SURABAYA, JurnalPost.com – Upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak hanya dilakukan ketika kasus telah muncul. Pemantauan lingkungan, pemeriksaan jentik, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menekan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Pendekatan tersebut diterapkan Tim LARVACLE mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bersama Kelompok Surabaya Hebat (KSH) di Pogot Baru RW 06, Kota Surabaya.
Program ini melibatkan 15 kader KSH yang selama ini berperan dalam pemantauan jentik dan kondisi lingkungan di wilayah tersebut.
Berangkat dari Kebutuhan Kader
Kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan pengenalan program kepada para kader. Tim LARVACLE bersama mitra kemudian berdiskusi mengenai kondisi lingkungan, pola pemantauan jentik yang telah dilakukan, serta kebutuhan kader dalam mendukung pencegahan DBD di tingkat masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan daun kelor dan biji pepaya yang diolah menjadi serbuk biolarvasida.
Pemilihan kedua bahan tersebut merupakan bagian dari upaya memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai alternatif pendukung dalam pengendalian jentik nyamuk.
Pendampingan tidak hanya berupa penyampaian materi. Para kader juga diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan serbuk biolarvasida serta cara menyampaikan informasi terkait pencegahan DBD kepada masyarakat.
Siapkan Pedoman untuk Keberlanjutan Program
Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan setelah masa pendampingan mahasiswa berakhir, Tim LARVACLE menyerahkan buku pedoman kepada kader KSH.
Pedoman tersebut disiapkan sebagai acuan bagi mitra dalam menjalankan kegiatan serta menggunakan berbagai media pendukung yang telah diperkenalkan selama program berlangsung.
Selain pendampingan secara langsung, kader juga diperkenalkan dengan platform digital yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan edukasi, pemantauan, dan pelaporan.
Penggunaan platform tersebut diharapkan membantu kader dalam melakukan koordinasi sekaligus mendokumentasikan aktivitas pemantauan lingkungan di wilayah Pogot Baru.
Koordinator KSH Pogot Baru, Siti Nurahayu, turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan bersama para kader. Keterlibatan kelompok masyarakat menjadi salah satu unsur penting agar kegiatan dapat terus berjalan setelah program mahasiswa selesai.
Dorong Peran Aktif Masyarakat
Pada tahap akhir, mahasiswa bersama mitra melakukan evaluasi terhadap rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi digunakan untuk melihat pelaksanaan program sekaligus perkembangan pengetahuan dan keterampilan kader selama mengikuti pendampingan.
Keberlanjutan kegiatan juga didukung oleh keberadaan fasilitas di Balai RW yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Fasilitas tersebut dapat menjadi salah satu sarana bagi kader untuk melanjutkan kegiatan edukasi maupun pemantauan lingkungan secara mandiri.
Melalui program LARVACLE, mahasiswa UNAIR mendorong keterlibatan masyarakat bukan hanya sebagai penerima kegiatan, tetapi juga sebagai pihak yang berperan langsung dalam menjalankan serta melanjutkan upaya pencegahan DBD di lingkungan tempat tinggal mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda