Oleh: Ayu Ramadhani, Mahasiswa Universitas Airlangga
JurnalPost.com - Di tengah kabar Gunung Anak Krakatau yang kembali mengalami erupsi dan menyebarkan abu vulkanik hingga mengganggu penerbangan di Soekarno-Hatta, muncul sebuah ramalan dari pria asal Kanada bernama Frankie MacDonald yang memprediksi Indonesia akan diguncang gempa besar. Dalam hitungan jam, video tersebut menyebar luas di media sosial, dibagikan ulang ke berbagai grup WhatsApp keluarga, dan mendapat ribuan komentar dari warganet. Hingga akhirnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus turun tangan memberikan klarifikasi.
Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru dan sangat mungkin terus berulang. Selama bertahun-tahun, polanya hampir selalu sama. Sebuah bencana terjadi, kemudian muncul informasi bahwa bencana yang lebih besar akan segera menyusul. Pesan tersebut menyebar dengan cepat, sementara klarifikasi dari lembaga resmi baru datang setelah kegelisahan masyarakat terlanjur meluas.
Yang berubah hanyalah siapa pembawa pesannya, media yang digunakan, serta cara informasi itu dikemas. Dahulu, ramalan bencana beredar melalui pesan berantai. Kini, informasi serupa menyebar melalui Instagram, TikTok, YouTube, atau potongan video yang dilepaskan dari konteks aslinya. Bahkan, seseorang dari luar negeri yang mengklaim mampu membaca pertanda alam dapat memperoleh perhatian besar ketika berbicara tentang kemungkinan gempa di Indonesia.
Fenomena ramalan bencana menjadi menarik untuk diperhatikan bukan semata-mata karena viral bersamaan dengan erupsi Anak Krakatau, melainkan karena momentum seperti itulah yang membuatnya jauh lebih mudah dipercaya.
Ketika masyarakat sudah diliputi kecemasan setelah menyaksikan abu vulkanik, gangguan penerbangan, atau pemberitaan mengenai aktivitas gunung api, ruang psikologis untuk mempercayai ancaman berikutnya menjadi lebih terbuka. Kecemasan yang awalnya memiliki dasar terhadap satu peristiwa dapat dengan mudah bergeser menjadi ketakutan terhadap bencana lain yang belum tentu memiliki dasar ilmiah.
Ada beberapa alasan mengapa konten semacam ini cenderung menyebar lebih cepat dibandingkan klarifikasi berbasis sains.
Pertama, ramalan bencana menawarkan kepastian palsu di tengah ketidakpastian. Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum mampu menentukan secara pasti kapan, di mana, dan seberapa besar suatu gempa bumi akan terjadi. Ketidakpastian tersebut dapat membuat sebagian masyarakat mencari jawaban dari sumber lain yang terdengar lebih meyakinkan, meskipun kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pernyataan sederhana seperti “gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat” terasa lebih mudah diterima dibandingkan penjelasan ilmiah yang harus menerangkan probabilitas, aktivitas tektonik, parameter gempa, hingga keterbatasan teknologi prediksi.
Kedua, algoritma media sosial tidak selalu memprioritaskan kebenaran. Platform digital bekerja dengan mengutamakan keterlibatan pengguna atau engagement. Konten yang memicu ketakutan, keterkejutan, atau rasa penasaran secara alami berpotensi mendapatkan lebih banyak komentar, dibagikan lebih banyak orang, dan memperoleh tayangan lebih tinggi dibandingkan siaran pers resmi yang cenderung menggunakan bahasa formal.
Klarifikasi BMKG mungkin lebih faktual dan dapat dipertanggungjawabkan, tetapi sebuah video dengan judul dramatis seperti “Waspada! Gempa Besar Akan Segera Terjadi” tentu jauh lebih efektif dalam menarik perhatian pengguna yang sedang menggulir lini masa.
Ketiga, kita hidup pada zaman ketika hampir siapa saja dapat membangun citra sebagai figur berotoritas hanya dengan kamera, akun media sosial, dan kepercayaan diri. Seseorang tanpa latar belakang geofisika sekalipun dapat memperoleh panggung lebih besar daripada ahli gempa dan tsunami apabila kontennya dikemas secara lebih menarik, dramatis, dan mudah dipahami.
Masalahnya, sebagian masyarakat kemudian kesulitan membedakan antara popularitas dan kredibilitas. Banyaknya pengikut, jumlah tayangan, atau seberapa sering sebuah video dibagikan tidak otomatis membuktikan bahwa informasi di dalamnya benar.
Sebagian orang mungkin menganggap ramalan semacam ini sebagai sesuatu yang sepele. Mereka menonton, merasa penasaran, lalu melupakannya. Namun, dampaknya dapat muncul dalam kehidupan nyata.
Keresahan tanpa dasar dapat memicu kepanikan, mendorong masyarakat mengambil keputusan tergesa-gesa, termasuk mengungsi tanpa arahan lembaga berwenang. Sebaliknya, terlalu banyak ramalan yang tidak terbukti juga dapat menimbulkan kelelahan informasi atau information fatigue. Ketika masyarakat berulang kali menerima peringatan yang ternyata tidak benar, mereka berisiko mengabaikan peringatan yang benar-benar penting pada masa mendatang.
Ada pula konsekuensi lain yang tidak kalah serius, yaitu terkikisnya kepercayaan terhadap institusi resmi.
Setiap kali ramalan bencana lebih dahulu viral sementara lembaga resmi datang belakangan untuk memberikan klarifikasi, masyarakat perlahan dapat membentuk persepsi keliru bahwa sumber yang dramatis lebih layak dipercaya daripada sumber yang kredibel. Kondisi seperti ini sangat berbahaya bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi dan sangat membutuhkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peringatan dini.
Tentu ada pihak yang berpendapat bahwa terlalu waspada lebih baik daripada lengah. Video ramalan bencana, menurut pandangan tersebut, setidaknya dapat mendorong masyarakat untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Namun, kesiapsiagaan yang dibangun atas dasar informasi keliru bukanlah kesiapsiagaan yang sehat dan berkelanjutan.
Ketika ramalan demi ramalan ternyata tidak terbukti, masyarakat dapat menjadi semakin sinis terhadap peringatan bencana. Pada akhirnya, mereka bukan hanya tidak percaya kepada pembuat ramalan, tetapi juga dapat kehilangan sensitivitas terhadap informasi kredibel. Efek seperti ini justru berpotensi melemahkan kewaspadaan dalam jangka panjang.
Karena itu, persoalannya tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyalahkan warganet karena dianggap mudah percaya. Ada pertanyaan lain yang juga perlu diajukan: mengapa komunikasi lembaga resmi terkadang masih kalah menarik dibandingkan informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah?
BMKG dan lembaga terkait perlu terus mengembangkan komunikasi publik yang cepat, sederhana, visual, dan mudah dipahami masyarakat. Informasi faktual seharusnya tidak hanya muncul dalam bentuk siaran pers formal setelah suatu isu telanjur viral. Klarifikasi perlu hadir di ruang yang sama dengan tempat hoaks menyebar: TikTok, Instagram, YouTube, WhatsApp, hingga berbagai platform digital lainnya.
Kecepatan menjadi penting karena dalam ekosistem media sosial, kekosongan informasi hampir selalu segera diisi oleh spekulasi.
Di sisi lain, literasi digital mengenai kebencanaan juga perlu menjadi bagian penting dalam pendidikan masyarakat. Pembelajaran mengenai cara memeriksa informasi semestinya mendapat perhatian sebagaimana simulasi evakuasi bencana di sekolah.
Masyarakat perlu dibiasakan mengajukan tiga pertanyaan sederhana sebelum mempercayai atau membagikan sebuah informasi: siapa sumbernya, apa dasar ilmiahnya, dan apakah informasi tersebut telah dikonfirmasi lembaga berwenang?
Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi benteng pertama untuk memutus rantai penyebaran informasi yang belum terbukti sebelum berubah menjadi kepanikan yang lebih luas.
Gunung akan terus mengalami aktivitas vulkanik, lempeng bumi akan terus bergerak, dan kemungkinan selalu ada orang yang mencoba memanfaatkan ketakutan publik melalui berbagai ramalan. Namun, ujian yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada mereka yang membuat prediksi.
Ujiannya terletak pada kita sebagai masyarakat: apakah kita bersedia memeriksa kebenaran terlebih dahulu sebelum membiarkan ketakutan berbicara lebih keras daripada fakta?
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda