JurnalPost.com - Saya pernah kehilangan sebuah sikat gigi ketika masih tergolong santri baru. Kedengarannya sepele, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk dijadikan sebuah cerita. Namun, bagi saya, peristiwa kecil itu justru menjadi salah satu pengalaman yang membuat saya mulai memahami arti hidup bersama di lingkungan pesantren.
Ketika pertama kali masuk pesantren, saya masih membawa banyak kebiasaan dari rumah. Salah satunya adalah kebiasaan mengurus barang-barang pribadi. Bedanya, di pesantren tidak ada lagi ibu yang setiap saat mengingatkan atau membantu mencarikan barang ketika saya lupa meletakkannya.
Senior di kamar pernah mengingatkan bahwa kehilangan atau tertukarnya barang merupakan sesuatu yang bisa terjadi. Jumlah santri yang banyak membuat barang-barang mudah berpindah tempat. Selain itu, sebagian santri juga masih sama-sama belajar untuk menghargai dan menjaga barang milik orang lain.
Suatu pagi, ketika hendak mandi, saya mendapati peralatan mandi saya tidak lagi berada di tempat semula. Setelah mencari ke beberapa sudut, saya menemukan sebagian barang tersebut tergeletak di lantai, tepatnya di sudut lorong kamar mandi.
Namun, setelah saya periksa satu per satu, ada satu barang yang tidak ditemukan, yaitu sikat gigi.
Saya mulai merasa kesal. Berbagai prasangka pun muncul dalam pikiran. Saya kemudian bertanya kepada beberapa teman yang berada di sekitar tempat tersebut. Saat itu, saya sempat menduga bahwa mungkin ada seseorang yang mengambilnya.
Karena masih penasaran, saya menceritakan kejadian tersebut kepada senior kamar. Saya tidak bermaksud mencari siapa yang mengambil barang itu. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang baru saja saya alami.
Responsnya justru sangat santai.
“Hahaha... santai, Kang, itu pengalaman berharga. Sabun sampean taruh kamar saja. Jangan di rak yang depan kamar mandi. Kalau punya saya mah aman, kebanyakan santri sungkan sama saya.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa barang yang diletakkan di rak depan kamar mandi memang lebih mudah tersenggol atau berpindah tempat. Setelah mendengar penjelasannya, saya pun menganggap persoalan tersebut selesai.
Namun, ternyata ceritanya belum berakhir.
Kejujuran yang Datang Tanpa Diminta
Siang harinya, ketika saya pulang sekolah, seorang santri senior yang usianya sekitar 18 tahun mendatangi saya.
Ia menjelaskan bahwa pada malam sebelumnya, dirinya sempat merapikan rak tempat peralatan mandi. Ketika itu, sabun saya yang semula berada di rak bagian atas dipindahkan ke bagian bawah. Akibatnya, peralatan mandi tersebut menjadi lebih mudah tersenggol dan jatuh.
Setelah menjelaskan kejadian itu, ia mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi cukup membekas dalam ingatan saya.
“Maafkan saya, Kang.”
Tidak berhenti sampai di situ, ia juga membawa sebuah sikat gigi baru sebagai bentuk ganti rugi. Ia meminta saya untuk mengikhlaskan kejadian tersebut.
Saya justru merasa terkejut.
Bukan karena mendapatkan sikat gigi baru. Bahkan, saya menolak pemberiannya karena sebelumnya sudah membeli sikat gigi pengganti sehingga tidak membutuhkannya lagi.
Hal yang membuat saya terkesan adalah keberaniannya untuk datang sendiri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada yang menuduhnya. Tidak ada pula yang secara khusus mencari siapa yang harus bertanggung jawab. Saya sendiri sebelumnya tidak mengetahui bagaimana peralatan mandi tersebut bisa berpindah tempat.
Ia sebenarnya dapat memilih untuk diam. Jika demikian, mungkin saya tidak akan pernah mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Namun, ia memilih untuk datang, mengakui keterlibatannya, meminta maaf, dan menawarkan ganti rugi.
Bagi saya yang ketika itu masih menjadi santri baru, sikap tersebut merupakan pengalaman yang cukup mengejutkan sekaligus memberikan pelajaran berharga.
Saya mulai memahami bahwa kehidupan di pesantren memiliki cara tersendiri dalam menghadapi persoalan.
Kesalahan tidak selalu harus berakhir dengan mencari siapa yang paling pantas disalahkan. Ada ruang untuk memberikan penjelasan, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan menyelesaikan persoalan secara baik-baik.
Belajar Menahan Prasangka dan Memahami Tabayun
Dari peristiwa tersebut, saya juga mulai menyadari satu kekurangan dalam diri sendiri, yaitu terlalu mudah mengambil kesimpulan.
Ketika mengetahui sikat gigi saya hilang, pikiran pertama yang muncul adalah dugaan bahwa seseorang telah mengambilnya.
Padahal, kenyataannya belum tentu demikian.
Barang yang tidak ditemukan bukan berarti selalu ada orang yang sengaja mengambilnya. Bisa saja barang tersebut berpindah karena tersenggol, terjatuh, atau sebab lain yang belum kita ketahui.
Pengalaman itu membuat saya semakin memahami pentingnya tabayun, yaitu mencari kejelasan atau memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mengambil sikap.
Ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, kita perlu belajar menahan diri sebelum membuat kesimpulan.
Kita perlu bertanya, mencari kejelasan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Sikap tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam kehidupan bersama, kemampuan menahan prasangka dapat membantu mencegah kesalahpahaman yang lebih besar.
Bayangkan apabila ketika itu saya langsung menuduh seseorang mengambil sikat gigi saya. Persoalan kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan baik mungkin justru berkembang menjadi pertengkaran.
Dari kejadian tersebut, saya belajar bahwa tidak semua persoalan harus segera dijawab dengan kemarahan. Terkadang, kita hanya perlu bersabar dan memberi kesempatan agar keadaan menjadi lebih jelas.
Menemukan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Pesantren
Ketika mengingat kembali kejadian tersebut, saya justru teringat pada sesuatu yang selama ini kita kenal sebagai nilai-nilai Pancasila.
Pancasila sering kali hadir dalam bentuk hafalan. Kita mengenal lima silanya, menjawab pertanyaan tentang maknanya, dan mempelajarinya melalui buku maupun penjelasan guru di ruang kelas.
Namun, semakin saya memikirkan pengalaman tersebut, semakin saya menyadari bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Nilai itu dapat ditemukan dalam tindakan sederhana, termasuk ketika seseorang berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Sikap santri senior yang datang meminta maaf mengingatkan saya pada nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Menghargai orang lain tidak cukup hanya dilakukan melalui perkataan yang baik. Sikap tersebut juga tercermin dari kesediaan untuk mengakui kesalahan, menjaga hak orang lain, dan bertanggung jawab ketika tindakan kita menimbulkan kerugian.
Dalam peristiwa itu, santri senior tersebut tidak menunggu sampai seseorang menegurnya. Ia datang atas kesadarannya sendiri.
Bagi saya, tindakan tersebut merupakan contoh sederhana bagaimana nilai kemanusiaan dapat diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.
Selain itu, pengalaman tersebut juga mengingatkan saya pada sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Musyawarah bukan hanya sesuatu yang dibicarakan dalam pelajaran Pendidikan Pancasila atau diterapkan dalam rapat organisasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, semangat permusyawaratan juga dapat tercermin dari kesediaan untuk mendengar penjelasan, mempertimbangkan keadaan dengan bijaksana, dan mencari penyelesaian tanpa memaksakan kehendak.
Ketika menghadapi persoalan, kita tidak seharusnya terburu-buru menetapkan siapa yang salah sebelum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai permusyawaratan yang menjadi bagian dari dasar kehidupan berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa peristiwa kehilangan sikat gigi tersebut merupakan contoh musyawarah formal. Namun, cara persoalan itu diselesaikan memperlihatkan pentingnya komunikasi, keterbukaan, dan sikap saling menghargai.
Nilai-nilai itulah yang juga diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan Tidak Selalu Datang dari Ruang Kelas
Saya tidak mengatakan bahwa kehidupan di pesantren selalu berjalan sempurna. Setiap lingkungan tentu memiliki persoalan dan tantangannya masing-masing.
Saya sendiri pun masih terus belajar, termasuk dalam memahami bagaimana seharusnya bersikap ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.
Namun, dari kejadian kecil yang bermula dari hilangnya sebuah sikat gigi, saya mendapatkan pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali masuk pesantren.
Saya belajar bahwa kejujuran membutuhkan keberanian. Mengakui kesalahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari tanggung jawab terhadap orang lain.
Saya juga belajar bahwa prasangka yang muncul terlalu cepat dapat membuat kita keliru memahami suatu keadaan.
Ternyata, pendidikan tidak selalu datang dalam bentuk pelajaran yang tertulis di papan tulis, tugas sekolah, atau penjelasan guru di depan kelas.
Terkadang, pendidikan justru hadir melalui pengalaman sederhana yang membuat kita berhenti sejenak, berpikir, dan memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Pagi itu, saya kehilangan sebuah sikat gigi. Namun, dari kejadian tersebut, saya memperoleh pengalaman berharga tentang kejujuran, tanggung jawab, pentingnya tabayun, dan keberanian untuk meminta maaf.
Pengalaman itu juga mengajarkan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak harus selalu dipahami melalui pembahasan yang besar dan rumit.
Nilai-nilainya dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti menghargai barang milik orang lain, mengakui kesalahan, mendengarkan penjelasan, dan tidak terburu-buru menuduh seseorang.
Pada akhirnya, saya semakin memahami bahwa Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan. Nilai-nilainya akan lebih bermakna ketika kita berusaha menjadikannya bagian dari sikap dan cara hidup bersama.
Biodata Penulis
Muhammad Husnul Huda merupakan mahasiswa Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Pendidikan Agama Islam di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC). Penulis berdomisili di Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan, kehidupan pesantren, serta pengalaman sosial dan keagamaan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda