JurnalPost.com - Fenomena potongan video wawancara di media sosial—atau yang akrab disebut FYP—sering memperlihatkan anak-anak muda menyampaikan ekspektasi gaji pertama (fresh graduate) yang fantastis. Angkanya tak main-main: mulai dari Rp10 juta hingga Rp30 juta per bulan. Alasan yang paling sering digaungkan adalah status mereka sebagai lulusan perguruan tinggi ternama.
Bagi sebagian generasi muda potongan video semacam ini bisa saja dianggap sebagai gambaran umum tentang besarnya gaji yang layak diterima seorang lulusan perguruan tinggi. Terlebih lagi, tekanan ekonomi saat ini memicu kekhawatiran akibat lonjakan harga barang pokok dan tingginya biaya hidup di kawasan metropolitan. Pertanyaannya, apakah tuntutan kompensasi setinggi itu memang masuk akal jika dibandingkan dengan realitas pasar kerja dan kemampuan para pencari kerja muda saat ini?
Jika dibedah melalui data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran usia muda (15–24 tahun) secara makro memperlihatkan tren penurunan. Pada Februari 2025, populasi penganggur di kelompok umur ini tercatat sebanyak 3,84 juta orang, lalu menyusut menjadi 3,54 juta orang pada Februari 2026. Meski menunjukkan tren positif, jumlah penganggur pada kelompok usia muda masih jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia 25–34 tahun yang berada di angka 1,7 juta orang.
Menurut David Stillman dan Jonah Stillman dalam buku Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja, Gen Z memiliki beberapa karakter yang membedakannya dari generasi sebelumnya, di antaranya Figital, Realistis, FOMO (Fear of Missing Out), dan D.I.Y (Do It Yourself). Karakter tersebut menggambarkan generasi yang tumbuh bersama teknologi, memiliki kecenderungan praktis dalam mengambil keputusan, mudah mengikuti perkembangan yang sedang berlangsung, serta terbiasa mencari solusi secara mandiri melalui akses informasi di internet. Kondisi ini juga membuat informasi mengenai pekerjaan, gaji, dan gaya hidup pekerja semakin mudah mereka temukan melalui media sosial.
Gen Z memang dikenal sangat mengandalkan teknologi, namun mereka tetap berupaya realistis dalam mengambil keputusan yang menjaga kenyamanan serta kesehatan mental. Mengenai fenomena tuntutan gaji fantastis, pola pemikiran Gen Z sebenarnya sangat terstratifikasi berdasarkan kelas sosial-ekonomi. Bagi sebagian lulusan dari kelompok masyarakat kelas atas (upper class), ekspektasi gaji Rp10–30 juta mungkin dianggap wajar karena disesuaikan dengan standar biaya hidup dan gaya hidup yang selama ini mereka kenal. Sebaliknya, bagi sebagian Gen Z dari kelompok menengah ke bawah, pertimbangan mengenai kecukupan gaji mungkin lebih banyak dikaitkan dengan standar upah di wilayah tempat mereka tinggal..
Lantas, apakah realistis bagi seorang lulusan baru untuk langsung mengantongi kompensasi bernilai puluhan juta rupiah? Jawabannya : mungkin, tetapi bukan sesuatu yang mudah dan tentu bukan gambaran umum bagi setiap lulusan baru.
Dalam Perusahaan tertentu dapat mengalokasikan gaji yang tinggi untuk lulusan baru, asalkan sang kandidat menguasai kompetensi langka (niche skills) yang dibuktikan dengan sertifikasi profesional bereputasi—terutama sertifikasi internasional. Keahlian khusus di bidang Data Science, Software Engineering, Financial Modeling, maupun Cybersecurity dapat menjadi nilai tambah karena kompetensi tersebut dibutuhkan dalam bidang industri tertentu.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang bertolak belakang. Persoalan muncul ketika ekspektasi gaji tinggi tidak dibarengi dengan kompetensi, portofolio, sertifikasi, maupun pengalaman yang dapat menunjukkan kemampuan kandidat. Dalam situasi ini, ekspektasi kompensasi tersebut dapat menjadi tidak realistis dan memperlihatkan adanya kesenjangan antara persepsi diri (self-perception) dengan nilai tawar pasar (market value). Bagi entitas bisnis, rekrutmen adalah kalkulasi investasi. Merekrut tenaga kerja berbiaya tinggi tanpa kapasitas yang sepadan adalah bentuk risiko kerugian operasional yang selalu dihindari oleh manajemen manapun.
Menghadapi fenomena ini, dibutuhkan kompromi dan reorientasi dari kedua belah pihak demi menciptakan ekosistem kerja yang produktif. Dari sisi perusahaan, manajemen perlu peka terhadap karakter Gen Z yang menyukai kemandirian dan fleksibilitas. Manajemen perusahaan perlu memodernisasi kultur organisasi agar fleksibel serta komunikatif tanpa mengorbankan tolok ukur kinerja (KPI). Pendekatan yang terlalu kaku dan instruktif hanya akan memicu gesekan emosional dan angka pengunduran diri (turnover) yang tinggi.
Di sisi lain, Generasi Z wajib mengasah kepekaan untuk menganalisis budaya organisasi tempat mereka melamar. Menuntut hak kompensasi tinggi adalah hal yang sah, namun harus diimbangi dengan kewajiban meningkatkan kapasitas diri. Nilai tawar yang tinggi tidak lahir dari nama besar almamater semata, melainkan dari portofolio, sertifikasi pendukung, dan bukti kinerja nyata. Pada akhirnya, tanpa pembuktian kompetensi dan daya saing yang sepadan, tuntutan gaji belasan hingga puluhan juta rupiah hanya akan menjadi ekspektasi yang sulit diwujudkan apabila tidak disertai kompetensi dan daya saing yang sepadan.

Furqan Daniel akhsani T alumnis Sistem Informasi & IKA UNAIR cabang bangkalan
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda