JurnalPost.com - Bayangkan tinggal di sebuah tempat di mana untuk melihat negara lain, kita tidak membutuhkan pesawat. Cukup berjalan beberapa langkah. Bahasa mungkin berbeda, harga barang bisa berbeda, kebiasaan masyarakat tidak selalu sama, bahkan mata uang yang digunakan pun berbeda. Namun aktivitas ekonomi di antara keduanya dapat berlangsung begitu dekat.
Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, kondisi tersebut bukan sekadar gambaran di peta. Perbatasan adalah ruang tempat manusia, barang, jasa, dan aktivitas ekonomi bertemu setiap hari. Kedekatan geografis dengan negara tetangga membuka peluang perdagangan dan konektivitas yang besar, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan untuk memastikan masyarakat tetap terhubung kuat dengan sistem ekonomi nasional. Di sinilah pertanyaan penting muncul: ketika masyarakat begitu dekat dengan negeri sebelah, bagaimana memastikan Indonesia tetap terasa dekat dalam kehidupan ekonomi mereka?
Ketika Batas Negara Tidak Menghentikan Aktivitas Ekonomi Perkembangan konektivitas membuat garis batas antarnegara tidak lagi menghentikan pergerakan ekonomi. Barang dapat berpindah, masyarakat dapat bepergian, pelaku usaha dapat menjangkau konsumen lintas negara, dan transaksi dapat dilakukan semakin cepat melalui teknologi digital.
Kondisi tersebut membawa peluang besar bagi kawasan perbatasan. Namun keterbukaan juga membutuhkan fondasi yang kuat. Sebab semakin intensif hubungan ekonomi dengan negara lain, semakin penting pula memastikan bahwa masyarakat tetap memiliki akses terhadap sistem pembayaran, layanan keuangan, dan kebijakan ekonomi nasional.
Perbatasan karena itu bukan sekadar tempat bertemunya dua wilayah negara. Ia adalah titik pertemuan dua ekosistem ekonomi. Dan di titik pertemuan itulah ketahanan ekonomi Indonesia diuji.
Apa yang Membuat Kita Tetap Terhubung dengan Indonesia? Salah satu jawabannya sederhana: Rupiah.
Rupiah bukan sekadar alat untuk membayar barang dan jasa. Ia merupakan mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus simbol kedaulatan yang hadir dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, memastikan Rupiah tetap tersedia dan dapat digunakan hingga wilayah terluar merupakan bagian penting dari menjaga integrasi ekonomi nasional.
Bank Indonesia memiliki peran untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah yang layak edar serta akses sistem pembayaran hingga wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal. Layanan kas keliling menjadi salah satu instrumen untuk menjangkau masyarakat yang menghadapi keterbatasan geografis dan akses layanan keuangan.
Di sana, kehadiran Rupiah menjadi lebih dari sekadar transaksi. Ia menjadi tanda bahwa masyarakat di wilayah paling luar tetap berada dalam satu rumah ekonomi yang sama.
Ketika masyarakat dapat memperoleh Rupiah yang layak edar, ketika pelaku usaha memiliki akses terhadap layanan pembayaran, dan ketika masyarakat memperoleh edukasi keuangan yang memadai, kehadiran negara menjadi nyata dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, menjaga kedaulatan ekonomi tidak cukup hanya dengan memastikan garis batas negara tetap jelas di peta. Kedaulatan harus hadir dalam cara masyarakat bertransaksi, menjalankan usaha, mengakses layanan keuangan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat di kawasan perbatasan juga membutuhkan stabilitas ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung. Tantangan geografis dan distribusi dapat memengaruhi ketersediaan serta harga barang kebutuhan pokok. Karena itu, berbagai upaya pengendalian inflasi seperti operasi pasar dan penguatan distribusi kebutuhan pokok menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Sebab bagi masyarakat, stabilitas ekonomi bukan hanya angka dalam laporan. Ia adalah harga bahan makanan di pasar. Ia adalah kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia adalah kepastian bahwa barang yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan harga yang wajar.
Ketika hal tersebut dapat dijaga, masyarakat tidak hanya merasakan bahwa negara memiliki batas wilayah yang jelas, tetapi juga merasakan bahwa negara hadir dalam kehidupan ekonominya.
Pada akhirnya, kawasan perbatasan tidak seharusnya hanya dipandang dari sisi pertahanannya. Ia juga memiliki potensi sebagai pusat pertumbuhan baru. Pelaku usaha lokal dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas. Masyarakat dapat terhubung dengan layanan keuangan. Pemerintah daerah dapat meningkatkan kualitas layanan publik. Dan kawasan yang dahulu dianggap sebagai wilayah paling jauh dari pusat ekonomi dapat berubah menjadi simpul yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.
Bukan hanya garis yang memisahkan dua negara, tetapi ruang yang mempertemukan peluang. Pada akhirnya, perbatasan bukan hanya tentang seberapa jauh Indonesia terbentang. Ia adalah tentang seberapa kuat Indonesia hadir.
Hadir melalui Rupiah yang tersedia ketika masyarakat membutuhkannya. Hadir melalui sistem pembayaran yang semakin mudah dan terhubung. Hadir melalui harga kebutuhan pokok yang tetap dijaga. Hadir melalui layanan publik yang semakin digital. Dan hadir melalui kesempatan ekonomi yang membuat masyarakat di wilayah terluar tidak merasa berada di luar dari denyut pembangunan nasional.
Sebab ketika seseorang hanya membutuhkan satu langkah untuk sampai ke negeri sebelah, Indonesia tidak boleh terasa jauh dari kehidupannya. Justru di sanalah Indonesia harus terasa paling dekat. Karena perbatasan bukan tempat Indonesia berakhir. Perbatasan adalah tempat Indonesia menunjukkan siapa dirinya.
Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda