SIDOARJO, JurnalPost.com — Kawasan yang dahulu menjadi bagian dari wilayah terdampak semburan lumpur kini menghadirkan wajah baru di muara Sungai Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Endapan sedimen yang mengeras secara bertahap membentuk daratan baru dan kemudian ditumbuhi vegetasi mangrove.
Daratan tersebut kini dikenal sebagai Pulau Lusi, singkatan dari Lumpur Sidoarjo. Kawasan ini menjadi bagian dari Wisata Bahari Tlocor di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, dan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata alam yang banyak dikunjungi, terutama pada akhir pekan.
Potensi Pulau Lusi menarik perhatian tim peneliti Program Studi Pariwisata Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPN Veteran Jatim). Pada Juli hingga Agustus 2026, tim melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan konsep experience-based interpretation atau interpretasi wisata berbasis pengalaman.
Penelitian tersebut diarahkan untuk membuat pengalaman berkunjung ke Pulau Lusi tidak hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga memberikan pemahaman kepada wisatawan mengenai sejarah pembentukan kawasan, ekosistem mangrove, lingkungan pesisir, hingga peran masyarakat dalam mengelolanya.
Pulau Lusi terbentuk dari endapan lumpur di kawasan muara Sungai Porong. Seiring berjalannya waktu, berbagai jenis mangrove tumbuh dengan tingkat kerapatan berbeda dan membentuk ekosistem pesisir baru yang kemudian menjadi salah satu daya tarik kawasan.

Pengelolaan wisata dilakukan secara swadaya oleh masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sejak 2019. Wisatawan dapat menikmati panorama mangrove, menyusuri kawasan, memancing, hingga menikmati suasana pesisir.
Namun, tim peneliti menilai potensi Pulau Lusi jauh lebih luas daripada sekadar bentang alam. Sejarah terbentuknya pulau, proses sedimentasi, perkembangan ekosistem mangrove, serta keterlibatan masyarakat dapat dikemas menjadi pengalaman edukatif yang menarik bagi pengunjung.
Dari Wisata Pasif Menjadi Pengalaman Edukatif
Selama ini, aktivitas wisatawan di Pulau Lusi sebagian besar masih berpusat pada menikmati pemandangan hutan mangrove, berjalan melalui jalur yang tersedia, serta berfoto.
Tim peneliti melihat aktivitas tersebut dapat dikembangkan dengan pendekatan interpretasi yang membantu wisatawan memahami cerita di balik lanskap yang mereka saksikan.
Melalui konsep experience-based interpretation, pengunjung tidak hanya menerima informasi mengenai Pulau Lusi, tetapi juga diajak memahami tahapan perubahan kawasan tersebut.
Cerita dapat dimulai dari fenomena semburan lumpur, proses pengendapan material di muara Sungai Porong, terbentuknya daratan baru, hingga tumbuhnya vegetasi mangrove yang kemudian berkembang menjadi ekosistem pesisir.
Konsep tersebut dapat diterapkan melalui sejumlah kegiatan, seperti penanaman bibit mangrove, penelusuran jalur interpretasi, penggunaan media edukasi interaktif, hingga interaksi langsung dengan masyarakat setempat.
Dengan pendekatan ini, perjalanan wisata di Pulau Lusi diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan rekreasi. Wisatawan juga memperoleh pengalaman belajar mengenai lingkungan, proses pembentukan kawasan, konservasi mangrove, serta pemulihan ekosistem.
Mendukung Tiga Agenda SDGs
Pengembangan wisata berbasis interpretasi di Pulau Lusi juga memiliki keterkaitan dengan tiga agenda Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.

Keterkaitan dengan SDG 15 terlihat melalui upaya memahami sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove dan habitat yang berkembang di kawasan Pulau Lusi.
Sementara itu, keberadaan mangrove di wilayah muara dan pesisir berkaitan dengan SDG 14 karena vegetasi tersebut memiliki peranan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Adapun implementasi SDG 13 dapat terlihat dari pemanfaatan kawasan sebagai media edukasi mengenai lingkungan, perubahan iklim, risiko bencana, serta pentingnya meningkatkan ketahanan wilayah pesisir.
Melalui konsep interpretasi berbasis pengalaman, berbagai isu tersebut tidak hanya disampaikan dalam bentuk informasi tertulis. Wisatawan dapat melihat, melakukan, dan memahami secara langsung berbagai proses yang terjadi di kawasan.
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pariwisata sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan Pulau Lusi yang lebih berkelanjutan.
Kawasan yang lahir dari perubahan besar lingkungan tersebut kini memiliki peluang menjadi ruang pembelajaran mengenai hubungan antara manusia, bencana, ekosistem, dan proses pemulihan alam.
Sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya Pulau Lusi dapat terus disampaikan kepada generasi berikutnya, sementara ekosistem mangrove yang berkembang di atasnya dapat dijaga sebagai bagian dari warisan lingkungan pesisir Sidoarjo.
Penulis: Sheidy Yudhiasta
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda