Penulis: Fatma Emilia Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
JurnalPost.com - Setiap kali beli makanan kemasan, entah itu biskuit, sereal, atau minuman kekinian, pasti di bagian belakang bungkusnya ada tabel kecil berisi angka-angka. Ada tulisan kalori, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan sebagainya. Tapi pernah gak kamu mikir, dari mana semua angka itu berasal?
Label gizi sering dianggap cuma formalitas, padahal angka di situ hasil dari proses panjang dan pengujian yang serius di laboratorium. Di balik satu baris “protein 8 gram” atau “lemak 5 gram”, ada penelitian dan perhitungan detail yang dilakukan supaya kita tahu apa yang sebenarnya kita makan.
Label itu bukan sekadar pajangan di kemasan, tapi hasil kerja ilmiah yang penting banget: evaluasi nilai gizi pangan. Lewat proses inilah setiap kandungan dalam makanan diuji, dihitung, dan diverifikasi supaya produk yang sampai ke tangan konsumen bukan cuma enak, tapi juga aman dan benar sesuai klaim gizinya.
Apa Itu Evaluasi Nilai Gizi? Evaluasi nilai gizi adalah tahap pengujian untuk mengetahui berapa banyak zat gizi yang terkandung dalam suatu bahan atau produk makanan. Tujuannya bukan hanya untuk memenuhi aturan pelabelan, tapi juga memastikan bahwa makanan tersebut benar-benar punya nilai gizi yang sesuai dengan yang tertera di kemasan.
Sebelum angka-angka gizi tercantum di label kemasan, semuanya lebih dulu melewati proses pengujian di laboratorium. Setiap komponen diuji dengan cara yang berbeda, mulai dari kadar air, lemak, protein, karbohidrat, sampai mineral. Semua pengujian ini dilakukan dengan tujuan yang sama: memastikan data yang nanti muncul di label gizi bukan hasil perkiraan, tapi angka yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam prosesnya, digunakan berbagai metode sesuai jenis zat gizinya. Misalnya, menurut Yenrina (2015), karbohidrat dapat diuji dengan metode By Difference atau Luff Schoorl untuk mengetahui kadar gula, lemak dianalisis melalui Soxhlet atau Babcock, protein ditentukan dengan metode Kjeldahl, sedangkan mineral diuji menggunakan teknik Spektrofotometri setelah proses pengabuan.
Kenapa Harus Dievaluasi? Bayangin kalau sebuah produk ngaku “tinggi protein” tapi ternyata setelah diuji kadarnya jauh di bawah klaimnya. Atau minuman yang ditulis “rendah gula”, padahal kadar gulanya masih tinggi. Hal-hal seperti ini bisa bikin konsumen salah pilih, bahkan berisiko buat kesehatan kalau dikonsumsi terus-menerus.
Nah, di sinilah pentingnya evaluasi nilai gizi. Proses ini jadi jembatan antara kejujuran produsen dan kepercayaan konsumen. Dengan hasil uji yang akurat, produsen bisa memastikan produknya sesuai standar, sementara konsumen bisa tahu apa yang sebenarnya mereka makan. Evaluasi juga membantu menjaga kualitas, keamanan, dan nilai gizi pangan agar tetap konsisten dari waktu ke waktu.
Menurut Bisma et al. (2022), gizi berperan penting dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup manusia. Konsumsi makanan bergizi membantu tubuh memperoleh energi, zat pembangun, dan zat pengatur yang diperlukan. Namun, di era modern dengan gaya hidup yang sibuk, banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi secara optimal, sehingga rentan terhadap kekurangan gizi, obesitas, dan penyakit kronis. Oleh karena itu, menghitung kandungan gizi makanan menjadi langkah penting untuk memastikan tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah yang sesuai.
Dari Lab ke Label Hasil evaluasi nilai gizi yang dilakukan di laboratorium kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk tabel nilai gizi yang kamu lihat di kemasan produk. Menurut Linnasiputri dan Anisfatus (2024), jenis zat gizi yang perlu dicantumkan meliputi lemak total, lemak jenuh, energi, karbohidrat, protein, garam (natrium), dan gula. Pencantuman label gizi bertujuan memberikan informasi kepada konsumen mengenai asal, kandungan, dan keamanan produk sebelum pembelian. Selain itu, label gizi berfungsi sebagai sarana edukasi agar konsumen memahami kualitas gizi produk, dampaknya terhadap kesehatan, serta dapat membandingkan pilihan makanan, menyesuaikan dengan pola diet, dan mengatur asupan nutrisi yang diperlukan.
Prosesnya panjang dan penuh ketelitian, mulai dari persiapan sampel, pengujian kimia, hingga perhitungan nilai akhir yang sesuai dengan standar nasional dan internasional. Semua itu dilakukan supaya informasi di label gizi bukan cuma angka, tapi data yang bisa dipercaya.
Kalau Tidak Dievaluasi, Apa Akibatnya? Tanpa evaluasi nilai gizi yang benar, makanan bisa berisiko mengandung gizi yang tidak sesuai dengan klaim, bahkan bisa menimbulkan masalah kesehatan. Misalnya, kadar lemak yang terlalu tinggi bisa memicu penyakit jantung, atau kadar protein yang terlalu rendah bisa mengurangi nilai gizi produk yang seharusnya menjadi sumber energi dan zat pembangun tubuh.
Badriyah dan Syafei (2019) memaparkan bahwa membiasakan diri membaca label pada kemasan pangan merupakan salah satu anjuran dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Informasi yang tercantum pada label membantu konsumen memahami bahan yang digunakan serta memperkirakan potensi risiko bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, penting untuk selalu memperhatikan informasi kandungan gizi sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan kemasan.
Selain itu, produk yang gagal memenuhi standar uji bisa kehilangan kepercayaan konsumen dan dilarang beredar di pasaran. Karena itu, evaluasi gizi bukan hanya urusan laboratorium, tapi juga bagian dari tanggung jawab produsen terhadap kesehatan masyarakat.
Sadar Gizi Mulai dari Diri Sendiri Evaluasi nilai gizi memang dilakukan oleh produsen dan laboratorium, tapi kesadaran untuk memperhatikannya datang dari kita. Dengan membaca label gizi, kita bisa tahu makanan apa yang sebaiknya dikonsumsi dan mana yang sebaiknya dibatasi.
Menurut Dewi et al. (2023), tujuan utama pelabelan gizi adalah membantu konsumen mengetahui kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi yang dapat memicu masalah kesehatan, serta memudahkan dalam memilih makanan yang aman dikonsumsi. Setiap produsen pangan kemasan juga wajib mencantumkan label berisi informasi kalori, lemak, protein, gula, dan natrium pada produknya.
Gak perlu jadi ahli pangan untuk peduli gizi. Mulai aja dari hal kecil: biasakan baca label, perhatikan takaran saji, dan sesuaikan pilihan makanan dengan kebutuhan tubuh. Dari sana, kita bisa belajar untuk makan lebih bijak dan lebih sehat tanpa harus ribet.
Penutup Angka di tabel gizi mungkin terlihat sederhana, tapi di baliknya ada proses ilmiah yang panjang dan tanggung jawab besar. Evaluasi nilai gizi bukan sekadar kewajiban industri, tapi langkah penting untuk memastikan makanan yang kita konsumsi benar-benar aman dan bergizi.
Jadi, lain kali kamu beli makanan kemasan, coba baca labelnya sebentar. Dari situ kamu bisa tahu apa yang sebenarnya kamu makan, dan seberapa besar manfaatnya buat tubuh. Karena pada akhirnya, makanan yang baik bukan cuma yang enak, tapi juga yang benar-benar bermanfaat untuk gizi yang diperlukan tubuhmu sesuai klaimnya.
REFERENSI Badriyah, L. U., dan Syafei, A. 2019. Persepsi dan Perilaku Membaca Label Pangan dan Informasi Gizi pada Siswa SMK Wijaya Kusuma. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. Vol. 8(04): 167-174.
Bisma, R., Nerisafitra, P., dan Utami, A. W. 2021. Perancangan Sistem Perhitungan Kebutuhan Kalori Sebagai Pendamping Gaya Hidup Sehat. Journal of Emerging Information System and Business Intelligence (JEISBI). Vol. 2(4).
Dewi, N. T., Yunita, L., Sukanty, N. M. W., dan Ariani, F. 2023. Edukasi Label Informasi Nilai Gizi sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Kemampuan Membaca Label Gizi Siswa di SMAN 5 Mataram. Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat. Vol. 4(1): 246-252.
Linnasiputri, C. A., dan Anisfatus, L. 2024. Correlation between Knowledge and Nutritional Status with Reading Behavior of Packaged Food Nutrition Labels Cosmetology Students Unesa. Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas. Vol. 5(1): 164-173.
Yenrina, R. 2015. Metode Analisis Bahan Pangan dan Komponen Bioaktif. Padang: Andalas University Press.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda