Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kita Bukan Lagi Diperintah, Kita Memerintah Diri Sendiri Sampai Lelah

Kita Bukan Lagi Diperintah, Kita Memerintah Diri Sendiri Sampai Lelah

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
09 Agustus 2026, 15.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Diri Sendiri

Oleh: Vebby Amelia, Mahasiswa Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

JurnalPost.com - Perhatikan linimasa media sosial dalam beberapa hari terakhir. Di antara konten tentang liburan, makanan, dan keseharian, kemungkinan besar akan terlihat konten tentang produktivitas: seseorang bangun pagi untuk berolahraga, membagikan jadwal yang padat dari pagi hingga malam, atau memberikan nasihat bahwa rasa lelah menunjukkan kurangnya disiplin. Dalam situasi seperti ini, istirahat perlahan menjadi sesuatu yang seolah perlu dibenarkan. Kita merasa harus memiliki alasan untuk tidur lebih lama, mengambil jeda, atau sekadar bersantai. Seakan-akan tubuh dan pikiran harus terus menghasilkan sesuatu agar kita tetap merasa berharga.

IKLAN

Fenomena ini lebih dari sekadar tren gaya hidup yang beredar di media sosial. Ada perubahan yang lebih mendalam dalam cara manusia memandang dirinya sendiri. Kita hidup dalam budaya yang mendorong setiap individu untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan keterampilan, membangun personal branding, mengikuti berbagai kegiatan, dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Menariknya, sering kali tidak ada pihak lain yang secara langsung memaksa kita melakukan semua itu. Justru, kita sendirilah yang menciptakan tuntutan tersebut.

Kita Masih Hidup
Baca Juga

Kita Tahu Bumi Sedang Rusak, Mengapa Kita Masih Hidup Seolah-olah Tidak Terjadi Apa-Apa?

Pemikiran Byung-Chul Han, filsuf kelahiran Korea Selatan yang berkiprah di Jerman, dapat membantu membaca fenomena ini. Dalam The Burnout Society yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada 2010, Han menjelaskan pergeseran dari masyarakat disipliner menuju masyarakat pencapaian (achievement society). Han menggunakan gagasan masyarakat disipliner yang sebelumnya dikembangkan Michel Foucault sebagai titik pembanding untuk menunjukkan bahwa bentuk kekuasaan dalam masyarakat modern telah mengalami perubahan.

Dalam masyarakat disipliner, perilaku individu banyak dibentuk melalui larangan, aturan, dan pengawasan dari luar. Institusi seperti sekolah, rumah sakit, penjara, dan pabrik memiliki mekanisme untuk mengatur bagaimana seseorang harus bertindak. Pesannya relatif sederhana: ada hal-hal yang boleh dilakukan dan ada yang tidak. Individu cenderung patuh karena terdapat struktur yang mengawasi dan membatasi perilakunya.

Namun, menurut Han, masyarakat modern semakin bergerak dari logika “tidak boleh” menuju logika “kamu bisa”. Sekilas, perubahan ini terdengar positif. Kita didorong untuk percaya bahwa memiliki banyak kemungkinan dan dapat mencapai berbagai hal selama mau berusaha. Masalahnya muncul ketika kebebasan tersebut berubah menjadi tuntutan untuk terus membuktikan kemampuan diri. Kata “bisa” yang awalnya terdengar seperti dorongan akhirnya dapat berubah menjadi tekanan: kalau kita bisa melakukan lebih banyak, mengapa berhenti?

Di sinilah paradoks masyarakat pencapaian muncul. Kita tidak lagi selalu membutuhkan orang lain untuk menyuruh kita bekerja lebih keras. Kita melakukannya sendiri. Kita menetapkan target, mengevaluasi diri, membandingkan pencapaian, menambah kegiatan, lalu membuat target baru ketika target sebelumnya tercapai. Tidak ada atasan yang terus mengawasi, tetapi suara dalam diri tetap mengatakan bahwa masih ada yang harus dilakukan. Kita menjadi pekerja sekaligus pengawas bagi diri sendiri. Dalam The Burnout Society, Han menulis, “The exploiter is simultaneously the exploited” (Han, 2015). Bagi Han, inilah salah satu paradoks masyarakat pencapaian: individu merasa bebas karena tidak dipaksa secara langsung oleh pihak luar, tetapi pada saat yang sama dapat mengeksploitasi dirinya sendiri melalui tuntutan untuk terus berprestasi.

Hubungan Toksik
Baca Juga

Saat Kebebasan Terasa Menakutkan: Mengapa Sulit Meninggalkan Hubungan Toksik?

IKLAN

Media sosial membuat pola tersebut semakin mudah terlihat. Kita dapat menyaksikan teman yang aktif berorganisasi, memenangkan perlombaan, memperoleh sertifikat, mengikuti magang, atau membangun bisnis pribadi. Masalahnya bukan karena mereka melakukan semua itu. Persoalan muncul ketika kehidupan orang lain yang terlihat melalui layar berubah menjadi tolok ukur untuk menilai kehidupan sendiri. Pencapaian seseorang dapat berubah menjadi pengingat bahwa kita belum melakukan cukup banyak.

Pada akhirnya, pengembangan diri yang awalnya positif dapat berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Kita tidak hanya ingin belajar, tetapi merasa harus terus belajar. Kita tidak hanya ingin aktif, tetapi merasa bersalah ketika tidak melakukan apa-apa. Bahkan waktu istirahat dapat berubah menjadi proyek baru. Kita mencari cara agar tidur lebih berkualitas, menyusun jadwal istirahat, mengikuti berbagai konten self-improvement, lalu merasa gagal ketika satu hari berlalu tanpa pencapaian apa pun.

Dalam pandangan Han, persoalannya bukan ambisi itu sendiri. Keinginan untuk berkembang bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Masalahnya muncul ketika individu kehilangan kemampuan untuk membedakan antara “saya ingin melakukan ini” dan “saya merasa harus melakukan ini agar tetap bernilai”. Ketika produktivitas menjadi ukuran utama untuk menilai keberhasilan diri, kegagalan mencapai target dapat dengan mudah berubah menjadi penilaian negatif terhadap diri sendiri.

Karena itu, kelelahan yang dibahas Han tidak semata-mata berkaitan dengan banyaknya pekerjaan. Ia melihat adanya tekanan ketika individu terus-menerus menuntut dirinya untuk mencapai lebih banyak. Kita merasa bebas karena tidak ada yang memaksa, tetapi justru karena tuntutan tersebut terasa berasal dari diri sendiri, tekanan itu menjadi sulit untuk dipertanyakan. Ketika gagal, kita menyalahkan diri sendiri. Ketika lelah, kita menganggap diri kurang disiplin. Ketika memilih berhenti sejenak, kita khawatir akan tertinggal.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Dalam situasi tersebut, mungkin kita perlu merenungkan kembali apa arti produktivitas. Apakah setiap waktu harus menghasilkan sesuatu? Apakah seseorang baru boleh merasa bangga ketika telah mencapai banyak hal? Apakah satu hari yang digunakan untuk beristirahat benar-benar merupakan hari yang sia-sia?

Tidak ada yang salah dengan memiliki tujuan, bekerja keras, atau berusaha menjadi lebih baik. Namun, manusia bukanlah proyek yang harus terus diperbarui. Ada kalanya kita bekerja karena memang memiliki tujuan, dan ada kalanya kita beristirahat karena tubuh membutuhkan jeda. Keduanya tidak saling bertentangan.

Salah satu bentuk perlawanan paling sederhana terhadap budaya pencapaian mungkin adalah berani mengakui bahwa kita tidak harus selalu produktif. Kita tidak perlu mengubah setiap waktu kosong menjadi kesempatan untuk berkembang. Tidak setiap hari harus diisi dengan pencapaian. Sebab, jika kita terus-menerus memaksa diri untuk berlari tanpa memberi kesempatan untuk berhenti, kita mungkin berhasil meraih banyak hal, tetapi kemudian lupa bertanya untuk apa semua usaha tersebut dilakukan.

Barangkali, persoalan terbesar manusia modern bukanlah kurangnya kebebasan. Sebaliknya, kita justru dihadapkan pada terlalu banyak kemungkinan, lalu merasa harus mengambil semuanya. Ketika tidak mampu, kita menghukum diri sendiri. Di dunia yang terus mengatakan “kamu bisa”, mungkin kita juga perlu sesekali memberi diri sendiri izin untuk mengatakan, “aku tidak harus melakukannya sekarang.”

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/kita-bukan-lagi-diperintah-kita-memerintah-diri-sendiri-sampai-lelah/96735/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.38 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pilihan Editor

  1. 1 Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat
  2. 2

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  5. 5

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.