Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Nilai Rupiah Tertekan oleh Fiskal, Haruskah BI Tetap Turun Tangan?

Ketika Nilai Rupiah Tertekan oleh Fiskal, Haruskah BI Tetap Turun Tangan?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
31 Juli 2026, 19.18 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Krisis Finansial
Ilustrasi : Krisis Finansial di Bawah Atap Bocor

JurnalPost.com - Saat atap rumah bocor, orang yang pertama mengambil ember belum tentu orang yang bertugas memperbaiki genteng. Ember hanya mencegah lantai tergenang air, tidak menyelesaikan masalah. Sumber kebocoran tetap harus ditambal dari atas. Begitu pula ketika rupiah melemah. Bank Indonesia berada paling dekat dengan “genangan” di pasar valuta asing: volatilitas, arus modal keluar, lonjakan permintaan dolar, dan risiko inflasi impor.

Andaikan sumber kebocorannya berasal dari kekhawatiran terhadap arah fiskal, perlukah BI tetap melakukan operasi moneter untuk menjaga nilai tukar rupiah? Jawabannya: perlu. Akan tetapi, operasi moneter harus diperlakukan sebagai jembatan menuju perbaikan fiskal.

IKLAN

Tekanan terhadap rupiah biasanya lahir dari campuran faktor global dan domestik. Anggaplah kekhawatiran fiskal memang menjadi faktor dominan. Pertanyaannya bukan siapa yang bersalah, melainkan siapa yang dapat mencegah dampaknya meluas.

beli
Baca Juga

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pada 31 Juli 2026, JISDOR berada di Rp18.058 per dolar AS. Sebelumnya pada 22 Juli, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dengan terus mengoptimalkan intervensi pasar. Cadangan devisa pada akhir Juni masih sebesar 145,6 miliar dolar AS, setara dengan sekitar 5,5 bulan impor. Hal ini berarti BI masih memiliki ember untuk menampung kebocoran, tetapi ember tersebut memiliki kapasitas yang terbatas.

Masalah Fiskal Masuk Melalui Ekspektasi

Kekhawatiran fiskal tidak selalu muncul karena defisit anggaran melewati batas. Kementerian Keuangan menyampaikan hingga semester I-2026, defisit APBN tercatat Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB. Namun, pasar valuta asing juga menilai arah belanja, ketahanan penerimaan, kebutuhan penerbitan utang, dan siapa yang akan menyerap surat utang tersebut.

Di sinilah terdapat paradoksnya. Angka fiskal terlihat terkendali, tetapi nilai rupiah tetap tertekan apabila investor meragukan arah kebijakan fiskal ke depan. Masalah fiskal yang memengaruhi nilai rupiah adalah melalui premi risiko. Ketika investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset rupiah, harga SBN turun, biaya pembiayaan naik, dan permintaan dolar dapat meningkat.

bayar
Baca Juga

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Mengapa BI Tidak Boleh Diam?

IKLAN

Ada pandangan bahwa BI sebaiknya membiarkan rupiah mencari keseimbangan baru. Biarkan pasar memberi konsekuensi dari keputusan yang dilakukan pemerintah agar pemerintah terdorong untuk memperbaiki kebijakan fiskal. Secara teori, argumen ini terdengar disiplin. Dalam praktik, biaya penyesuaian pasar tidak hanya ditanggung oleh pembuat kebijakan.

Pelemahan yang terlalu cepat menaikkan biaya impor, pembayaran utang, energi, bahan baku dan mesin produksi. Pelaku usaha kemudian menghadapi pilihan: menaikkan harga, menunda ekspansi, atau mengurangi tenaga kerja. Membiarkan rupiah mengalami overshooting demi memberi pelajaran fiskal sama artinya mengirim tagihan kepada rumah tangga dan dunia usaha yang tidak ikut menyusun APBN.

Operasi moneter tetap relevan untuk memutus kepanikan. Intervensi dapat menyediakan likuiditas dolar ketika pasar menipis, meredam fluktuasi, dan mencegah ekspektasi negatif menjadi kenyataan. Namun, BI tidak harus bertarung melawan fundamental. BI hanya perlu mencegah pasar kehilangan akal sebelum fundamental diperbaiki.

Tropical Highway Traffic Panorama
Baca Juga

Biaya yang Tak Masuk Inflasi

Di sisi lain, upaya menjaga nilai rupiah juga memiliki biaya. Imbal hasil instrumen moneter yang lebih tinggi memang dapat menarik modal asing, tetapi juga dapat membuat harga uang di dalam negeri lebih mahal. Intervensi yang terlalu lama dapat mengurangi cadangan devisa. Lebih berbahaya lagi, respons BI yang selalu hadir dapat menciptakan moral hazard: fiskal tidak segera berbenah karena tekanan nilai tukar terus dijaga oleh bank sentral.

Stabilisasi Berbatas Waktu

Jalan keluar terbaik adalah membangun stabilisasi yang bersyarat. BI dapat menahan volatilitas berlebihan tanpa menjanjikan kurs tertentu. Pada saat yang sama, pemerintah harus membayar “waktu” yang dibeli BI dengan sinyal kebijakan fiskal yang dapat diverifikasi. Pasar membutuhkan penjelasan mengenai belanja, penerimaan, strategi jatuh tempo utang, serta batas yang jelas agar pembiayaan program prioritas tidak menekan pasar SBN secara berlebihan.

Operasi moneter bukanlah perbaikan atas genteng fiskal yang bocor. Ia hanya menahan genangan agar rumah tetap dapat dihuni. Tanpa perbaikan dari atas, ember sebesar apa pun pada akhirnya akan penuh.

BI tetap harus menjaga rupiah, bahkan ketika sumber tekanan terutama datang dari fiskal. Namun, ukuran keberhasilannya adalah apakah waktu yang dibeli bank sentral benar-benar digunakan pemerintah untuk memperbaiki arah belanja, penerimaan, dan pembiayaan. Pertanyaannya: sampai kapan suku bunga, likuiditas, dan cadangan devisa sanggup menjadi ember, sementara genteng fiskal belum selesai diperbaiki?

Penulis: Ircham Andrianto Taufick – Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-nilai-rupiah-tertekan-oleh-fiskal-haruskah-bi-tetap-turun-tangan/96334/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.58 WITA

  • #Bank Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Pilihan Editor

  1. 1 Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat
  2. 2

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

  3. 3

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  4. 4

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  5. 5

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.