JurnalPost.com - Belakangan ini, istilah healing semakin populer di kalangan anak muda. Banyak orang menganggap healing sebagai cara untuk menghilangkan stres akibat tugas kuliah, pekerjaan, hubungan, maupun tekanan kehidupan sehari-hari. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari nongkrong di kafe, staycation, konser, belanja online, hingga liburan singkat bersama teman. Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut sering membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali.
Fenomena ini cukup sering terjadi pada generasi muda, terutama karena pengaruh media sosial. Ketika melihat orang lain pergi liburan, menikmati makanan mahal, atau membeli barang terbaru, seseorang akan merasa tertarik untuk melakukan hal yang sama. Akibatnya, healing tidak lagi menjadi kebutuhan untuk menenangkan diri, melainkan berubah menjadi tuntutan gaya hidup agar tidak dianggap tertinggal.
Banyak anak muda sebenarnya sadar bahwa kondisi keuangan mereka belum stabil. Akan tetapi, rasa lelah akibat aktivitas sehari-hari membuat mereka merasa pantas memberikan hadiah untuk diri sendiri. Tidak sedikit yang akhirnya menggunakan uang tabungan hanya demi mengikuti tren sesaat. Bahkan, ada yang rela menggunakan fitur paylater agar tetap bisa menikmati gaya hidup tertentu.
Padahal, healing yang sehat tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Menenangkan diri dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti berjalan sore, membaca buku, mendengarkan musik, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Sayangnya, media sosial sering membentuk pola pikir bahwa kebahagiaan harus terlihat mewah dan menarik untuk diunggah.
Kebiasaan konsumtif seperti ini dapat berdampak buruk apabila dilakukan terus-menerus. Seseorang bisa kesulitan mengatur keuangan, memiliki utang, bahkan merasa stres karena kebutuhan hidup tidak terpenuhi. Ironisnya, tujuan awal healing untuk mengurangi tekanan justru berubah menjadi sumber masalah baru.
Generasi muda perlu memahami bahwa menjaga kesehatan mental memang penting, tetapi kondisi finansial juga tidak boleh diabaikan. Menikmati hidup bukan berarti harus selalu mengikuti tren. Setiap orang memiliki kemampuan ekonomi yang berbeda sehingga tidak perlu memaksakan diri demi validasi sosial.
Pada akhirnya, healing seharusnya membantu seseorang merasa lebih tenang, bukan membuat dompet menangis setelahnya. Anak muda perlu belajar membedakan antara kebutuhan emosional dan keinginan sesaat agar dapat menjalani hidup dengan lebih seimbang, baik secara mental maupun finansial.
Sekian, Terima Kasih Sofie Dea Destiana, Mahasiswa PGSD
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda