Oleh: Vebby Amelia, Mahasiswa Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Perhatikan linimasa media sosial dalam beberapa hari terakhir. Di antara konten tentang liburan, makanan, dan keseharian, kemungkinan besar akan terlihat konten tentang produktivitas: seseorang bangun pagi untuk berolahraga, membagikan jadwal yang padat dari pagi hingga malam, atau memberikan nasihat bahwa rasa lelah menunjukkan kurangnya disiplin. Dalam situasi seperti ini, istirahat perlahan menjadi sesuatu yang seolah perlu dibenarkan. Kita merasa harus memiliki alasan untuk tidur lebih lama, mengambil jeda, atau sekadar bersantai. Seakan-akan tubuh dan pikiran harus terus menghasilkan sesuatu agar kita tetap merasa berharga.
Fenomena ini lebih dari sekadar tren gaya hidup yang beredar di media sosial. Ada perubahan yang lebih mendalam dalam cara manusia memandang dirinya sendiri. Kita hidup dalam budaya yang mendorong setiap individu untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan keterampilan, membangun personal branding, mengikuti berbagai kegiatan, dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Menariknya, sering kali tidak ada pihak lain yang secara langsung memaksa kita melakukan semua itu. Justru, kita sendirilah yang menciptakan tuntutan tersebut.
Pemikiran Byung-Chul Han, filsuf kelahiran Korea Selatan yang berkiprah di Jerman, dapat membantu membaca fenomena ini. Dalam The Burnout Society yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada 2010, Han menjelaskan pergeseran dari masyarakat disipliner menuju masyarakat pencapaian (achievement society). Han menggunakan gagasan masyarakat disipliner yang sebelumnya dikembangkan Michel Foucault sebagai titik pembanding untuk menunjukkan bahwa bentuk kekuasaan dalam masyarakat modern telah mengalami perubahan.
Dalam masyarakat disipliner, perilaku individu banyak dibentuk melalui larangan, aturan, dan pengawasan dari luar. Institusi seperti sekolah, rumah sakit, penjara, dan pabrik memiliki mekanisme untuk mengatur bagaimana seseorang harus bertindak. Pesannya relatif sederhana: ada hal-hal yang boleh dilakukan dan ada yang tidak. Individu cenderung patuh karena terdapat struktur yang mengawasi dan membatasi perilakunya.
Namun, menurut Han, masyarakat modern semakin bergerak dari logika “tidak boleh” menuju logika “kamu bisa”. Sekilas, perubahan ini terdengar positif. Kita didorong untuk percaya bahwa memiliki banyak kemungkinan dan dapat mencapai berbagai hal selama mau berusaha. Masalahnya muncul ketika kebebasan tersebut berubah menjadi tuntutan untuk terus membuktikan kemampuan diri. Kata “bisa” yang awalnya terdengar seperti dorongan akhirnya dapat berubah menjadi tekanan: kalau kita bisa melakukan lebih banyak, mengapa berhenti?
Di sinilah paradoks masyarakat pencapaian muncul. Kita tidak lagi selalu membutuhkan orang lain untuk menyuruh kita bekerja lebih keras. Kita melakukannya sendiri. Kita menetapkan target, mengevaluasi diri, membandingkan pencapaian, menambah kegiatan, lalu membuat target baru ketika target sebelumnya tercapai. Tidak ada atasan yang terus mengawasi, tetapi suara dalam diri tetap mengatakan bahwa masih ada yang harus dilakukan. Kita menjadi pekerja sekaligus pengawas bagi diri sendiri. Dalam The Burnout Society, Han menulis, “The exploiter is simultaneously the exploited” (Han, 2015). Bagi Han, inilah salah satu paradoks masyarakat pencapaian: individu merasa bebas karena tidak dipaksa secara langsung oleh pihak luar, tetapi pada saat yang sama dapat mengeksploitasi dirinya sendiri melalui tuntutan untuk terus berprestasi.
Media sosial membuat pola tersebut semakin mudah terlihat. Kita dapat menyaksikan teman yang aktif berorganisasi, memenangkan perlombaan, memperoleh sertifikat, mengikuti magang, atau membangun bisnis pribadi. Masalahnya bukan karena mereka melakukan semua itu. Persoalan muncul ketika kehidupan orang lain yang terlihat melalui layar berubah menjadi tolok ukur untuk menilai kehidupan sendiri. Pencapaian seseorang dapat berubah menjadi pengingat bahwa kita belum melakukan cukup banyak.
Pada akhirnya, pengembangan diri yang awalnya positif dapat berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Kita tidak hanya ingin belajar, tetapi merasa harus terus belajar. Kita tidak hanya ingin aktif, tetapi merasa bersalah ketika tidak melakukan apa-apa. Bahkan waktu istirahat dapat berubah menjadi proyek baru. Kita mencari cara agar tidur lebih berkualitas, menyusun jadwal istirahat, mengikuti berbagai konten self-improvement, lalu merasa gagal ketika satu hari berlalu tanpa pencapaian apa pun.
Dalam pandangan Han, persoalannya bukan ambisi itu sendiri. Keinginan untuk berkembang bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Masalahnya muncul ketika individu kehilangan kemampuan untuk membedakan antara “saya ingin melakukan ini” dan “saya merasa harus melakukan ini agar tetap bernilai”. Ketika produktivitas menjadi ukuran utama untuk menilai keberhasilan diri, kegagalan mencapai target dapat dengan mudah berubah menjadi penilaian negatif terhadap diri sendiri.
Karena itu, kelelahan yang dibahas Han tidak semata-mata berkaitan dengan banyaknya pekerjaan. Ia melihat adanya tekanan ketika individu terus-menerus menuntut dirinya untuk mencapai lebih banyak. Kita merasa bebas karena tidak ada yang memaksa, tetapi justru karena tuntutan tersebut terasa berasal dari diri sendiri, tekanan itu menjadi sulit untuk dipertanyakan. Ketika gagal, kita menyalahkan diri sendiri. Ketika lelah, kita menganggap diri kurang disiplin. Ketika memilih berhenti sejenak, kita khawatir akan tertinggal.
Dalam situasi tersebut, mungkin kita perlu merenungkan kembali apa arti produktivitas. Apakah setiap waktu harus menghasilkan sesuatu? Apakah seseorang baru boleh merasa bangga ketika telah mencapai banyak hal? Apakah satu hari yang digunakan untuk beristirahat benar-benar merupakan hari yang sia-sia?
Tidak ada yang salah dengan memiliki tujuan, bekerja keras, atau berusaha menjadi lebih baik. Namun, manusia bukanlah proyek yang harus terus diperbarui. Ada kalanya kita bekerja karena memang memiliki tujuan, dan ada kalanya kita beristirahat karena tubuh membutuhkan jeda. Keduanya tidak saling bertentangan.
Salah satu bentuk perlawanan paling sederhana terhadap budaya pencapaian mungkin adalah berani mengakui bahwa kita tidak harus selalu produktif. Kita tidak perlu mengubah setiap waktu kosong menjadi kesempatan untuk berkembang. Tidak setiap hari harus diisi dengan pencapaian. Sebab, jika kita terus-menerus memaksa diri untuk berlari tanpa memberi kesempatan untuk berhenti, kita mungkin berhasil meraih banyak hal, tetapi kemudian lupa bertanya untuk apa semua usaha tersebut dilakukan.
Barangkali, persoalan terbesar manusia modern bukanlah kurangnya kebebasan. Sebaliknya, kita justru dihadapkan pada terlalu banyak kemungkinan, lalu merasa harus mengambil semuanya. Ketika tidak mampu, kita menghukum diri sendiri. Di dunia yang terus mengatakan “kamu bisa”, mungkin kita juga perlu sesekali memberi diri sendiri izin untuk mengatakan, “aku tidak harus melakukannya sekarang.”
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda