Penulis : Herlina Suksmawati Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur
JurnalPost.com - Pelestarian Budaya Tionghoa Di Kampung Pecinan Kya-Kya: Membangun Ruang Kolaborasi Lintas Generasi Di Tengah Arus Modernisasi. Kampung Pecinan Kya-Kya Surabaya merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan kekayaan budaya Tionghoa, baik dari segi arsitektur, kuliner, hingga tradisi keagamaan dan kesenian.
Kawasan ini telah menjadi simbol akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa, serta menjadi daya tarik wisata budaya di Kota Surabaya. Namun, seiring dengan masifnya arus modernisasi dan globalisasi, ruang-ruang budaya tradisional seperti Kya-Kya mengalami tantangan besar dalam mempertahankan eksistensinya di tengah dominasi budaya populer dan gaya hidup urban.
Kampung Pecinan Kya-Kya Surabaya adalah representasi nyata dari akulturasi budaya yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Namun, keberadaan nilai-nilai budaya Tionghoa yang melekat di kawasan ini menghadapi tantangan serius akibat laju modernisasi, perubahan gaya hidup, serta kurangnya keterlibatan generasi muda dan masyarakat umum dalam upaya pelestariannya. Generasi muda yang seharusnya menjadi pewaris kebudayaan justru semakin terasing dari akar tradisinya.
Minimnya ruang dialog lintas generasi dan kurangnya aktivitas budaya yang dikemas secara menarik membuat kebudayaan Tionghoa mulai kehilangan relevansinya di mata anak muda. Tak hanya itu, sebagian masyarakat luas pun cenderung melihat budaya Tionghoa di Kya-Kya hanya sebagai atraksi seremonial atau pelengkap wisata kuliner, bukan sebagai bagian dari identitas kota yang harus dijaga secara aktif dan kolaboratif.

Rendahnya partisipasi ini berpotensi menyebabkan budaya Tionghoa mengalami degradasi makna hanya tersisa bentuk visual tanpa substansi nilai yang hidup. Oleh karena itu, perlu adanya gerakan sosial yang mampu menjembatani jarak antara budaya tradisional dan perkembangan zaman, sekaligus mengajak masyarakat luas dan generasi muda menjadi bagian dari proses pelestarian yang aktif, kritis, dan kreatif.
Melalui proyek ini, yang menekankan pelibatan komunitas, media digital, serta kegiatan edukatif dan seni berbasis kolaborasi, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran budaya, regenerasi pelaku budaya muda, serta penguatan identitas Kya-Kya sebagai kawasan yang tidak hanya "hidup" secara fisik, tetapi juga secara kultural. Dengan pendekatan yang partisipatif dan inklusif, proyek ini ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab komunitas etnis tertentu, melainkan tugas kolektif masyarakat kota yang majemuk dan berbudaya.
Gerakan ini akan difokuskan pada penguatan identitas budaya melalui aktivitas seni, edukasi publik, serta pelibatan masyarakat lokal dalam kegiatan kebudayaan yang relevan dengan konteks kekinian.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda