JurnalPost.com - Kehadiran teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara anak muda berinteraksi, memperoleh informasi, serta mengenali identitas dirinya. Platform seperti TikTok dan Instagram kini bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan gaya hidup, mengikuti tren, hingga mencari pengakuan sosial.
Di tengah derasnya arus informasi tersebut, muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau perkembangan yang dialami orang lain. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah anak muda saat ini benar-benar bebas mengekspresikan dirinya, atau justru semakin terikat pada standar yang dibentuk oleh tren dan lingkungan sosial?
FOMO menjadi persoalan yang menarik untuk dibahas karena masa muda merupakan fase penting dalam proses pencarian jati diri. Pada tahap ini, seseorang cenderung memiliki kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh lingkungan sekitarnya. Keinginan tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kebutuhan akan pengakuan membuat seseorang terus-menerus menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain, kebebasan untuk menjadi diri sendiri dapat terancam.
Oleh karena itu, FOMO tidak dapat dipandang hanya sebagai kebiasaan mengikuti perkembangan media sosial. Fenomena ini juga berkaitan dengan persoalan sosial dan budaya yang memengaruhi cara generasi muda membentuk identitasnya.
Media Sosial dan Tekanan untuk Selalu Mengikuti Tren
FOMO berkembang seiring meningkatnya keterhubungan masyarakat melalui teknologi digital. Media sosial memungkinkan seseorang melihat aktivitas, pencapaian, dan pengalaman orang lain hanya dalam hitungan detik. Mulai dari gaya berpakaian, tempat nongkrong populer, perjalanan wisata, hingga prestasi akademik, semuanya dapat ditemukan dengan mudah melalui layar ponsel.
Imaddudin (2020), dalam kajiannya mengenai FOMO dan konsep diri Generasi Z, membahas keterkaitan antara pengalaman bermedia sosial dan cara individu memandang dirinya sendiri. Hal ini menjadi relevan ketika anak muda terus-menerus membandingkan kehidupan pribadinya dengan gambaran kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.
Konten yang terlihat menarik dan sempurna sering kali hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Namun, ketika konten tersebut dijadikan ukuran keberhasilan, seseorang dapat merasa bahwa kehidupannya kurang menarik, tidak cukup berhasil, atau tertinggal dibandingkan orang lain.
Perasaan inilah yang kemudian dapat mendorong seseorang mengikuti tren demi memperoleh penerimaan dan pengakuan sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena tersebut dapat ditemukan melalui berbagai perilaku. Misalnya, membeli pakaian model terbaru, menggunakan produk yang sedang viral, mengikuti istilah bahasa gaul tertentu, atau mengunjungi tempat populer hanya agar tidak dianggap ketinggalan zaman oleh lingkungan pertemanan.
Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Tren dapat menjadi sarana hiburan, memperluas pergaulan, bahkan membuka kesempatan untuk mencoba pengalaman baru. Persoalan muncul ketika seseorang melakukan sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan atau minat pribadinya, melainkan semata-mata karena takut dianggap berbeda.
Pada kondisi tersebut, keputusan pribadi mulai dipengaruhi tekanan sosial. Apa yang terlihat sebagai bentuk kebebasan berekspresi justru dapat berubah menjadi upaya memenuhi ekspektasi orang lain demi mendapatkan validasi.
FOMO dan Proses Pembentukan Identitas Anak Muda
Fenomena FOMO memiliki hubungan erat dengan proses pembentukan identitas, terutama pada masa remaja dan dewasa muda. Pada fase ini, individu mulai mengeksplorasi minat, nilai, keyakinan, serta posisi dirinya dalam lingkungan sosial.
Kajian Avci, Baams, dan Kretschmer (2025) mengenai penggunaan media sosial dan perkembangan identitas remaja menunjukkan bahwa hubungan keduanya bersifat kompleks.
Di satu sisi, media sosial dapat memberikan ruang bagi anak muda untuk mengeksplorasi minat, mengembangkan kreativitas, menemukan komunitas, dan mengekspresikan identitas dirinya.
Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial juga dapat berkaitan dengan berbagai tekanan psikologis, termasuk kecenderungan melakukan perbandingan sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak secara otomatis menyebabkan krisis identitas. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada cara individu menggunakan platform digital, jenis interaksi yang dilakukan, serta bagaimana mereka memaknai informasi yang diterima.
Ketika media sosial dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai diri sendiri, seseorang berisiko kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak puas terhadap kehidupannya.
Sebaliknya, apabila digunakan secara sadar dan bijaksana, media sosial justru dapat membantu seseorang menemukan lingkungan yang mendukung perkembangan kepribadiannya.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan terletak pada keberadaan media sosial, melainkan pada kemampuan individu untuk membedakan antara kebutuhan pribadi dan tekanan yang muncul dari lingkungan digital.
Antara Budaya, Identitas, dan Keinginan untuk Diterima
Dari sudut pandang sosial dan budaya, FOMO memperlihatkan adanya dilema antara kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok dan keinginan mempertahankan keunikan diri.
Masyarakat Indonesia memiliki nilai kebersamaan dan solidaritas sosial yang kuat. Nilai tersebut berperan penting dalam membangun hubungan antarmasyarakat. Namun, dalam situasi tertentu, dorongan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok juga dapat menimbulkan tekanan terhadap individu yang memiliki pilihan berbeda.
Pada era digital, tekanan tersebut semakin luas. Standar gaya hidup tidak lagi hanya dibentuk oleh keluarga, teman sekolah, atau lingkungan tempat tinggal, tetapi juga oleh kreator konten, figur publik, dan tren global yang tersebar melalui media sosial.
Akibatnya, anak muda menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pengaruh budaya global dengan nilai serta identitas yang telah dimilikinya.
Meskipun demikian, mengikuti perkembangan budaya global tidak selalu berarti meninggalkan budaya lokal. Media sosial justru dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan bahasa daerah, pakaian tradisional, kuliner khas, hingga kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Persoalannya adalah bagaimana generasi muda tidak sekadar mengikuti tren demi memperoleh perhatian atau jumlah tanda suka, tetapi juga memahami nilai dan makna dari budaya yang ditampilkan.
Kreativitas dan modernitas seharusnya dapat berjalan berdampingan dengan upaya mempertahankan identitas budaya. Keterbukaan terhadap perubahan tidak harus menghilangkan penghargaan terhadap akar budaya sendiri.
Pentingnya Literasi Digital dan Kesadaran Diri
Menghadapi tekanan FOMO membutuhkan kemampuan literasi digital sekaligus pemahaman yang baik terhadap diri sendiri.
Anak muda perlu membiasakan diri untuk berpikir kritis sebelum mengikuti suatu tren. Pertanyaan sederhana seperti, "Apakah saya benar-benar menyukai hal ini, atau hanya takut dianggap ketinggalan?" dapat menjadi langkah awal untuk memahami motivasi di balik suatu keputusan.
Kesadaran tersebut penting agar pilihan yang diambil tidak selalu didasarkan pada penilaian orang lain.
Selain individu, keluarga dan lembaga pendidikan juga memiliki peran dalam membantu generasi muda menghadapi tekanan sosial di dunia digital.
Lingkungan yang memberikan ruang untuk berdiskusi, menghargai perbedaan, dan tidak menjadikan popularitas atau kepemilikan barang sebagai ukuran utama keberhasilan dapat membantu anak muda mengembangkan kepercayaan diri.
Pendidikan literasi digital juga perlu diarahkan pada kemampuan memahami bahwa konten media sosial tidak selalu mencerminkan kehidupan seseorang secara utuh.
Foto perjalanan, pencapaian akademik, maupun gaya hidup yang terlihat menarik di media sosial merupakan bagian dari informasi yang dipilih untuk ditampilkan. Karena itu, membandingkan seluruh kehidupan pribadi dengan potongan kehidupan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk mengukur keberhasilan diri.
Mengurangi tekanan FOMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sadar, membatasi perbandingan sosial yang tidak sehat, dan memberikan perhatian lebih besar terhadap tujuan serta kebutuhan pribadi.
Menjadi Diri Sendiri di Tengah Perubahan Zaman
Fenomena FOMO memperlihatkan bahwa salah satu tantangan besar generasi muda di era digital bukan hanya kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga keberanian mempertahankan identitas diri di tengah berbagai pengaruh sosial.
Mengikuti tren tidak selalu berarti kehilangan jati diri. Sebaliknya, memilih untuk tidak mengikuti tren juga bukan berarti menolak perkembangan zaman.
Permasalahan muncul ketika kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan membuat seseorang mengabaikan nilai, minat, dan prinsip yang sebenarnya diyakini.
Oleh sebab itu, kesadaran diri, kemampuan memilah informasi, serta keberanian mengambil keputusan secara mandiri menjadi hal penting dalam menghadapi kehidupan digital.
Menjadi diri sendiri bukan berarti menutup diri dari perubahan. Justru, seseorang yang mengenali identitasnya akan lebih mampu menentukan pengaruh luar mana yang sesuai dengan kebutuhan dan prinsip hidupnya.
Pada akhirnya, keberanian untuk tidak mengikuti tren yang bertentangan dengan nilai pribadi merupakan salah satu bentuk kemandirian dalam membangun identitas yang autentik.
Di tengah dunia digital yang bergerak begitu cepat, menjadi diri sendiri bukanlah tentang seberapa berbeda seseorang dari orang lain, melainkan tentang sejauh mana ia mampu menjalani kehidupan berdasarkan pilihan dan kesadaran dirinya sendiri.
Daftar Pustaka
Imaddudin. (2020). Fear of Missing Out (FoMO) dan konsep diri Generasi-Z: Ditinjau dari aspek komunikasi. Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal, 2(1), 24–39. DOI: 10.35706/jprmedcom.v2i1.3747
Avci, H., Baams, L., & Kretschmer, T. (2025). A systematic review of social media use and adolescent identity development. Adolescent Research Review, 10, 219–236. DOI: 10.1007/s40894-024-00251-1
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda