Penulis: Fayza Rahma Sifani, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Ada kontradiksi dalam cara generasi kita menjalani kehidupan. Di satu sisi, kita hidup pada masa ketika informasi mengenai krisis lingkungan semakin mudah diakses. Dalam hitungan detik, kita dapat mengetahui tentang perubahan iklim, deforestasi, pencemaran laut, kepunahan spesies, dan berbagai kerusakan ekologis yang terjadi di berbagai belahan dunia. Di sisi lain, kita juga hidup dalam budaya yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak, mengganti lebih cepat, dan menganggap konsumsi sebagai bagian yang wajar dari kehidupan sehari-hari.
Kita tahu bahwa bumi sedang menghadapi persoalan lingkungan yang serius. Namun, pengetahuan tersebut tidak selalu mengubah cara kita hidup. Kita masih membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan, mengganti sesuatu yang masih dapat digunakan, dan mengikuti berbagai tren yang membuat barang lama terasa tidak lagi cukup. Persoalannya bukan semata-mata karena kita tidak peduli. Justru, kontradiksi inilah yang perlu dipertanyakan: bagaimana mungkin seseorang mengetahui bahwa cara hidup tertentu memiliki konsekuensi terhadap lingkungan, tetapi tetap terus menjalani cara hidup tersebut?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena perilaku manusia tidak pernah terbentuk hanya dari pengetahuan yang dimilikinya. Apa yang kita beli, gunakan, dan anggap sebagai kebutuhan dipengaruhi oleh banyak hal mulai dari kebiasaan, lingkungan sosial, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, iklan, serta sistem produksi yang terus mendorong konsumsi. Kita tidak mengambil keputusan dalam ruang kosong. Pilihan-pilihan kita dibentuk oleh dunia tempat kita hidup.
Karena itu, menyederhanakan krisis lingkungan sebagai persoalan individu yang tidak cukup peduli dapat membuat kita gagal melihat persoalan yang lebih besar. Memang, setiap orang memiliki tanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya. Namun, tanggung jawab individu tidak seharusnya digunakan untuk menghapus tanggung jawab industri, pemerintah, dan sistem ekonomi yang turut menentukan bagaimana barang diproduksi, dikonsumsi, dan dibuang.
Di sinilah persoalan lingkungan menjadi lebih kompleks daripada sekadar ajakan untuk membawa tas belanja sendiri atau mengurangi penggunaan plastik. Tindakan-tindakan tersebut tetap penting, tetapi kita juga perlu bertanya mengapa kita terus menghasilkan begitu banyak barang yang pada akhirnya menjadi sampah. Kita perlu mempertanyakan mengapa sesuatu yang masih dapat digunakan harus segera diganti, mengapa konsumsi terus diposisikan sebagai tanda kemajuan, dan mengapa kenyamanan manusia sering kali dianggap lebih penting daripada dampak yang tidak langsung terlihat.
Masalahnya, sebagian besar konsekuensi dari cara hidup kita memang tidak hadir di depan mata. Ketika membeli sebuah produk, kita melihat harga, fungsi, dan kemasannya. Kita tidak selalu melihat sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya, energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatannya, atau limbah yang akan dihasilkan setelah produk tersebut tidak lagi digunakan. Ketika membuang sesuatu, kita melihat benda itu meninggalkan rumah kita. Namun, benda tersebut tidak benar-benar menghilang hanya karena kita tidak lagi melihatnya.
Jarak antara tindakan dan konsekuensi inilah yang sering kali membuat kerusakan lingkungan terasa begitu jauh dari kehidupan sehari-hari. Kita dapat membeli sesuatu dalam hitungan detik, tetapi tidak melihat seluruh proses yang diperlukan untuk menghasilkan barang tersebut. Kita dapat membuang sesuatu dengan mudah, tetapi tidak selalu mengetahui ke mana benda itu akan berakhir. Kita dapat menyaksikan berita tentang hutan yang terbakar atau laut yang tercemar melalui layar ponsel, tetapi tidak selalu merasakan secara langsung bagaimana kerusakan tersebut berkaitan dengan kehidupan kita.
Kita hidup dalam situasi yang cukup bertentangan. Informasi tentang krisis lingkungan tidak pernah semudah ini untuk diperoleh, tetapi hubungan kita dengan sebagian besar konsekuensi dari cara hidup kita justru sering kali terasa semakin jauh. Kita dapat mengetahui bahwa perubahan iklim sedang terjadi tanpa selalu merasakan hubungan langsung antara konsumsi, produksi, energi, dan kerusakan ekologis. Kita dapat melihat sampah menumpuk di tempat lain tanpa memikirkan ke mana sampah yang kita hasilkan sendiri akan pergi.
Mungkin, salah satu persoalan terbesar dalam krisis lingkungan adalah bahwa manusia semakin dekat dengan informasi tentang kerusakan, tetapi semakin jauh dari pengalaman atas akibatnya.
Namun, persoalan ini tidak berhenti pada jarak antara tindakan dan konsekuensi. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting yaitu cara kita memandang dunia di sekitar kita.
Hutan, misalnya, dapat dipandang sebagai ekosistem yang menopang kehidupan. Namun, hutan yang sama juga dapat dilihat sebagai lahan, kayu, atau komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Laut dapat dipahami sebagai bagian dari sistem kehidupan yang kompleks, tetapi juga dapat diperlakukan sebagai ruang yang cukup jauh untuk menampung sesuatu yang tidak lagi kita inginkan. Perbedaan cara pandang ini bukan sekadar persoalan pilihan kata. Cara manusia memahami sesuatu turut menentukan cara manusia memperlakukannya.
Ketika alam terutama dipahami sebagai sumber daya, pertanyaan yang muncul adalah apa yang dapat diambil darinya. Hutan menjadi kayu. Sungai menjadi sumber air. Tanah menjadi lahan. Laut menjadi sumber ikan atau ruang untuk membuang limbah. Dalam cara pandang seperti ini, alam cenderung ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di luar manusia sesuatu yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Padahal, manusia tidak pernah benar-benar berada di luar alam.
Udara yang kita hirup, air yang kita konsumsi, makanan yang kita makan, dan berbagai sumber daya yang menopang kehidupan tidak pernah hadir secara terpisah dari sistem ekologis yang lebih besar. Manusia memang dapat membangun kota, menciptakan teknologi, dan mengembangkan berbagai sistem kehidupan yang tampak semakin jauh dari alam. Namun, semua itu tetap bergantung pada kondisi ekologis yang memungkinkan kehidupan berlangsung.
Karena itu, ketika manusia merusak lingkungan, manusia tidak sedang menghancurkan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar dirinya. Manusia sedang merusak kondisi yang memungkinkan dirinya untuk hidup.
Barangkali, di sinilah kita perlu mengubah cara memahami persoalan lingkungan. Kita tidak hanya sedang membicarakan hutan, laut, udara, atau tanah sebagai objek yang perlu dijaga. Kita sedang membicarakan hubungan antara manusia dan dunia yang menjadi tempat keberadaannya.
Tidak semua orang memiliki pilihan yang sama. Tidak semua orang memiliki akses terhadap transportasi umum yang memadai. Tidak semua orang mampu membeli produk yang dianggap lebih ramah lingkungan. Tidak semua orang hidup dalam sistem pengelolaan sampah yang baik. Bahkan, pilihan yang tampak sederhana bagi sebagian orang dapat menjadi sesuatu yang sulit dilakukan oleh orang lain.
Karena itu, meminta setiap individu untuk memilih dengan lebih baik tanpa mempertanyakan sistem yang membentuk pilihan tersebut merupakan cara yang terlalu sederhana untuk memahami persoalan yang kompleks.
Individu tetap memiliki tanggung jawab. Namun, tanggung jawab individu tidak dapat berdiri sendiri.
Kita membutuhkan konsumen yang lebih kritis, tetapi kita juga membutuhkan industri yang lebih bertanggung jawab. Kita membutuhkan perubahan kebiasaan, tetapi kita juga membutuhkan kebijakan yang melindungi lingkungan. Kita membutuhkan kesadaran individu, tetapi kita juga membutuhkan perubahan dalam sistem produksi dan konsumsi.
Sebab, jika pilihan yang lebih ramah lingkungan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki cukup uang, waktu, dan akses, maka persoalan lingkungan juga menjadi persoalan keadilan.
Kita tidak dapat meminta semua orang membuat pilihan yang sama ketika tidak semua orang memiliki kondisi yang sama.
Kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh sistem sendirian. Namun, kita tetap dapat mempertanyakan kebiasaan yang selama ini dianggap wajar. Kita dapat membeli dengan lebih sadar, menggunakan barang lebih lama, memperbaiki sesuatu sebelum menggantinya, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, dan memperhatikan dampak dari pilihan yang kita buat.
Tindakan-tindakan tersebut mungkin tampak kecil. Namun, persoalannya bukan hanya seberapa besar dampak satu tindakan terhadap keseluruhan krisis lingkungan. Persoalannya juga adalah apakah kita bersedia mengubah hubungan kita dengan dunia di sekitar kita.
Perubahan tidak selalu dimulai dari tindakan yang besar. Terkadang, perubahan dimulai ketika seseorang berhenti menerima sesuatu sebagai hal yang wajar dan mulai bertanya mengapa sesuatu tersebut harus terus dilakukan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda