JurnalPost.com — Hasil Sensus Penduduk 2020 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok generasi dengan proporsi terbesar di Indonesia, yakni 27,94 persen (BPS, 2021).
Berbeda dengan Generasi Y yang lahir pada masa transisi teknologi, Generasi Z lahir di tengah perkembangan internet serta teknologi yang semakin canggih. Penggunaan internet secara masif yang dekat dengan kehidupan Generasi Z secara tidak langsung turut membentuk karakter mereka.
Karakteristik tersebut antara lain digital natives, ekspresif, multitasking, serta mampu berinteraksi secara intens melalui media sosial. Di samping dampak positif tersebut, terdapat pula dampak negatif, antara lain penurunan kemampuan bersosialisasi, krisis identitas, bahkan hingga internet addiction disorder.
Perkembangan lingkungan kerja pada era modern menunjukkan dinamika yang semakin kompleks sebagai dampak dari globalisasi, kemajuan teknologi, serta digitalisasi dalam berbagai aspek organisasi. Tidak hanya elemen teknis dan struktural yang memengaruhi perubahan dinamika tenaga kerja kontemporer, tetapi juga individu yang terlibat di dalamnya.
Pergeseran komposisi tenaga kerja dengan masuknya Generasi Z ke dunia kerja menjadi salah satu perubahan yang cukup signifikan. Dengan masuknya Generasi Z, prinsip dan perilaku kerja yang berbeda membuat kebijakan sumber daya manusia perlu menyesuaikan diri.
Mereka membawa karakteristik yang berbeda dan berdampak langsung pada dinamika organisasi. Salah satu karakteristik Generasi Z adalah kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan teknologi, mengakses informasi dengan cepat, berpikir kritis, serta terbuka terhadap perubahan.
Di sisi lain, Generasi Z juga memiliki ekspektasi tertentu terhadap dunia kerja, seperti transparansi, kecepatan pengambilan keputusan, keterbukaan komunikasi, fleksibilitas, dan work-life balance. Karakteristik dan ekspektasi tersebut memerlukan lingkungan kerja yang responsif, inklusif, serta berbasis kepercayaan.
Penelitian mengenai fleksibilitas jam kerja dan work-life balance pada karyawan Generasi Z menunjukkan bahwa fleksibilitas memungkinkan karyawan bekerja secara lebih efisien sesuai waktu dan tempat yang nyaman. Sementara itu, work-life balance dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan motivasi, dan mendorong produktivitas.
Generasi Z juga cenderung menghargai keseimbangan tersebut karena tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan, tetapi juga dapat berhubungan dengan produktivitas kerja.
Perubahan karakteristik dan ekspektasi tersebut kemudian memunculkan pandangan yang berbeda terhadap Generasi Z di dunia kerja. Generasi Z tidak jarang dianggap kurang tahan terhadap tekanan, terlalu mengutamakan kenyamanan, atau bahkan kurang produktif dibandingkan generasi sebelumnya.
Padahal, anggapan tersebut perlu dilihat secara lebih kritis. Produktivitas tenaga kerja pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan seberapa lama seseorang bekerja, tetapi juga dengan bagaimana input yang digunakan dapat menghasilkan output secara efisien serta berkualitas.
Lantas, apakah perbedaan karakter dan ekspektasi kerja Generasi Z benar-benar menunjukkan bahwa mereka memiliki produktivitas yang rendah? Atau justru perubahan tersebut menunjukkan bahwa cara bekerja dan kebutuhan tenaga kerja telah mengalami perubahan?
Dalam konteks ini, produktivitas tenaga kerja tidak seharusnya hanya dilihat dari karakter individu pekerja. Pendidikan yang membentuk kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, lingkungan kerja, serta sistem ketenagakerjaan juga menjadi bagian penting yang dapat memengaruhi bagaimana seorang pekerja menghasilkan kinerja secara optimal.
Produktivitas Tidak Hanya Diukur dari Lamanya Waktu Bekerja
Produktivitas tenaga kerja pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan output dengan memanfaatkan input secara efisien. Produktivitas tidak hanya dapat dilihat dari seberapa lama seseorang berada di tempat kerja, tetapi juga dari efisiensi, hasil nyata, dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan.
Dengan demikian, waktu kerja yang lebih panjang tidak selalu menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Dalam konteks Generasi Z, cara pandang terhadap waktu kerja menjadi semakin relevan karena mereka memiliki karakteristik dan ekspektasi kerja yang berbeda.
Generasi Z cenderung menghargai fleksibilitas dalam menentukan waktu maupun tempat kerja serta work-life balance. Fleksibilitas jam kerja memungkinkan pekerja menyesuaikan waktu bekerja dengan kondisi yang dianggap paling sesuai sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara lebih efisien.
Sementara itu, work-life balance membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang dalam kajian tersebut dikaitkan dengan penurunan stres, peningkatan motivasi, dan produktivitas kerja.
Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas juga dipengaruhi oleh kondisi yang memungkinkan seseorang bekerja secara optimal. Faktor seperti fleksibilitas, keseimbangan kehidupan kerja, motivasi, serta lingkungan yang mendukung menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa work-life balance yang baik dapat meningkatkan kepuasan dan produktivitas, khususnya pada Generasi Z. Sebaliknya, ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat menimbulkan stres, kelelahan, serta menurunkan semangat kerja.
Oleh karena itu, anggapan bahwa Generasi Z yang tidak ingin bekerja secara berlebihan berarti tidak produktif menjadi kurang tepat jika produktivitas hanya diukur berdasarkan lamanya waktu bekerja.
Seorang pekerja dapat bekerja dalam waktu yang lebih terukur, tetapi tetap menghasilkan pekerjaan yang efektif dan berkualitas. Dalam hal ini, yang menjadi penting bukan semata-mata seberapa lama Gen Z bekerja, melainkan bagaimana waktu, kemampuan, teknologi, dan kondisi kerja dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kinerja yang optimal.
Perubahan Karakter dan Ekspektasi Kerja Generasi Z
Masuknya Generasi Z ke dunia kerja membawa karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan internet dan teknologi sehingga memiliki kedekatan yang kuat dengan teknologi, kemampuan mengakses informasi secara cepat, serta kecenderungan untuk terbuka terhadap perubahan.
Karakteristik tersebut turut memengaruhi cara mereka memandang dan menjalankan pekerjaan. Dalam lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi, kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan perubahan menjadi salah satu karakter yang dapat mendukung proses kerja.
Perbedaan tersebut juga terlihat dari ekspektasi Generasi Z terhadap lingkungan kerja. Mereka cenderung menghargai fleksibilitas, work-life balance, keterbukaan komunikasi, serta kesempatan untuk berkembang.
Artikel mengenai produktivitas karyawan Gen Z menunjukkan bahwa fleksibilitas jam kerja dan work-life balance menjadi hal yang penting bagi Generasi Z. Fleksibilitas memungkinkan pekerja menyesuaikan waktu dan tempat kerja, sedangkan work-life balance dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan motivasi, dan mendukung produktivitas.
Namun, perubahan ekspektasi tersebut sering kali dipahami secara berbeda. Ketika Generasi Z mempertanyakan budaya kerja yang terlalu kaku, menginginkan fleksibilitas, atau tidak menjadikan bekerja berlebihan sebagai ukuran utama keberhasilan, hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki kemauan untuk bekerja.
Perlu dibedakan antara menolak budaya kerja tertentu dengan menolak pekerjaan itu sendiri. Keinginan terhadap fleksibilitas dan keseimbangan kehidupan kerja dapat menjadi bentuk penyesuaian terhadap kondisi dunia kerja yang berubah, bukan secara otomatis menunjukkan rendahnya etos kerja.
Perubahan cara pandang terhadap pekerjaan pada akhirnya perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan karakter pasar tenaga kerja. Dunia kerja saat ini tidak hanya mengalami perubahan dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi individu yang menjalankannya.
Karena itu, perbedaan antara Generasi Z dan generasi sebelumnya tidak seharusnya langsung dimaknai sebagai kemunduran etos kerja. Yang lebih penting adalah bagaimana perubahan karakter tersebut dapat diakomodasi melalui lingkungan kerja yang responsif, terbuka, dan mampu memanfaatkan karakteristik Generasi Z untuk mendukung produktivitas.
Pendidikan dan Ketidaksesuaian Keterampilan dengan Dunia Kerja
Selain karakter individu dan cara pandang terhadap pekerjaan, produktivitas juga dipengaruhi oleh sistem ketenagakerjaan yang ada di sekitarnya.
Seorang pekerja memang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan dan memberikan hasil terbaik, tetapi kondisi yang dibentuk oleh pendidikan, perusahaan, dan pemerintah juga ikut menentukan apakah kemampuan tersebut dapat digunakan secara optimal.
Karena itu, ketika produktivitas pekerja rendah, persoalannya tidak selalu tepat jika langsung dibebankan kepada pekerja.
Salah satu masalah yang perlu diperhatikan adalah skill mismatch, yaitu ketika pendidikan atau keterampilan yang dimiliki seseorang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dijalankan.
BPS dalam publikasi mengenai Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pemuda bekerja pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya.
BPS juga menjelaskan bahwa kondisi overeducated dan undereducated dapat menimbulkan wage penalty dan inefisiensi ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan produktivitas juga berkaitan dengan seberapa baik pendidikan mampu mempersiapkan seseorang untuk masuk ke dunia kerja.
Masalah tersebut penting jika dikaitkan dengan Gen Z. Mereka bisa saja memiliki pendidikan yang cukup, tetapi belum tentu pekerjaan yang diperoleh benar-benar sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimiliki.
Jika terjadi ketidaksesuaian tersebut, rendahnya produktivitas tidak bisa begitu saja dianggap sebagai bukti bahwa pekerja malas. Bisa saja pekerja membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri atau membutuhkan keterampilan tambahan agar mampu memenuhi tuntutan pekerjaan.
Karena itu, hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu hal yang perlu diperbaiki.
Pentingnya Upskilling dan Reskilling bagi Tenaga Kerja
Selain kesesuaian pendidikan dan pekerjaan, pekerja juga membutuhkan kesempatan untuk terus belajar. Perubahan teknologi membuat keterampilan yang dibutuhkan perusahaan ikut berubah.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga tahun 2030.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa upskilling dan reskilling menjadi semakin penting karena perusahaan menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan yang cepat.
Artinya, tanggung jawab meningkatkan keterampilan tidak hanya berada pada pekerja. Perusahaan juga perlu memberikan kesempatan bagi pekerja untuk belajar dan mengembangkan kemampuan.
Hal ini terlihat dalam survei PwC tahun 2025. Di Indonesia, 64 persen pekerja nonmanajer mengatakan mereka memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran yang dibutuhkan, sedangkan pada tingkat eksekutif senior angkanya mencapai 89 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk berkembang belum tentu dirasakan secara sama oleh semua pekerja.
Lingkungan Kerja, Penghargaan, dan Pemanfaatan Teknologi
Lingkungan kerja juga tidak dapat dipisahkan dari produktivitas. Pekerja yang berada di lingkungan yang terbuka terhadap pembelajaran, komunikasi, dan pengembangan kemampuan akan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang.
Survei PwC menunjukkan bahwa 72 persen pekerja di Indonesia mengatakan tim mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Selain itu, pekerja di Indonesia juga cukup terbuka dalam menyampaikan pendapat dan ide mengenai pekerjaan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa budaya kerja dapat ikut membentuk bagaimana pekerja menggunakan kemampuan mereka.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah upah dan penghargaan. Pekerja tentu berharap kontribusi yang diberikan dapat dihargai secara layak.
Dalam survei PwC, 53 persen pekerja di Indonesia melaporkan memperoleh kenaikan gaji dalam satu tahun terakhir, sementara 10 persen melaporkan mendapatkan promosi.
Data tersebut tidak berarti bahwa kenaikan gaji secara otomatis membuat pekerja menjadi lebih produktif. Namun, penghargaan dan kesempatan berkembang tetap merupakan bagian dari kondisi kerja yang dapat memengaruhi pengalaman dan motivasi pekerja.
Perubahan yang paling terlihat dalam dunia kerja saat ini adalah semakin luasnya penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Generasi Z yang tumbuh dekat dengan teknologi memiliki peluang untuk memanfaatkan perkembangan tersebut dalam pekerjaan.
PwC menemukan bahwa di Indonesia, 96 persen pekerja yang menggunakan generative artificial intelligence (GenAI) setiap hari melaporkan peningkatan produktivitas, sedangkan pada pekerja yang jarang menggunakannya angkanya 75 persen.
Namun, penggunaan AI di Indonesia belum merata. Sebanyak 69 persen responden mengatakan pernah menggunakan AI untuk pekerjaan dalam satu tahun terakhir, tetapi hanya 16 persen yang menggunakannya setiap hari.
Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup. Pekerja perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya, sedangkan perusahaan perlu menyediakan akses, pelatihan, dan aturan penggunaan yang jelas.
World Economic Forum juga menunjukkan bahwa AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi termasuk keterampilan yang diperkirakan semakin penting hingga 2030.
Dengan demikian, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi menjadi bagian penting dari produktivitas tenaga kerja di masa depan.
Produktivitas Merupakan Tanggung Jawab Bersama
Dari berbagai hal tersebut, dapat dilihat bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh apakah seseorang mau bekerja keras atau tidak.
Pendidikan, kesesuaian pekerjaan, kesempatan belajar, lingkungan kerja, sistem penghargaan, dan teknologi semuanya saling berhubungan.
Karena itu, kurang tepat jika persoalan produktivitas hanya dibebankan kepada pekerja, termasuk kepada Gen Z. Pekerja memang mempunyai tanggung jawab untuk terus berkembang, tetapi perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah juga ikut membentuk kondisi yang menentukan apakah seorang pekerja dapat bekerja secara produktif.
Pada akhirnya, pertanyaan “Apakah Gen Z memang malas dan tidak produktif?” tidak cukup untuk menjelaskan persoalan produktivitas tenaga kerja.
Perbedaan karakter dan cara pandang Gen Z terhadap pekerjaan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa mereka memiliki produktivitas yang rendah.
Mereka memang memiliki ekspektasi yang berbeda, seperti menginginkan fleksibilitas, komunikasi yang terbuka, kesempatan berkembang, dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
Namun, perubahan tersebut juga merupakan bagian dari perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh teknologi dan digitalisasi.
Produktivitas sendiri tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja. Produktivitas berkaitan dengan bagaimana tenaga kerja, keterampilan, teknologi, waktu, dan lingkungan kerja dapat digunakan untuk menghasilkan output yang efektif dan berkualitas.
Masalah seperti ketidaksesuaian pendidikan dengan pekerjaan, keterbatasan kesempatan pelatihan, lingkungan kerja, sistem penghargaan, serta kemampuan memanfaatkan teknologi juga perlu diperhatikan.
Karena itu, tantangan Indonesia bukan hanya bagaimana membuat Gen Z bekerja lebih lama, tetapi bagaimana menciptakan tenaga kerja yang lebih terampil, adaptif, dan mampu menghasilkan nilai tambah.
Gen Z perlu terus berkembang, tetapi sistem yang ada di sekitar mereka juga harus mampu memberikan ruang untuk berkembang.
Upaya Meningkatkan Produktivitas Generasi Z
Dari sisi Gen Z, peningkatan produktivitas dapat dimulai dari kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi.
Gen Z perlu mengembangkan hard skill maupun soft skill, mengikuti perkembangan teknologi, melakukan upskilling dan reskilling, serta tetap memiliki etos dan tanggung jawab dalam bekerja.
Kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting karena kebutuhan dunia kerja terus berubah.
Dari sisi perusahaan, perusahaan perlu memberikan kesempatan bagi pekerja untuk mengembangkan kemampuan melalui pelatihan dan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Selain itu, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung komunikasi, pembelajaran, dan perkembangan karier.
Teknologi dan AI juga perlu dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan, bukan sekadar menggantikan tenaga kerja. Penghargaan terhadap pekerja juga perlu diberikan secara wajar dan sejalan dengan kontribusi serta tanggung jawab yang diberikan.
Dari sisi pemerintah, perlu ada upaya untuk memperkuat hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu memastikan bahwa keterampilan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Pemerintah juga perlu memperluas akses terhadap pelatihan, sertifikasi, upskilling, dan reskilling, terutama untuk menghadapi perubahan teknologi.
Kebijakan ketenagakerjaan juga perlu terus disesuaikan dengan perubahan pola kerja dan kebutuhan keterampilan di era digital.
Dengan demikian, pembahasan mengenai Gen Z seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah mereka malas atau rajin. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana Gen Z, perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah dapat bersama-sama menciptakan kondisi kerja yang memungkinkan produktivitas meningkat.
Pada akhirnya, produktivitas bukan hanya tentang seberapa lama seseorang bekerja, tetapi tentang seberapa besar nilai yang mampu dihasilkan dari kemampuan, waktu, teknologi, dan lingkungan kerja yang tersedia.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2025). Cerita data statistik untuk Indonesia: Mismatch pendidikan–pekerjaan pemuda Indonesia: Implikasi bagi bonus demografi. Badan Pusat Statistik.
PwC Indonesia. (2025). Global workforce hopes and fears survey 2025: Indonesia. PwC Indonesia.
World Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025. World Economic Forum.
World Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025: Skills outlook. World Economic Forum.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda