Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Senjata atau Belenggu? Saat Teknologi Justru Membuat Kita Lupa Jadi Manusia

Senjata atau Belenggu? Saat Teknologi Justru Membuat Kita Lupa Jadi Manusia

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
16 Desember 2025, 14.11 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Belenggu

JurnalPost.com - Kita hidup di era yang paling terhubung dalam sejarah umat manusia. Kemajuan teknologi digital hadir bagai angin segar, menjanjikan efisiensi, pengetahuan tanpa batas, dan cara baru untuk menjalani hidup. Melalui gawai di genggaman, kita menjelajah dunia, menjalin pertemanan lintas benua, dan mengakses informasi yang dulu hanya terpendam di perpustakaan elit. Semua ini dicapai hanya dengan sentuhan jari dan koneksi internet. Namun, di balik kemudahan yang memesona ini, ada bayangan panjang yang kerap kita abaikan dalam terangnya layar ponsel. Ada pertanyaan mendesak yang harus kita ajukan pada diri sendiri: dalam upaya kita untuk terhubung dengan dunia, apakah kita justru kehilangan hubungan dengan esensi diri kita yang paling manusiawi? Apakah teknologi ini sungguh-sungguh membebaskan, atau justru secara halus membentuk kita menjadi versi yang lebih dangkal, lebih mudah diprediksi, dan lebih mudah dikendalikan?

Transformasi ini tidak datang seperti badai yang tiba-tiba, melainkan merayap masuk seperti kabut, perlahan tapi pasti membasahi setiap aspek kehidupan. Tahap pertama dan paling terlihat adalah migrasi besar-besaran aktivitas kita ke dunia maya. Toko buku, pusat perbelanjaan, ruang kelas, bahkan arena bermain, semuanya kini memiliki replika digitalnya. Kita berbelanja di marketplace, belajar melalui webinar, dan bersosialisasi di dalam feed media sosial. Dunia fisik dan digital telah bersinggungan, tetapi seringkali yang virtual mulai mendominasi. Efisiensi yang ditawarkan memang tak terbantahkan. Namun, di balik tirai kenyamanan ini, kita sedang menyerahkan kedaulatan atas ruang hidup kita. Platform-platform yang kita andalkan—untuk bekerja, bersosialisasi, dan mendapatkan informasi—sebagian besar dimiliki dan diatur oleh segelintir korporasi raksasa teknologi. Tanpa kita sadari, kita telah menggadaikan data pribadi, preferensi, dan bahkan pola perilaku kita sebagai bayaran untuk layanan yang "gratis" ini. Ruang publik yang dulu netral kini telah diprivatisasi, dan algoritma tidak kasat mata menentukan apa yang kita lihat, dengar, dan akhirnya, percayai.

IKLAN

Perubahan mendasar berikutnya terjadi pada cara kita berkomunikasi dan memproses informasi. Media sosial dan platform pesan instan telah mengubah lanskap percakapan kita secara radikal. Narasi panjang yang koheren, seperti artikel atau buku, kalah bersaing dengan konten-konten pendek yang dirancang untuk menangkap perhatian dalam hitungan detik: reel, story, dan potongan video viral. Otak kita, yang secara alami tertarik pada stimulus baru, dengan cepat beradaptasi pada pola konsumsi informasi yang terfragmentasi ini. Kapasitas kita untuk menyimak argumen yang kompleks dan bernuansa mulai mengerdil. Kita terbiasa dengan kepuasan instan dari likes dan shares, yang seringkali lebih dihargai daripada kedalaman diskusi. Akibatnya, ruang dialog berubah menjadi medan pertempuran singkat di mana emosi mengalahkan logika, dan sensasi menguasai substansi. Kita terjebak dalam "gelembung filter", di mana algoritma hanya menyajikan konten yang sesuai dengan pandangan kita sebelumnya, memperdalam polarisasi dan membuat kita sulit memahami sudut pandang yang berbeda. Dalam lautan informasi yang luas, ironisnya, kita justru berenang dalam kolam ketidaktahuan yang sempit.

BPDD Jakarta
Baca Juga

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Namun, lapisan transformasi yang paling dalam dan paling mengkhawatirkan adalah perubahan dalam cara kita memandang nilai diri kita sendiri dan orang lain. Dalam ekosistem digital yang digerakkan oleh ekonomi perhatian dan monetisasi data, manusia secara bertahap direduksi dari subjek yang utuh menjadi sekumpulan titik data. Setiap klik, tayangan, dan durasi penelusuran kita dicatat, dianalisis, dan digunakan untuk memprediksi perilaku kita selanjutnya. Kita tidak lagi dilihat sebagai individu dengan cerita hidup yang kompleks, melainkan sebagai profil konsumen dengan segmen pasar tertentu. Perhatian kita adalah komoditas yang diperebutkan, emosi kita adalah target yang dapat dimanipulasi oleh iklan yang disesuaikan, dan waktu kita adalah sumber daya yang diekstraksi. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Alat diciptakan untuk menembus batas yang tak terjangkau tenaga semata, bukan untuk menjadi panggung euforia atas mandeknya perkembangan diri yang sejati. Kutipan ini menyadarkan kita pada bahaya terbesar: ketika kita begitu asyik bersenang-senang dalam ilusi kemajuan teknologi, kita justru berhenti bertumbuh secara intelektual dan emosional. Kita menjadi puas dengan kepasifan, dihibur tanpa henti sambil kehilangan kemampuan untuk berkontemplasi, bersabar, dan berempati secara mendalam.

Lalu, di tengah arus deras ini, apakah kita hanya bisa pasrah? Tentu tidak. Langkah pertama adalah mengembangkan kesadaran kritis. Kita harus beralih dari menjadi pengguna yang naif menjadi pengguna yang melek digital. Ini berarti tidak hanya tahu cara mengoperasikan aplikasi, tetapi juga mempertanyakan motif di baliknya. Siapa yang membiayai platform ini? Bagaimana mereka menghasilkan uang? Mengapa konten tertentu muncul di timeline saya? Kita perlu secara aktif mengkurasi asupan informasi kita, mencari sumber yang berimbang, dan berani meluangkan waktu untuk konten yang mendalam.

IKLAN

Langkah kedua adalah membangun kemandirian digital. Ini termasuk melindungi data pribadi kita, memahami pengaturan privasi, dan mengurangi ketergantungan pada satu atau dua platform saja. Kita juga harus mendorong dan mendukung kebijakan publik yang melindungi kedaulatan digital warganya, seperti undang-undang perlindungan data pribadi yang kuat dan regulasi yang mencegah praktik monopoli serta manipulasi algoritma yang tidak transparan.

Akhirnya, dan yang terpenting, adalah dengan sengaja memelihara ruang manusiawi kita. Teknologi harus menjadi pelayan, bukan penguasa waktu dan perhatian kita. Kita perlu dengan disiplin menciptakan "zona bebas gadget", di mana kita dapat membaca buku fisik dari awal hingga akhir, melakukan percakapan tatap muka tanpa gangguan notifikasi, atau sekadar berdiam diri dengan pikiran kita sendiri. Latihan kesabaran, kedalaman berpikir, dan kehadiran penuh dalam momen nyata adalah antibodi terbaik terhadap budaya instan dan dangkal.

Riverbank Environmental Inspection
Baca Juga

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah peradaban bukanlah pada kecanggihan teknologinya semata, tetapi pada kualitas manusia yang menghuninya. Transformasi digital yang sejati bukanlah tentang mengubah semua hal menjadi digital, tetapi tentang menggunakan alat digital itu untuk memperkuat segala hal yang membuat kita manusia: kemampuan untuk merasakan empati yang dalam, berpikir kritis dengan bijaksana, dan terhubung satu sama lain dengan otentisitas. Tantangan terbesar kita di abad ini bukanlah menguasai kode pemrograman, tetapi menjaga kode etik dan kemanusiaan kita agar tidak tergerus. Masa depan akan ditentukan bukan oleh siapa yang memiliki algoritma terkuat, tetapi oleh siapa yang masih mampu mendengarkan bisikan hati nuraninya di tengah kebisingan digital yang tak pernah henti.

Ahmad Rijaludin

Biodata Penulis: Ahmad Rijaludin, Mahasiswa S1 dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Non Formal, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Serang, Provinsi Banten, Indonesia.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/senjata-atau-belenggu-saat-teknologi-justru-membuat-kita-lupa-jadi-manusia/89166/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.28 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang
  2. 2

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  3. 3

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  4. 4

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  5. 5

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.