Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Berangkat Menyehatkan Masyarakat, Pulang Harus Tetap Selamat

Berangkat Menyehatkan Masyarakat, Pulang Harus Tetap Selamat

H
Penulis: Hapsayana
16 Oktober 2026, 19.31 WITA Editor: Rafi Adinata
6 menit baca
Berangkat Menyehatkan Masyarakat

Keselamatan Perjalanan dalam Manajemen K3 Petugas Kesehatan Lapangan

JurnalPost.com — Ketika membahas keselamatan dan kesehatan kerja (K3), perhatian sering kali tertuju pada bangunan, peralatan, atau aktivitas di dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Padahal, ruang kerja petugas kesehatan tidak berhenti di pintu fasilitas pelayanan. Ada rumah warga yang harus didatangi, permukiman terpencil yang perlu dijangkau, dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan secara langsung.

IKLAN

Di antara petugas kesehatan dan masyarakat yang menunggu, terbentang perjalanan yang juga membutuhkan perlindungan.

Measuring Noise Safely on the Factory Floor (1)
Baca Juga

Mengukur Lingkungan Kerja, Memastikan SMK3 Melindungi Pekerja

Sebuah kegiatan penyuluhan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, untuk mencapai lokasi, petugas dapat menghadapi jalan yang sulit dilalui, penyeberangan perairan, hingga kondisi cuaca yang tidak menentu.

Ketika kegiatan selesai, perjalanan pulang masih harus ditempuh. Kelelahan, keterbatasan jaringan komunikasi, serta jauhnya akses pertolongan menjadi faktor risiko yang perlu diperhitungkan dalam setiap penugasan.

Pertanyaannya, seberapa serius keselamatan perjalanan mendapat tempat dalam perencanaan program pelayanan kesehatan?

Ketelitian dalam menyiapkan materi, peserta, dan laporan kegiatan semestinya diikuti perhatian yang sama terhadap keselamatan petugas, mulai dari keberangkatan hingga kembali ke tempat asal.

Home Page Website (1).jpg
Baca Juga

Kementerian ESDM Perkuat Kesiapsiagaan Kebakaran Lewat Pelatihan di PPSDM Migas

Pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat membutuhkan sistem kerja yang tidak hanya memastikan program terlaksana, tetapi juga melindungi orang-orang yang menjalankannya.

Gambaran global menunjukkan besarnya tantangan dalam melindungi keselamatan pekerja. Berdasarkan estimasi yang dipublikasikan pada November 2023, International Labour Organization (ILO) menyebutkan bahwa sekitar 330.000 pekerja meninggal dunia akibat kecelakaan kerja setiap tahun di seluruh dunia.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dalam setiap aktivitas pekerjaan. Dalam pelayanan kesehatan masyarakat, perlindungan perlu diperhatikan sejak perjalanan menuju lokasi, selama kegiatan berlangsung, hingga petugas kembali dengan selamat.

Keselamatan Dimulai Sebelum Keberangkatan

"Hati-hati di jalan" merupakan pesan yang lazim disampaikan sebelum seseorang berangkat menjalankan tugas.

Ratusan Siswa TK
Baca Juga

Ratusan Siswa TK dan SD Kunjungi PPSDM Migas Cepu, Belajar Keselamatan Kerja dan Pemadaman Kebakaran

Namun, sejauh mana petugas dapat mengandalkan kehati-hatian pribadi apabila kendaraan yang digunakan tidak layak atau jadwal perjalanan tidak memberikan waktu istirahat yang memadai?

Pesan keselamatan perlu diwujudkan melalui keputusan dan kebijakan organisasi, bukan sekadar menjadi nasihat sebelum keberangkatan.

Di sinilah prinsip Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2012, relevan sebagai acuan dalam pengelolaan risiko pekerjaan.

Dalam kegiatan pelayanan kesehatan lapangan, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui proses identifikasi bahaya, penilaian risiko, penetapan langkah pengendalian, serta evaluasi pelaksanaannya.

Penilaian risiko seharusnya dimulai sebelum penugasan disetujui.

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 52 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan juga menempatkan pengenalan potensi bahaya dan pengendalian risiko sebagai bagian penting dari penerapan standar K3.

Dalam kegiatan lapangan, prinsip ini perlu diterjemahkan menjadi persiapan yang sesuai dengan kondisi wilayah. Petugas dan penanggung jawab program perlu menilai kondisi rute, memilih sarana transportasi yang layak, serta menyusun jadwal dengan mempertimbangkan cuaca dan kebutuhan istirahat.

Dengan demikian, keputusan keberangkatan memiliki dasar keselamatan yang jelas, bukan semata-mata didorong oleh tuntutan penyelesaian kegiatan.

Hasil penilaian risiko juga harus memengaruhi keputusan operasional. Sarana transportasi perlu diperiksa, pengemudi atau operator dipastikan memiliki kompetensi yang sesuai, dan perlengkapan keselamatan disediakan berdasarkan potensi bahaya.

Apabila perjalanan menggunakan perahu, misalnya, pelampung harus tersedia dalam jumlah memadai dan digunakan selama perjalanan.

Ketika kondisi cuaca atau jalur transportasi memburuk, pilihan untuk mengubah rute maupun menunda perjalanan harus menjadi bagian dari keputusan yang dapat diambil demi keselamatan.

Komunikasi Menjadi Bagian Penting dari Perlindungan Petugas

Selain memastikan kesiapan transportasi dan perlengkapan, keselamatan petugas kesehatan lapangan juga membutuhkan sistem komunikasi yang terencana.

Komunikasi bukan hanya diperlukan ketika petugas telah tiba di lokasi, tetapi juga selama perjalanan menuju tempat kegiatan dan saat kembali.

IKLAN

Perlu ada pihak yang mengetahui keberadaan tim, memantau perkembangan perjalanan, serta memahami langkah yang harus dilakukan apabila petugas tidak memberikan kabar pada waktu yang telah disepakati.

Hal ini menjadi semakin penting ketika penugasan dilakukan di wilayah dengan keterbatasan jaringan komunikasi.

Pada daerah yang memiliki sinyal terbatas atau bahkan tidak terjangkau jaringan telekomunikasi, persiapan perlu mencakup penentuan titik komunikasi, keberadaan penghubung lokal, serta jalur pertolongan yang dapat diandalkan apabila terjadi keadaan darurat.

Mekanisme tersebut perlu disepakati sebelum keberangkatan, ketika koordinasi masih dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Perencanaan komunikasi yang baik membantu organisasi mengetahui kapan tim membutuhkan bantuan, sekaligus mengurangi risiko keterlambatan penanganan apabila terjadi keadaan yang tidak diharapkan.

Pengabdian kepada Masyarakat Membutuhkan Perlindungan

Petugas kesehatan yang menyampaikan bahwa suatu perjalanan terlalu berisiko sebenarnya sedang memberikan informasi penting bagi organisasi.

Masukan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk keengganan menjalankan tugas, melainkan bagian dari upaya mengenali bahaya sebelum terjadi kecelakaan.

Informasi mengenai kondisi jalan, cuaca, kelayakan kendaraan, maupun keterbatasan sarana transportasi perlu ditanggapi melalui penilaian risiko dan keputusan yang jelas.

Apabila keberangkatan harus ditunda, koordinasi dan penjadwalan ulang dapat menjadi solusi untuk menjaga keberlanjutan pelayanan tanpa mengabaikan keselamatan tim.

Komitmen terhadap keselamatan juga perlu tercermin dalam perencanaan anggaran.

Biaya transportasi yang aman, penyediaan perlengkapan keselamatan, kebutuhan komunikasi, serta waktu istirahat merupakan bagian dari kebutuhan operasional yang harus diperhitungkan.

Keselamatan tidak seharusnya dipandang sebagai biaya tambahan yang dapat diabaikan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi dalam menjalankan program.

Setelah penugasan selesai, pengalaman perjalanan juga perlu dievaluasi.

Kendala yang ditemukan, baik berupa kondisi jalur, gangguan transportasi, keterbatasan komunikasi, maupun potensi bahaya lainnya, perlu dicatat dan ditindaklanjuti.

Dengan cara tersebut, pengalaman satu tim dapat menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan perlindungan bagi petugas yang menjalankan penugasan berikutnya.

Keberhasilan Program Juga Harus Diukur dari Keselamatan Petugas

Keberhasilan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat sering kali dinilai melalui jumlah peserta, ketercapaian target, kelengkapan laporan, atau terlaksananya program sesuai jadwal.

Indikator tersebut tentu penting. Namun, keselamatan petugas yang menjalankan kegiatan juga perlu menjadi bagian dari evaluasi keberhasilan.

Program yang terlaksana sesuai target belum sepenuhnya mencerminkan pengelolaan yang baik apabila risiko perjalanan tidak diperhitungkan secara memadai.

Kembalinya petugas tanpa mengalami cedera patut disyukuri. Meski demikian, kondisi tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh risiko telah terkendali.

Evaluasi tetap diperlukan untuk mengetahui langkah keselamatan yang sudah berjalan dengan baik dan aspek yang masih membutuhkan perbaikan.

Masyarakat membutuhkan petugas kesehatan yang dapat terus hadir memberikan pelayanan. Oleh karena itu, menjaga keselamatan mereka merupakan bagian dari upaya mempertahankan keberlanjutan pelayanan kesehatan itu sendiri.

Setiap rencana untuk menjangkau masyarakat semestinya juga memuat rencana untuk melindungi orang-orang yang menjalankan tugas tersebut.

Keselamatan perjalanan bukan persoalan tambahan di luar kegiatan pelayanan, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen K3.

Sebab, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diukur dari seberapa jauh petugas mampu menjangkau wilayah pelayanan, tetapi juga dari bagaimana organisasi memastikan mereka dapat menjalankan tugas tanpa mengorbankan keselamatannya.

Berangkat menyehatkan masyarakat, pulang harus tetap selamat.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/berangkat-menyehatkan-masyarakat-pulang-harus-tetap-selamat/98225/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.23 WITA

  • #K3
  • #Keselamatan Kerja
  • #Pelayanan Kesehatan
  • #Petugas Kesehatan
  • #kesehatan lapangan
  • #keselamatan perjalanan
  • #manajemen k3

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Pilihan Editor

  1. 1 UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik
  2. 2

    Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

  3. 3

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  4. 4

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  5. 5

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.