SURABAYA, JurnalPost.com — Kemampuan bahasa asing dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi keterampilan penting bagi pelaku usaha di sektor pariwisata. Tidak hanya bagi pemandu wisata, kemampuan tersebut juga dinilai perlu dikuasai para driver travel yang berinteraksi langsung dengan wisatawan selama perjalanan.
Upaya tersebut dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui program bertajuk “Adaptasi Strategis UMKM Biro Wisata Lintas Karya Muda dalam Transformasi Model Bisnis Melalui Penguatan Driver Multiperan (Driver-Penerjemah-Tour Guide) Berbasis Pelatihan Bahasa Mandarin dan Pemanfaatan Free-AI Asal Tiongkok.”
Program yang melibatkan dosen dan mahasiswa Unesa itu bekerja sama dengan UMKM Biro Wisata Lintas Karya Muda. Kegiatan berlangsung di Kedai Sedjiwa 32, Jalan Praban 32, Surabaya, pada 23 September 2026.
Pelatihan dirancang untuk memperluas peran driver travel. Selain bertugas mengantar wisatawan, para pengemudi didorong memiliki kemampuan dasar sebagai penerjemah sekaligus pendamping perjalanan atau tour guide.
Untuk mendukung kemampuan tersebut, peserta mendapat pembelajaran bahasa Mandarin dasar yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata. Mereka juga diperkenalkan dengan sejumlah teknologi AI gratis asal Tiongkok yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar maupun membantu mencari informasi ketika berinteraksi dengan wisatawan.
Ketua UMKM Lintas Karya Muda, Gindo Dusqi Pakulabang, mengatakan penguatan kompetensi driver merupakan langkah penting karena pengemudi menjadi salah satu orang yang paling sering berinteraksi dengan wisatawan selama perjalanan.
“Karena driver sejatinya akan menjadi sosok yang paling dekat dan sering bersama wisatawan. Maka jika para driver juga memiliki kemampuan bahasa Mandarin yang cukup, paham teknologi paling terbaru, pelayanan terhadap wisatawan Tiongkok juga akan lebih optimal,” ujar Gindo.
Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan membuat para driver memiliki bekal komunikasi dasar dalam bahasa Mandarin sekaligus memahami penggunaan teknologi AI yang dapat membantu pekerjaan mereka.
“Pada akhirnya setelah pelatihan ini, para driver harapannya semakin jago bahasa Mandarinnya walau hanya dasar dan lebih mengetahui bahwa ada teknologi AI yang bisa menjawab apa saja yang dibutuhkan secara cepat,” lanjutnya.
Pelatihan Bahasa Mandarin hingga Pemanfaatan AI
Pelatihan berlangsung secara interaktif. Yogi Bagus Adhimas bersama mahasiswa Unesa, Ananda Novia Safitri, secara bergantian menyampaikan materi mengenai penggunaan bahasa Mandarin sederhana untuk kebutuhan wisata serta pemanfaatan teknologi AI.
Antusiasme peserta terlihat ketika sejumlah driver memotret materi yang ditampilkan melalui slide menggunakan telepon seluler. Suasana kemudian menjadi lebih santai ketika peserta mengetahui seluruh materi pelatihan akan dibagikan secara gratis setelah kegiatan.
Salah seorang driver travel UMKM Lintas Karya Muda, Anang Setiawan, mengaku sejumlah materi bahasa Mandarin dan penggunaan AI cukup relevan dengan kebutuhan pekerjaannya.
“Tadi ada beberapa kalimat bahasa Mandarin yang saya butuh sekali, sehingga saya foto. Cara menggunakan AI tadi juga saya foto supaya tidak lupa. Tapi ternyata filenya bakal dikasih. Terima kasih tim dari Unesa,” kata Anang.

AI Gratis agar Bisa Digunakan Secara Berkelanjutan
Pemilihan platform AI gratis menjadi salah satu perhatian dalam program tersebut. Pertimbangannya, teknologi yang diperkenalkan kepada driver diharapkan tetap dapat digunakan setelah kegiatan selesai tanpa menambah beban biaya.
Pendekatan ini dinilai penting agar teknologi bukan sekadar menjadi materi pelatihan, tetapi benar-benar dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Bahasa Mandarin dapat membantu driver membangun komunikasi dasar dengan wisatawan asal Tiongkok, sedangkan AI dapat dimanfaatkan untuk mencari arti kosakata, mempelajari ungkapan tertentu, memperoleh contoh percakapan, hingga membantu menemukan informasi yang dibutuhkan selama perjalanan.
Model pembelajaran tersebut menunjukkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak selalu harus dilakukan melalui ruang kelas formal. Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan sehingga lebih mudah diterapkan langsung di lapangan.
Bagi para driver travel, kemampuan komunikasi menjadi penting karena mereka tidak hanya berperan sebagai pengemudi. Dalam sejumlah perjalanan wisata, driver juga kerap menjadi orang pertama yang ditanya mengenai destinasi, rute perjalanan, makanan, tempat berbelanja hingga informasi dasar mengenai daerah yang dikunjungi.
Karena itu, kemampuan bahasa asing dan literasi teknologi berpotensi meningkatkan kualitas layanan sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi wisatawan.
Dorong Peningkatan Kompetensi Pekerja Pariwisata
Program tersebut turut dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 mengenai Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Peningkatan kemampuan bahasa dan literasi teknologi diharapkan dapat memperkuat kompetensi pekerja pariwisata sekaligus membuka peluang pengembangan layanan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan wisatawan internasional.
Kegiatan PkM tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha. Akademisi membawa pendekatan pembelajaran serta pengetahuan berbasis penelitian, sementara pelaku usaha memiliki pengalaman langsung mengenai kebutuhan dan tantangan di lapangan.
Melalui pendekatan tersebut, materi bahasa Mandarin tidak hanya berhenti pada teori, tetapi diarahkan pada percakapan yang berpotensi ditemui ketika mendampingi wisatawan. Teknologi AI juga diperkenalkan sebagai alat bantu yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
Setelah pelatihan selesai, para driver diharapkan dapat melanjutkan proses belajar secara mandiri. Ketika menemukan kosakata atau ungkapan Mandarin yang belum dipahami, misalnya, mereka dapat memanfaatkan AI untuk mencari arti, contoh penggunaan maupun alternatif cara berkomunikasi.
Dengan demikian, proses pembelajaran tidak berhenti ketika kegiatan PkM berakhir. Para driver dapat terus mengembangkan keterampilannya selama bekerja, ketika berinteraksi dengan wisatawan maupun saat mempersiapkan perjalanan berikutnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda