya nongkrong di kafe bukanlah masalah. Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika popularitas coffee shop membuat kopi tradisional semakin tersingkir dari kehidupan anak muda. Jika hal itu terus terjadi, maka yang hilang bukan hanya pilihan tempat minum kopi, melainkan juga sebagian dari identitas budaya yang selama ini melekat pada kopi Indonesia. Di tengah maraknya tren nongkrong saat ini, menjaga keberadaan kopi tradisional sama pentingnya dengan menikmati perkembangan kopi modern itu sendiri.

Dari Secangkir
Baca Juga

Dari Secangkir Kopi hingga Tarik Tunai, BRILink di Desa Jadi Tempat Singgah Warga

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-kafe-menjadi-kebutuhan-kopi-tradisional-mulai-kehilangan-tempat/93861/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.38 WITA

  • #Warung Kopi
  • #kafe Its Milk

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Pilihan Editor

  1. 1 Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah
  2. 2

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  5. 5

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.