Oleh: Achmad Rafli Pambudi, S.P.
BATU, JurnalPost.com – Upaya mengembangkan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi lokal terus dilakukan Universitas Brawijaya (UB). Melalui kolaborasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dan Kuliah Kerja Nyata (KKN), akademisi dan mahasiswa menghadirkan sejumlah inovasi pengelolaan limbah dan pertanian ramah lingkungan di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Tim yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. bersama Prof. Syahrul Kurniawan, S.P., M.P., Ph.D. menggelar seminar dan workshop bertajuk “Pengelolaan Limbah Organik Rumah Tangga dan Pertanian Terpadu Berbasis Masyarakat untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu”.
Kegiatan tersebut menjadi ruang transfer pengetahuan sekaligus diseminasi teknologi tepat guna yang dikembangkan bersama mahasiswa KKN, pemerintah kelurahan, kelompok tani, pengelola sampah, dan masyarakat.
Tiga produk inovasi diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, yakni KOMSADA atau Kompos Organik Dadaprejo, POCADAP atau Pupuk Organik Cair Dadaprejo, serta MISIL X-1 yang merupakan pestisida nabati berbahan alami.
Kegiatan diikuti unsur pemerintah kelurahan, kelompok tani, Kelompok Wanita Tani (KWT), pengelola TPS3R, penyuluh pertanian, mahasiswa KKN, hingga masyarakat umum.
Dengan pendekatan partisipatif, peserta tidak hanya menerima materi mengenai pertanian berkelanjutan, tetapi juga diperkenalkan secara langsung dengan proses pemanfaatan berbagai produk yang telah dikembangkan selama pelaksanaan KKN. KOMSADA Olah Limbah Organik Menjadi Kompos Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah KOMSADA atau Kompos Organik Dadaprejo. Produk ini dikembangkan dengan memanfaatkan limbah organik rumah tangga dan limbah pertanian yang sebelumnya belum dikelola secara optimal.
Pengembangan KOMSADA dilakukan mahasiswa KKN bersama TPS3R Dadap Rejo Makmur yang diketuai Sunarto.
Berbagai bahan organik, seperti sisa sayuran, dedaunan, dan limbah pertanian diproses melalui metode pengomposan terkontrol hingga menghasilkan pupuk organik.
Pemanfaatan kompos tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Di sisi lain, pengolahan limbah menjadi KOMSADA juga dapat mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
KOMSADA diharapkan menjadi alternatif pupuk organik yang lebih terjangkau dan mudah diperoleh sekaligus mendukung kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk. POCADAP Manfaatkan Air Lindi Menjadi Pupuk Organik Cair Selain kompos padat, tim juga mengembangkan POCADAP atau Pupuk Organik Cair Dadaprejo dengan memanfaatkan air lindi yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah organik.
Air lindi selama ini berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Melalui inovasi yang dikembangkan mahasiswa KKN bersama Kelompok Wanita Tani Bumi Lestari yang diketuai Yuyun Ariani, air lindi diolah melalui proses fermentasi dan pengayaan.
Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair sebagai salah satu sumber unsur hara bagi tanaman.
Pengembangan POCADAP sekaligus menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular dengan mengubah material yang sebelumnya dipandang sebagai limbah menjadi sumber daya bernilai guna dan ekonomi. MISIL X-1 Dorong Penggunaan Pestisida Nabati Inovasi lain yang diperkenalkan adalah MISIL X-1, pestisida nabati yang dikembangkan bersama Kelompok Tani Sri Sedono 05 yang diketuai Heru Sutomo.
MISIL X-1 memanfaatkan bahan-bahan alami yang relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat. Dengan penggunaan yang tepat, pestisida nabati tersebut diharapkan menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan ketergantungan pada pestisida sintetis.
Pemanfaatan pestisida nabati juga menjadi salah satu strategi untuk mendukung penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Melalui demonstrasi yang dilakukan dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai proses pembuatan, cara aplikasi, hingga manfaat penggunaan pestisida nabati dalam sistem budidaya pertanian berkelanjutan.
KOMSADA, POCADAP, dan MISIL X-1 hasil kolaborasi mahasiswa KKN dan masyarakat Kelurahan Dadaprejo.
Kenalkan Mikoriza dan Trichoderma untuk Kesehatan Tanah Selain memperkenalkan produk inovasi, kegiatan tersebut juga menghadirkan materi ilmiah mengenai penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan.
Dr. Ir. Budi Prasetya, M.P. memberikan materi mengenai Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), mikroorganisme yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman dan dapat mendukung penyerapan unsur hara.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. menjelaskan pemanfaatan Trichoderma sebagai agens hayati yang dapat membantu mempercepat proses dekomposisi bahan organik sekaligus menekan perkembangan sejumlah patogen penyebab penyakit tanaman.
Menurut Yulia, pemanfaatan kompos berkualitas, pupuk organik cair, mikoriza, dan Trichoderma dapat menjadi paket teknologi yang saling melengkapi untuk meningkatkan kesehatan tanah dan produktivitas tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input kimia.
Peserta juga mendapatkan materi mengenai pemasaran dan manajemen usaha tani yang disampaikan Neza Fadia Rayesa, S.TP., M.Sc.
Adapun materi mengenai biochar dan pemanfaatannya disampaikan Gabryna Auliya Nugroho, S.P., M.P., M.Sc. Materi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan. Lurah Dadaprejo Apresiasi Kolaborasi UB Lurah Dadaprejo, Fifi Rahmawati, S.H., mengapresiasi kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat dan KKN.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya yang telah menghadirkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Produk-produk seperti KOMSADA, POCADAP, dan MISIL X-1 merupakan contoh nyata bahwa limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Prof. Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. mengatakan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak sebatas memberikan pengetahuan, tetapi juga memastikan inovasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.
Ia menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok tani, dan masyarakat agar inovasi yang telah dikembangkan tidak berhenti setelah program selesai.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang memungkinkan untuk diterapkan di wilayah lain.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dan KKN tersebut, Universitas Brawijaya tidak hanya mendorong lahirnya produk inovatif, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik, konservasi sumber daya, dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Program ini juga berkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 11 Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 15 Menjaga Ekosistem Daratan.
Dalam konteks SDGs Desa, kegiatan tersebut turut mendukung pengembangan desa peduli lingkungan, ekonomi tumbuh merata, serta desa tanggap perubahan iklim melalui pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan kelembagaan masyarakat, dan pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda