Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Bad News atau Bad Reality? Kesehatan Mental yang Valid, Privilege yang Perlu Dipertanyakan

Bad News atau Bad Reality? Kesehatan Mental yang Valid, Privilege yang Perlu Dipertanyakan

T
Penulis: Tsania Nur Sabrina
10 Oktober 2026, 23.03 WITA Editor: Alvin Pradana
8 menit baca
Foto Channel YouTube Maudy Ayunda
Maudy Ayunda menjadi sorotan setelah video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News memicu perdebatan mengenai kesehatan mental, privilese, dan kepedulian terhadap krisis sosial. Foto: Foto: Channel YouTube Maudy Ayunda

JurnalPost.com  - Pada 21 Agustus 2026, Maudy Ayunda mengunggah sebuah video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News melalui kanal YouTube pribadinya. Dalam video tersebut, Maudy membagikan pengalaman personalnya menghadapi derasnya pemberitaan buruk, baik yang terjadi di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

Ia mengaku bahwa paparan informasi negatif secara terus-menerus membuatnya merasa tertekan, frustrasi, marah, bahkan menangis. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mulai mengatur konsumsi informasi agar tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari tanpa terus-menerus terbebani secara emosional.

IKLAN

Awalnya, video tersebut tidak banyak mendapat perhatian. Namun, sekitar tiga minggu setelah diunggah, potongannya mulai beredar luas di media sosial dan memicu perdebatan publik.

Kondisi Mental
Baca Juga

Mengapa Kondisi Mental Anda Adalah Kemewahan bagi Orang Lain?

Pertanyaan yang muncul sebenarnya cukup sederhana, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam: apakah menyebut berbagai krisis yang dialami masyarakat sebagai bad news merupakan cara pandang yang adil bagi semua orang?

Apa yang disampaikan Maudy tentang pentingnya menjaga kesehatan mental tentu tidak keliru. Di tengah arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti, seseorang memang bisa mengalami kelelahan emosional akibat terlalu sering membaca atau menyaksikan kabar buruk.

Fenomena ini dikenal sebagai news fatigue, yakni kondisi ketika seseorang merasa jenuh, lelah, atau kewalahan menghadapi paparan berita secara berlebihan.

Mengurangi konsumsi informasi dalam situasi tertentu bukan berarti seseorang kehilangan kepedulian. Justru, mengambil jeda dapat menjadi cara untuk menjaga kondisi mental agar tetap mampu berpikir jernih dan peduli terhadap persoalan sosial dalam jangka panjang.

Maudy Ayunda di platform Youtube
Baca Juga

Maudy Ayunda Bicara Soal Mindfulness, Mengapa Netizen Ramai Berkomentar?

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika kita mulai mempertanyakan siapa yang memiliki kesempatan untuk mengambil jeda tersebut.

Sebab, tidak semua orang mempunyai kemewahan untuk menjauh dari kenyataan yang sedang mereka hadapi.

Asap yang Tidak Bisa Di-mute

Bayangkan hidup di sebuah wilayah yang setiap harinya diselimuti kabut asap. Udara yang seharusnya menjadi kebutuhan paling mendasar justru berubah menjadi ancaman kesehatan.

Situasi semacam ini dialami masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas pada 2026.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun meninggal dunia pada 31 Agustus 2026 setelah sebelumnya mengalami gangguan kesehatan dan sesak napas di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.

Dinas Kesehatan Murung Raya menjelaskan bahwa kematian anak tersebut tidak dapat secara langsung disimpulkan sebagai akibat paparan asap atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), karena korban juga memiliki riwayat penyakit lain.

Penjelasan tersebut penting agar tragedi yang terjadi tidak disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat yang belum terbukti secara medis.

Namun, kejadian itu tetap memperlihatkan betapa rentannya masyarakat ketika harus menjalani kehidupan di lingkungan dengan kualitas udara yang memburuk.

Ancaman karhutla juga dirasakan para petugas yang berada di garis depan pemadaman. Dua relawan pemadam kebakaran di Kalimantan Tengah, Akhmad Rijani dan Ahmadin, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami gangguan kesehatan seusai menjalankan tugas penanganan kebakaran.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kasus ISPA yang berkaitan dengan paparan asap karhutla sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 12.600 kasus dialami anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik yang muncul di layar ponsel. Di baliknya terdapat keluarga yang harus menghadapi kekhawatiran, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, dan masyarakat yang aktivitas sehari-harinya terganggu akibat kualitas udara yang buruk.

Bagi mereka, asap bukanlah informasi negatif yang dapat dihindari dengan menutup aplikasi berita.

Asap adalah sesuatu yang harus mereka hirup. Kenyataan yang tidak bisa di-mute, dilewati, atau dihentikan hanya dengan mematikan notifikasi.

Ketika Makanan Bergizi Justru Menimbulkan Kekhawatiran

Persoalan serupa juga terlihat dalam berbagai insiden keracunan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program yang dirancang untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, justru menghadapi persoalan serius dalam pelaksanaannya.

Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan per 2 September 2026 yang disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris, tercatat 560 kejadian keracunan terkait MBG dengan 50.059 orang terdampak. Data kumulatif tersebut mencakup kejadian sejak program berjalan pada 2025, tersebar di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota.

Pada awal September 2026, laporan dugaan keracunan juga muncul di sejumlah wilayah, termasuk Rembang, Sidoarjo, dan Agam.

Belum selesai kekhawatiran terhadap rangkaian kejadian tersebut, pada 17 September 2026 sebanyak 37 siswa di Kota Kediri dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan MBG. Sebagian di antaranya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Pemeriksaan terhadap dapur penyedia makanan di Kediri kemudian menemukan sejumlah persoalan terkait kebersihan dan proses pengolahan makanan. Operasional dapur terkait pun dihentikan sementara untuk evaluasi.

Rangkaian kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana sebuah program yang bertujuan memperbaiki kesehatan anak-anak justru berulang kali dihadapkan pada persoalan keamanan pangan?

Tentu tidak adil jika seluruh pelaksanaan MBG dianggap gagal hanya karena sejumlah dapur bermasalah. Program tersebut memiliki tujuan yang penting dan dapat memberikan manfaat apabila dijalankan dengan pengawasan serta standar keamanan yang memadai.

Namun, besarnya jumlah kejadian juga tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil.

Badan Gizi Nasional sendiri mengakui bahwa ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur menjadi salah satu persoalan utama dalam kasus gangguan kesehatan yang berkaitan dengan pelaksanaan MBG.

IKLAN

Bagi orang tua yang harus mengantarkan anaknya ke rumah sakit setelah menyantap makanan dari sekolah, masalah ini bukan sekadar berita buruk yang bisa dilewati begitu saja.

Ada kecemasan yang nyata. Ada waktu, tenaga, dan rasa aman yang harus dikorbankan.

Mereka tidak sedang memilih apakah ingin membaca berita tentang keracunan makanan atau tidak. Mereka sedang menghadapi langsung dampak dari persoalan tersebut.

Privilege yang Perlu Dipertanyakan

Setelah videonya mendapat kritik, Maudy Ayunda memberikan tanggapan melalui kolom komentar pada 13 September 2026.

Dalam tanggapannya, ia mengakui bahwa ada perspektif penting yang belum cukup dibahas dalam video tersebut.

“Being able to step away from the news is itself a privilege.”

Pernyataan tersebut berarti bahwa kemampuan seseorang untuk menjauh sejenak dari berita merupakan sebuah privilese.

Pengakuan Maudy ini justru menyentuh inti persoalan yang diperdebatkan publik.

Menjaga kesehatan mental melalui mindfulness bukanlah sesuatu yang salah. Setiap orang berhak melindungi dirinya dari tekanan emosional yang berlebihan.

Namun, kemampuan untuk mengambil jarak dari sebuah krisis sering kali berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan tempat seseorang hidup.

Bagi sebagian orang, persoalan sosial hadir sebagai informasi yang muncul melalui layar ponsel. Mereka bisa memilih kapan ingin membacanya, kapan berhenti, dan kapan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Sementara itu, bagi masyarakat yang terdampak langsung, persoalan yang sama hadir sebagai kenyataan sehari-hari.

Orang tua yang anaknya mengalami keracunan tidak bisa begitu saja mengabaikan persoalan keamanan pangan. Begitu pula masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla tidak dapat memilih untuk berhenti menghirup udara di sekitarnya.

Di sinilah letak perbedaan antara bad news dan bad reality.

Berita buruk adalah informasi tentang sebuah peristiwa. Sementara itu, realitas buruk adalah keadaan yang benar-benar harus dijalani seseorang, terlepas dari apakah peristiwa tersebut diberitakan atau tidak.

Ketika kedua hal ini dipandang sebagai persoalan yang sama, terdapat risiko bahwa masalah struktural justru dipahami sebatas persoalan bagaimana individu mengelola respons emosionalnya.

Padahal, karhutla tidak akan selesai hanya karena masyarakat berhenti membaca berita tentang kebakaran. Begitu pula persoalan keamanan pangan tidak akan hilang hanya karena publik mengurangi paparan informasi mengenai kasus keracunan.

Keduanya membutuhkan tindakan nyata, evaluasi kebijakan, pengawasan, dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan.

Menjaga Kesehatan Mental Tanpa Kehilangan Kepedulian Sosial

Perdebatan mengenai video Maudy Ayunda seharusnya tidak berakhir pada upaya menentukan siapa yang paling benar atau paling salah.

Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat memahami bahwa menjaga kesehatan mental dan mempertahankan kepedulian sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Kita boleh merasa lelah membaca berita buruk. Kita juga berhak mengambil jeda ketika informasi yang diterima mulai mengganggu kondisi emosional.

Namun, jeda tersebut semestinya tidak membuat kita melupakan bahwa persoalan yang diberitakan tetap berlangsung di luar layar.

Ada masyarakat yang masih menghadapi ancaman kabut asap. Ada keluarga yang menuntut jaminan keamanan makanan bagi anak-anak mereka. Ada pula pihak-pihak yang terus menunggu perbaikan kebijakan agar persoalan serupa tidak kembali terulang.

Karena itu, pembicaraan tentang kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap ketimpangan sosial.

Tidak semua orang memiliki sumber daya, keamanan, dan kesempatan yang sama untuk mengelola tekanan dari lingkungan sekitarnya.

Kesadaran akan privilese bukan berarti seseorang harus merasa bersalah karena memiliki kehidupan yang lebih nyaman. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat menjadi titik awal untuk memahami pengalaman orang lain yang hidup dalam situasi berbeda.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kemampuan untuk mengambil jarak dari berita buruk, melainkan juga keberanian untuk mempertanyakan mengapa kenyataan buruk terus berulang.

Kritik terhadap tata kelola karhutla harus tetap disuarakan. Pengawasan terhadap dapur penyedia MBG harus diperkuat. Keselamatan dan kesehatan masyarakat tidak boleh berhenti sebagai bahan perdebatan di media sosial.

Sebab, menjaga kesehatan mental memang penting, tetapi kepedulian sosial juga tidak boleh kehilangan tempatnya.

Kita bisa mematikan layar ponsel ketika merasa lelah. Namun, bagi mereka yang sedang menghadapi krisis secara langsung, kenyataan tetap berjalan meskipun tidak ada seorang pun yang menontonnya.

Barangkali, pertanyaan terpentingnya bukan lagi bagaimana cara kita menghindari bad news, melainkan apa yang bisa dilakukan agar semakin sedikit orang harus hidup dalam bad reality.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/bad-news-atau-bad-reality-kesehatan-mental-yang-valid-privilege-yang-perlu-dipertanyakan/98108/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.45 WITA

  • #Kebakaran Hutan
  • #Kesehatan Mental
  • #Makan Bergizi Gratis
  • #Maudy Ayunda
  • #bad news
  • #bad reality
  • #mindfulness
  • #privilege

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027
  2. 2

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  3. 3

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  4. 4

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  5. 5

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.