SINGARAJA, JurnalPost.com - Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, keberagaman budaya Indonesia mendapat ruang ekspresi melalui GAPURA (Ganesha Panggung Ragam) Festival 2026. Salah satu penampilan yang menarik perhatian pengunjung datang dari Sanggar Tari Himpunan Mahasiswa Flores (HIMFLOR) Singaraja yang membawakan tari kreasi Nong Mari Nong.
Penampilan tersebut berlangsung di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Sabtu malam (24/10/2026).
Melalui perpaduan gerakan tradisional Flores, koreografi modern, dan iringan musik yang dinamis, tujuh mahasiswa yang tergabung dalam Sanggar Tari HIMFLOR menghadirkan pertunjukan yang menggambarkan kehangatan serta kebersamaan masyarakat Flores.
Ketujuh penari tersebut adalah Antonia Tere Payon, Maria Fatima Barek Bunga, Antonia Revaldina Lamaude, Agnes Sikka Krowe, Varisah Maretim Karaeng, Maria Oktaviani Sombo, dan Elisabeth Owelsiani S. Lw.
Bagi para mahasiswa asal Flores yang tengah menempuh pendidikan di Singaraja, penampilan ini bukan sekadar kesempatan menunjukkan kemampuan menari. Panggung festival juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
Tari Nong Mari Nong Jadi Media Pengenalan Budaya Flores
Koordinator Penari HIMFLOR, Antonia Tere Payon, menjelaskan bahwa pemilihan tari kreasi Nong Mari Nong berangkat dari keinginan para mahasiswa untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Flores melalui pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Menurutnya, kreativitas dalam seni tari menjadi salah satu cara generasi muda menjaga warisan budaya agar tetap dikenal dan berkembang di tengah perubahan zaman.
"Kami memilih tari kreasi Nong Mari Nong karena ingin menampilkan sebuah pertunjukan yang menarik sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya kepada masyarakat. Melalui tarian ini, kami juga ingin menunjukkan bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki semangat untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan budaya melalui kreativitas seni tari," ujar Antonia Tere Payon di sela-sela acara.
Tari Nong Mari Nong yang dibawakan HIMFLOR mengangkat nilai kebersamaan dan kehangatan dalam kehidupan sosial masyarakat Flores. Unsur tersebut kemudian diterjemahkan melalui gerakan yang energik, perubahan formasi, serta kekompakan para penari.
Konsep pertunjukan ini juga disesuaikan dengan tema GAPURA Fest 2026, yakni "Ragam Warna dalam Harmoni", yang menempatkan keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Perpaduan unsur tradisional dan modern menjadi pilihan para penari untuk menghadirkan pertunjukan yang tetap memiliki akar budaya, tetapi dekat dengan ekspresi seni generasi muda.
Berlatih 11 Hari di Tengah Kesibukan Perkuliahan
Di balik penampilan tersebut, para anggota Sanggar Tari HIMFLOR harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan persiapan pertunjukan.
Salah satu penari, Agnes Sikka Krowe, mengungkapkan bahwa persiapan dilakukan selama 11 hari. Dalam waktu yang relatif singkat itu, para penari berusaha menyelaraskan gerakan, membangun kekompakan, dan menyesuaikan jadwal latihan dengan aktivitas perkuliahan masing-masing.
"Persiapan latihan kami lakukan selama 11 hari. Selama proses latihan, tantangan yang kami hadapi adalah menyatukan gerakan, menjaga kekompakan, serta menyesuaikan jadwal latihan masing-masing penari. Meskipun ada berbagai kendala, kami berusaha untuk saling mendukung dan bekerja sama agar dapat memberikan penampilan terbaik saat tampil," jelas Agnes Sikka Krowe.
Proses latihan tersebut tidak hanya menuntut kemampuan menguasai koreografi, tetapi juga kerja sama antarpersonel. Setiap penari perlu memahami gerakan dan posisi masing-masing agar pertunjukan dapat berjalan selaras.
Bagi anggota HIMFLOR, pengalaman mempersiapkan pementasan juga menjadi bagian dari proses belajar di luar ruang kuliah, terutama dalam membangun disiplin, tanggung jawab, dan komunikasi antarmahasiswa.
Merawat Identitas Budaya di Tanah Perantauan
Kehadiran Sanggar Tari HIMFLOR dalam GAPURA Fest 2026 memperlihatkan bagaimana mahasiswa perantauan dapat mempertahankan kedekatan dengan budaya daerah asalnya.
Di tengah kehidupan kampus yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia, kegiatan seni menjadi salah satu sarana untuk saling mengenal tradisi dan mempererat hubungan sosial.
Penari HIMFLOR, Maria Oktaviani Sombo, berharap kegiatan semacam ini terus mendapat dukungan dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) maupun masyarakat Singaraja.
"Harapan kami, melalui penampilan tari kreasi Nong Mari Nong, pihak kampus dapat terus mendukung kegiatan seni dan budaya yang dilakukan oleh mahasiswa. Kami juga berharap masyarakat Singaraja semakin mengenal, menghargai, dan mencintai seni budaya, serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya. Bagi kami, menari bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menjaga kebersamaan dan melestarikan budaya," tutur Maria Oktaviani Sombo.
Melalui pertunjukan tersebut, para mahasiswa ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk yang sama dari generasi ke generasi. Seni tradisional juga dapat dikembangkan melalui kreativitas tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.
Momentum menjelang Hari Sumpah Pemuda turut memberikan makna tersendiri bagi penampilan HIMFLOR. Semangat persatuan dalam keberagaman tidak hanya hadir melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui perjumpaan budaya di ruang publik.
Bagi mahasiswa Flores di Singaraja, panggung GAPURA Fest 2026 menjadi kesempatan untuk membawa sebagian cerita dari tanah kelahiran mereka ke hadapan masyarakat Bali.
Melalui gerakan tari, mereka memperkenalkan budaya Flores sekaligus membangun hubungan dengan lingkungan tempat mereka menempuh pendidikan.
Penampilan Nong Mari Nong pun menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya Indonesia dapat terus hidup ketika generasi muda mendapatkan ruang untuk mengenal, mempelajari, dan mengekspresikannya.
Penulis: Yohanes Don Bosko Rabha
Afiliasi: Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda