Hong Kong, JurnalPost.com - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperluas kiprahnya di kancah internasional melalui program Pengabdian Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI). Kali ini, tim dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UMS hadir di tengah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong dengan membawa misi: memberdayakan buruh migran lewat edukasi kesehatan, khususnya pencegahan dan pengelolaan hipertensi serta diabetes melitus. Berdasarkan data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) tahun 2024, tercatat lebih dari 92.000 PMI bekerja di Hong Kong, mayoritas di sektor domestik. Tingginya beban kerja, minimnya akses layanan kesehatan, serta hambatan bahasa membuat PMI rentan terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Sekretaris Prodi Internasional Program Studi Keperawatan UMS, Siti Arifah, S.Kp., M.Kes., Ph.D, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar sosialisasi, melainkan upaya nyata untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PMI dalam menjaga kesehatan diri. “Melalui pelatihan, modul edukasi, hingga pendampingan berbasis komunitas, kami berharap para PMI mampu melakukan deteksi dini sekaligus mengelola kesehatan secara mandiri,” ujarnya dalam kegiatan yang berlangsung Minggu (27/7/2025) di kantor Equal Opportunities Commission (EOC), Wong Chuk Hang, Hong Kong. Dalam kegiatan ini, tim UMS menawarkan berbagai solusi untuk menjawab tantangan kesehatan yang dihadapi PMI di Hong Kong. Program dirancang melalui pelatihan dan edukasi kesehatan berbasis komunitas, penyusunan serta distribusi modul, buku saku, dan media digital edukatif berbahasa Indonesia, hingga pelatihan deteksi dini hipertensi dan diabetes dengan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu.
Metode kegiatan meliputi tahap persiapan (koordinasi dengan organisasi PMI dan KJRI, serta asesmen kebutuhan), pelaksanaan (ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi praktik pemeriksaan kesehatan, serta pelatihan kader), dan evaluasi (pre–post test pengetahuan, observasi praktik, serta umpan balik peserta). Program ini dilaksanakan dalam satu sesi tatap muka secara offline. Rangkaian kegiatan meliputi pengecekan tekanan darah dan gula darah, pelatihan pola diet sehat, senam relaksasi, hingga edukasi hukum terkait diskriminasi pekerja migran yang bekerja sama dengan Equal Opportunities Commission (EOC) Hong Kong. Selain itu, tim juga melatih kader kesehatan dari kalangan PMI agar mampu menjadi agen edukasi berkelanjutan di komunitasnya.
Pada kegiatan penyuluhan mengenai perlindungan hukum dan isu diskriminasi yang melibatkan kerja sama dengan Equal Opportunities Commission (EOC) Hong Kong, Corporate Trainer dan Motivational Speaker, Devi Novianti, SH., LLM., HR, menekankan pentingnya perlindungan hukum bagi pekerja migran yang sedang sakit. Ia menjelaskan bahwa UU Anti Diskriminasi hadir untuk memastikan tidak ada individu yang diperlakukan tidak adil karena kondisi kesehatannya, baik akibat penyakit kronis maupun penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes. UMS juga mengembangkan kader kesehatan PMI agar mampu menjadi agen edukasi berkelanjutan di komunitasnya. Para mitra turut berperan penting, mulai dari menyediakan lokasi kegiatan (kantor EOC, KJRI, hingga tempat ibadah), menyebarluaskan informasi kepada peserta, hingga mendorong keberlanjutan program melalui komunitas relawan. Organisasi SaranMu juga berkolaborasi untuk memperkuat edukasi terkait diskriminasi dan hak-hak pekerja migran.
Salah satu peserta, Sri Nasiati Umaroh, mengaku bahwa selama ini dirinya jarang mendapatkan informasi kesehatan yang disampaikan dengan cara sederhana dan mudah dipahami. “Senang sekali bisa belajar langsung dari dosen dan mahasiswa UMS,” tutur Sri yang telah bekerja di Hong Kong selama delapan tahun. Sri berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti hanya sekali, melainkan bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. “Semoga ke depan bisa diadakan lagi, bahkan rutin. Karena banyak dari kami yang masih membutuhkan pengetahuan tentang menjaga kesehatan, apalagi bagi yang sudah bertahun-tahun bekerja di luar negeri,” ujarnya. Baginya, kegiatan ini tidak sekadar pelatihan, melainkan wujud nyata kepedulian yang sangat berharga di tengah keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan yang mereka hadapi.
Melalui kegiatan ini, UMS tidak hanya berperan dalam peningkatan kesehatan PMI, tetapi juga memperkuat diplomasi sosial dan akademik Indonesia di kancah internasional. Hasil kegiatan ditargetkan menghasilkan modul edukasi, buku saku “Sehat di Negeri Orang”, publikasi ilmiah, hingga hak cipta media edukasi digital. Program ini mendapat dukungan penuh dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, organisasi masyarakat, serta komunitas SaranMu yang aktif mendampingi PMI.
Penulis: Siti Arifah, S.Kp., M.Kes Organisasi: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda