Oleh: Hj. Lisa Herawati Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning
JurnalPost.com Kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai platform pembelajaran berbasis AI memunculkan perdebatan di kalangan pendidik. Sebagian pihak memandang AI sebagai ancaman karena dianggap dapat membuat peserta didik malas berpikir. Di sisi lain, banyak yang melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pertanyaannya, apakah AI benar-benar mengancam pendidikan atau justru menjadi kesempatan untuk memperkuat proses belajar?
Dalam perspektif ilmu pendidikan, teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Dampak positif atau negatifnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Teori konstruktivisme yang dikemukakan Jean Piaget dan dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli pendidikan menekankan bahwa peserta didik membangun pengetahuannya melalui interaksi aktif dengan lingkungan. Dalam konteks ini, AI dapat menjadi sarana yang membantu peserta didik memperoleh informasi, menguji ide, dan memperluas wawasan mereka.
Namun demikian, kekhawatiran terhadap penggunaan AI juga memiliki dasar yang kuat. Banyak peserta didik mulai terbiasa meminta AI menyelesaikan tugas tanpa berusaha memahami proses berpikir yang mendasarinya. Jika kondisi ini terus terjadi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah dapat mengalami penurunan. Pendidikan pada akhirnya hanya berorientasi pada hasil akhir, bukan pada proses pembentukan kemampuan berpikir.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukanlah keberadaan AI, melainkan rendahnya literasi digital dan kesiapan pedagogis dalam memanfaatkannya. Pendidikan seharusnya tidak melarang penggunaan AI secara mutlak. Sebaliknya, sekolah dan perguruan tinggi perlu mengajarkan cara menggunakan AI secara bertanggung jawab dan produktif.
Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Dalam teori pendidikan progresif yang diperkenalkan John Dewey, guru berfungsi sebagai fasilitator yang membantu peserta didik belajar dari pengalaman. Pada era AI, fungsi tersebut semakin relevan. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi pembimbing yang membantu peserta didik menyeleksi informasi, memverifikasi kebenaran data, serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Lebih jauh lagi, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal. Setiap peserta didik memiliki kebutuhan, kemampuan, dan gaya belajar yang berbeda. Melalui teknologi AI, materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang menghargai keunikan peserta didik dan mendorong perkembangan potensi secara optimal.
Dalam konteks Indonesia, penggunaan AI di dunia pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan. Kesenjangan akses teknologi, keterbatasan infrastruktur digital, serta kompetensi guru yang beragam menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menyusun kebijakan yang tidak hanya mendorong pemanfaatan AI, tetapi juga memastikan adanya pelatihan yang memadai bagi pendidik.
Selain itu, aspek etika juga tidak boleh diabaikan. Peserta didik perlu memahami bahwa penggunaan AI harus tetap menjunjung tinggi kejujuran akademik. AI seharusnya digunakan untuk membantu proses belajar, bukan menggantikan usaha intelektual manusia. Pendidikan karakter menjadi fondasi penting agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan bijak. Dunia pendidikan perlu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi utamanya, yaitu membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan mampu belajar sepanjang hayat. Jika dikelola dengan tepat, AI justru dapat menjadi mitra strategis dalam menciptakan pendidikan yang lebih efektif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21.
Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan, melainkan bagaimana memanfaatkan AI agar mampu memperkuat kualitas pembelajaran dan membentuk generasi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda