Surabaya, JurnalPost.com – Sepanjang tahun 2025, Jawa Timur kembali diguncang sejumlah insiden yang melibatkan anggota perguruan pencak silat. Meski pencak silat dikenal sebagai warisan budaya bangsa, rentetan peristiwa ini menimbulkan stigma negatif akibat ulah oknum yang bertindak di luar nilai persaudaraan dan sportivitas. Berikut rangkaian kasus yang tercatat:
Mei 2025 – Penangkapan Anggota Silat di Blitar Polres Blitar mengamankan lima anggota perguruan silat asal Tulungagung karena diduga mengganggu ketertiban di Jalan Raya Kanigoro, dekat Kantor Kabupaten Blitar. Polisi menjelaskan bahwa langkah ini merupakan pencegahan dini untuk menghindari bentrokan yang lebih besar.
Juni 2025 – Pengeroyokan Salah Sasaran di Sukolilo, Surabaya Insiden paling menyita perhatian publik terjadi di Jalan Arif Rahman Hakim, Sukolilo, Surabaya. Belasan pemuda yang diduga anggota perguruan silat melakukan pengeroyokan terhadap dua warga sipil. Korban yang tidak memiliki kaitan dengan perguruan silat menjadi sasaran salah alamat dan mengalami luka-luka serius.
“Pengeroyokan ini jelas tindakan kriminal. Kami tindak tegas agar tidak terulang lagi,” tegas Kapolsek Sukolilo Kompol Arief Wibowo kepada awak media.
Agustus 2025 – Polemik Kejuaraan Ilegal di Blitar Ketua PSHT Kabupaten Blitar menilai kejuaraan pencak silat Ngelgok Cup 2025 ilegal karena tidak berkoordinasi dengan pengurus resmi serta mencantumkan logo organisasi tanpa izin. Meski tidak berujung bentrokan fisik, kasus ini menimbulkan ketegangan internal di kalangan anggota. Analisis Psikologi Sosial Fenomena berulang ini dapat dipahami sebagai bentuk patologi sosial, di mana perilaku menyimpang mengganggu tatanan masyarakat. Dalam perspektif psikologi sosial, teori identitas sosial dan frustrasi-agresi menjelaskan bagaimana loyalitas kelompok bisa berubah menjadi konflik terbuka. Deindividuasi, scapegoating, hingga tekanan konformitas semakin memperparah potensi kekerasan.
Menurut Dr. Nur Kholis, dosen Psikologi Sosial Universitas Airlangga:
“Jika hanya mengandalkan hukum, kekerasan akan berulang. Perlu ada transformasi budaya organisasi dan penguatan komunikasi internal agar perguruan silat kembali pada nilai persaudaraan dan sportivitas.”
Penutup Dengan adanya rangkaian insiden pada Mei, Juni, dan Agustus 2025, terlihat bahwa persoalan perguruan silat tidak hanya soal kriminalitas, tetapi juga fenomena sosial yang kompleks. Penyelesaian perlu dilakukan dengan strategi multidimensi, melibatkan hukum, pendidikan karakter, hingga pendekatan budaya lokal.
Oleh: Naufal Febri Agustiyar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda