Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  2. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  3. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  5. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. BI-Rate Bertahan, Mengapa Keran Likuiditas Justru Dibuka?

BI-Rate Bertahan, Mengapa Keran Likuiditas Justru Dibuka?

Foto profil Hari Suciono
Penulis: Hari Suciono
26 Oktober 2026, 11.15 WITA Editor: Shella Paramitha
6 menit baca
Bank Indonesia Officials in Boardroom
Jajaran pimpinan Bank Indonesia seusai pengumuman BI-Rate tetap 5,75% untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Sumber: Website Bank Indonesia.

Penulis adalah Pegawai Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Jawa Timur.

JurnalPost.com - Ketika badai datang, seorang nakhoda tidak selalu memperlambat seluruh mesin kapal. Ia dapat menahan kemudi agar kapal tidak keluar jalur, sembari menambah tenaga pada bagian tertentu agar tetap bergerak menuju tujuan.

IKLAN

Analogi itu menggambarkan keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026 untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% di tengah tekanan global, tetapi pada saat bersamaan membuka keran likuiditas melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dan penguatan kebijakan insentif makroprudensial.

Menjaga Suhu Ekonomi
Baca Juga

Menjaga Suhu Ekonomi Tetap Nyaman

Sekilas, kedua langkah tersebut tampak berlawanan. Namun, keduanya justru merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas tanpa membiarkan mesin pertumbuhan ekonomi kehilangan tenaga.

Keputusan mempertahankan BI-Rate dapat dipahami sebagai jangkar yang menjaga kapal perekonomian Indonesia dari gelombang eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mempertahankan tingginya harga minyak dan komoditas dunia. Pada saat yang sama, peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat, imbal hasil US Treasury yang tinggi, serta terbatasnya minat investor terhadap aset negara berkembang memperkuat dolar AS.

Dalam situasi tersebut, menurunkan suku bunga terlalu cepat berisiko memperlebar perbedaan imbal hasil, mendorong arus modal keluar, dan meningkatkan tekanan terhadap Rupiah.

Tekanan itu bukan sekadar bayangan di kejauhan. Pada 20 Oktober 2026, Rupiah tercatat Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61% dibandingkan posisi akhir September. Pada triwulan III 2026, investasi portofolio asing juga membukukan arus keluar bersih sebesar 0,08 miliar dolar AS.

bank indonesia
Baca Juga

Bank Indonesia dan Harga dari Setiap Pilihan

Meskipun pada triwulan IV hingga 19 Oktober berbalik mencatat arus masuk bersih sebesar 0,66 miliar dolar AS, perubahan arah modal global dapat berlangsung sangat cepat. Karena itu, BI-Rate 5,75% berfungsi seperti pagar pengaman agar aset Rupiah tetap menarik sekaligus meredam tekanan lanjutan terhadap nilai tukar.

Sikap kehati-hatian tersebut juga tercermin dari keputusan menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, sementara suku bunga Lending Facility tetap sebesar 6,50%. Artinya, Bank Indonesia tetap memperkuat instrumen stabilisasi moneter tanpa harus menaikkan suku bunga acuannya.

Namun, mempertahankan jangkar bukan berarti kapal harus berhenti. Perekonomian domestik tetap membutuhkan bahan bakar berupa likuiditas dan pembiayaan.

Di sinilah penurunan GWM menjadi penting. GWM bank umum konvensional diturunkan secara bertahap dari 9% menjadi 7%, sedangkan GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5% menjadi 5,5%. Penurunan dilakukan dalam dua tahap pada November dan Desember 2026.

Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang
Baca Juga

Inflasi Indonesia 2026: Antara Target dan Realitas

Ibarat bendungan, Bank Indonesia tidak membongkar seluruh pintunya, tetapi mengatur bukaan agar lebih banyak air dapat mengalir menuju saluran produktif.

Tambahan likuiditas tersebut dibutuhkan karena terdapat ketimpangan antara derasnya permintaan kredit dan pertumbuhan dana perbankan. Kredit pada September 2026 tumbuh 13,26% secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya tumbuh 8,22%.

Kredit investasi bahkan melaju 23,20%, kredit modal kerja 11,89%, dan kredit konsumsi 4,86%. Apabila kesenjangan ini dibiarkan, bank dapat menghadapi ruang likuiditas yang semakin sempit.

Penurunan GWM memberikan tambahan napas agar perbankan mampu mempertahankan fungsi intermediasi tanpa harus menunggu pertumbuhan simpanan mengejar kebutuhan pembiayaan.

Meski demikian, membuka keran belum tentu membuat air mengalir ke sawah. Perbankan masih memiliki fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) sebesar Rp2.562,57 triliun, setara 21,70% dari plafon kredit yang tersedia.

Angka ini menunjukkan bahwa persoalan pembiayaan bukan hanya terletak pada ketersediaan dana, tetapi juga pada permintaan kredit, kelayakan usaha, persepsi risiko, dan keyakinan pelaku ekonomi.

IKLAN

Karena itu, tambahan likuiditas harus diikuti perbaikan iklim usaha serta peningkatan kualitas proyek agar dana tidak sekadar mengendap di neraca perbankan.

Bank Indonesia berusaha mengarahkan aliran tersebut melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga minggu pertama Oktober 2026, insentif KLM mencapai Rp458,5 triliun, terdiri atas Rp336,4 triliun untuk saluran pembiayaan dan Rp122,1 triliun untuk pendalaman pasar uang.

Mulai Desember 2026, batas KLM disesuaikan dari 6% menjadi 5%, dengan insentif pembiayaan paling tinggi 3% dari DPK dan insentif pendalaman pasar uang paling tinggi 2%.

Penyesuaian ini bukan sekadar perubahan besaran insentif, melainkan juga penguatan arah kebijakan agar likuiditas lebih efektif mendukung pembiayaan produktif dan pendalaman pasar uang.

Keran itu, dengan demikian, tidak dibuka tanpa arah. Salurannya ditujukan kepada sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan kegiatan produktif, dan memperkuat redistribusi likuiditas antarpelaku perbankan.

Pelonggaran tersebut juga tidak berarti Bank Indonesia sedang mengabaikan inflasi. Inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, masih berada dalam sasaran 2,5±1%.

Inflasi inti bahkan menurun menjadi 2,84%, meskipun inflasi pangan bergejolak naik menjadi 5,03% akibat gangguan cuaca di sejumlah sentra produksi.

Situasi ini menyerupai dokter yang melihat kondisi pasien cukup stabil, tetapi belum sepenuhnya bebas risiko. Dosis kebijakan moneter tetap dipertahankan, sementara dukungan terhadap sirkulasi ekonomi diberikan melalui instrumen yang lebih terarah.

Strategi dua tangan ini juga terlihat pada kebijakan stabilisasi Rupiah. Bank Indonesia mengoptimalkan intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) domestik, sekaligus meningkatkan insentif lindung nilai bagi pendanaan luar negeri.

Sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan insentif tersebut berhasil menarik aliran modal asing sebesar 9,9 miliar dolar AS hingga 20 Oktober 2026.

Cadangan devisa sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September juga menyediakan bantalan setara 5,3 bulan impor. Artinya, pertahanan eksternal diperkuat tanpa menutup ruang bagi pembiayaan ekonomi domestik.

Tantangan berikutnya adalah memastikan likuiditas benar-benar berubah menjadi produksi, pekerjaan, dan pendapatan.

Pertumbuhan ekonomi 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7%, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi pemerintah, mulai menguatnya investasi swasta, dan ekspor nonmigas.

Akan tetapi, likuiditas hanyalah pelumas, bukan mesin itu sendiri. Tanpa proyek yang layak, kepastian kebijakan, konsumsi yang kuat, dan keberanian dunia usaha melakukan ekspansi, tambahan dana dapat berputar di sektor keuangan tanpa sepenuhnya mengalir ke sektor riil.

Karena itu, mempertahankan BI-Rate sambil membuka keran likuiditas bukanlah kebijakan yang saling bertentangan.

BI-Rate menjadi rem agar Rupiah dan inflasi tetap terkendali, sedangkan penurunan GWM dan penguatan KLM menjadi pedal gas yang menjaga pembiayaan tetap bergerak.

Tantangannya terletak pada kemampuan menginjak keduanya dengan presisi. Terlalu kuat mengerem dapat melemahkan pertumbuhan, tetapi terlalu dalam menekan gas dapat meningkatkan risiko terhadap stabilitas.

Di tengah jalan ekonomi global yang licin, keberhasilan bauran kebijakan akan ditentukan bukan oleh seberapa lebar keran dibuka, melainkan oleh seberapa tepat likuiditas dialirkan menuju kegiatan produktif.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/bi-rate-bertahan-mengapa-keran-likuiditas-justru-dibuka/98344/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.55 WITA

  • #BI-Rate
  • #Bank Indonesia
  • #Ekonomi Indonesia
  • #Giro Wajib Minimum
  • #kebijakan moneter
  • #likuiditas
  • #stabilitas ekonomi
  • #suku bunga

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital
  2. 2

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  3. 3

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  4. 4

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  5. 5

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.