Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra
Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia
JurnaPost.com - Bangkit adalah keberanian untuk berdiri setelah jatuh. Tangguh adalah kemampuan untuk tetap berdiri ketika ujian datang kembali. Namun menjadi berdaya saing berarti berani melangkah lebih jauh, bahkan ketika jalan yang ditempuh belum sepenuhnya mudah. Tiga kata tersebut bukan sekadar rangkaian slogan, tetapi menggambarkan perjalanan panjang yang harus dilalui UMKM Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi yang semakin besar.
Di Indonesia, perjalanan itu dijalani oleh sekitar 64 juta pelaku UMKM yang menyerap sekitar 97% tenaga kerja dan berkontribusi lebih dari 60% terhadap PDB nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa ukuran sebuah usaha tidak selalu mencerminkan besarnya peran yang dimainkan. Sebuah warung, usaha rumahan, pengrajin, petani, hingga pelaku ekonomi kreatif mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Tetapi ketika jutaan usaha tersebut bergerak bersama, mereka menjadi salah satu mesin utama perekonomian Indonesia.
Namun menjadi bagian penting dari ekonomi tidak berarti terbebas dari tantangan. UMKM berhadapan dengan perubahan selera konsumen, perkembangan teknologi, keterbatasan pembiayaan, persaingan pasar, hingga guncangan yang datang tanpa diduga. Bagi UMKM di sejumlah wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana alam, tantangannya bahkan lebih berat. Ketika tempat usaha rusak, bahan baku hilang, dan aktivitas perdagangan terhenti, bangkit kembali bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.
Karena itu, kata pertama yang penting adalah Bangkit. Bangkit berarti membuka kembali pintu usaha, memulihkan produksi, mengembalikan akses pasar, dan menghidupkan kembali penghasilan yang sempat terhenti. Tetapi proses kebangkitan tidak dapat dibebankan kepada pelaku usaha seorang diri. Mereka membutuhkan akses pembiayaan, pendampingan, pasar, teknologi, serta ekosistem yang memungkinkan proses pemulihan berlangsung lebih cepat dan lebih kuat.
Semangat tersebut terasa dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang mengangkat semangat Aceh “BeudayaMeusareSare”, yang bermakna berdaya bersama-sama. Pesannya sederhana: ada saatnya seseorang harus berjuang sendiri, tetapi ada pula saatnya kekuatan justru lahir ketika banyak pihak bergerak bersama. Pemerintah, perbankan, regulator, kementerian dan lembaga, asosiasi, dunia usaha, hingga masyarakat memiliki ruang masing-masing untuk membantu UMKM kembali berdiri.
Namun bangkit saja belum cukup. UMKM yang baru saja pulih tetap membutuhkan kekuatan untuk menghadapi ujian berikutnya. Di sinilah kata kedua menjadi penting: Tangguh. Ketangguhan dibangun melalui struktur usaha yang lebih kuat, pengelolaan yang lebih baik, akses pembiayaan yang berkelanjutan, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, serta ekosistem yang membuat UMKM tidak mudah kembali rapuh ketika menghadapi perubahan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan UMKM tidak berhenti pada kondisi “cukup bertahan”. Dunia usaha bergerak terlalu cepat untuk membuat kita puas hanya karena sebuah usaha masih berjalan. Konsumen berubah, teknologi berkembang, persaingan semakin terbuka, dan pasar tidak lagi mengenal batas geografis seperti sebelumnya. Karena itu, UMKM perlu bergerak dari sekadar bertahan menjadi tumbuh. Dari tumbuh menjadi naik kelas.
Di situlah kata ketiga menemukan maknanya: Berdaya Saing. Daya saing tidak hanya ditentukan oleh harga murah, tetapi juga kualitas produk, inovasi, desain, kapasitas produksi, konsistensi, kemampuan memanfaatkan teknologi, serta akses terhadap pasar yang lebih luas. UMKM yang berdaya saing bukan hanya mampu menjual produknya di lingkungan sekitar, tetapi memiliki kemampuan untuk memasuki rantai nilai yang lebih besar, pasar nasional, bahkan pasar global.
KKI 2026 mencoba mempertemukan berbagai kebutuhan tersebut dalam satu ekosistem. Lebih dari 550 UMKM mengikuti pameran secara luring, sementara lebih dari 1.300 UMKM hadir melalui platform digital. Tidak hanya pameran produk, KKI juga menghadirkan business matching pembiayaan, ekspor, dan value chain, serta berbagai kegiatan yang mempertemukan UMKM dengan peluang pengembangan usaha. Dengan demikian, sebuah produk tidak berhenti menjadi barang yang dipajang, tetapi memiliki kesempatan untuk menemukan pasar dan mitra baru.
Menariknya, perjalanan menuju daya saing juga semakin tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan. KKI 2026 memperkenalkan KKI Bijak dengan prinsip zero emission dan zero waste to landfill, sekaligus mengembangkan zona hijau. Ini memberikan pesan bahwa UMKM masa depan tidak cukup hanya menghasilkan produk yang laku. Mereka juga perlu mulai memperhatikan bagaimana sumber daya digunakan, bagaimana proses produksi dilakukan, dan bagaimana pertumbuhan usaha dapat berjalan berdampingan dengan keberlanjutan lingkungan.
Pada akhirnya, di balik setiap produk UMKM terdapat cerita yang jauh lebih besar daripada transaksi jual beli. Ada tangan yang bekerja, keluarga yang menggantungkan penghasilan, keterampilan yang diwariskan, dan harapan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Ketika sebuah produk UMKM dibeli, yang bergerak bukan hanya uang dari pembeli kepada penjual. Ada kesempatan bagi sebuah usaha untuk mempertahankan pekerja, membeli bahan baku, meningkatkan produksi, dan kembali menciptakan nilai di lingkungannya.
Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing seharusnya tidak berhenti menjadi tema sebuah gelaran. Ia adalah tiga tahapan yang harus terus berjalan. Bangkit dari tekanan, tangguh menghadapi perubahan, lalu berdaya saing untuk merebut peluang.
Indonesia tidak hanya membutuhkan UMKM yang mampu bertahan dari badai. Indonesia membutuhkan UMKM yang setelah badai berlalu, justru tumbuh lebih kuat.
Bangkit untuk berdiri. Tangguh untuk bertahan. Berdaya saing untuk melangkah lebih jauh. Dan ketika jutaan UMKM Indonesia melakukan ketiganya secara bersama-sama, yang bangkit bukan hanya usaha mereka, tetapi juga ekonomi Indonesia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda