Oleh: Rahayu Sri Agumi Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning
JurnalPost.com - Setiap hari guru datang ke sekolah dengan membawa harapan yang sama: membantu peserta didik belajar dan berkembang. Di ruang kelas, mereka berusaha menjadi pengajar, motivator, pendengar, bahkan terkadang menjadi sosok yang menenangkan ketika siswa menghadapi masalah. Namun di balik peran tersebut, ada kenyataan yang jarang dibicarakan. Banyak guru yang diam-diam mengalami kelelahan yang mendalam atau yang dikenal sebagai burnout.
Kelelahan yang dialami guru bukan sekadar rasa capek setelah mengajar. Burnout adalah kondisi ketika seseorang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan semangat, merasa tidak berdaya, dan perlahan kehilangan makna dari pekerjaan yang selama ini dicintainya.
Fenomena burnout pada guru semakin mudah ditemukan. Tuntutan profesi guru saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus menyusun berbagai administrasi, membuat laporan, mengisi data pada berbagai platform digital, mengikuti pelatihan, menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan, hingga merespons berbagai kebutuhan peserta didik dan orang tua.
Banyak guru yang mengaku bahwa waktu mereka justru lebih banyak tersita untuk pekerjaan administratif dibandingkan mempersiapkan pembelajaran yang bermakna. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk berinteraksi dengan siswa berkurang karena habis untuk menyelesaikan berbagai tuntutan pekerjaan.
Dalam kajian psikologi pendidikan, Christina Maslach menjelaskan bahwa burnout ditandai oleh kelelahan emosional, menurunnya rasa pencapaian diri, dan munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan. Jika kondisi ini terjadi pada guru, dampaknya tentu tidak hanya dirasakan oleh guru itu sendiri. Proses pembelajaran juga dapat terdampak karena guru yang kelelahan cenderung sulit mempertahankan kreativitas, antusiasme, dan kesabaran yang dibutuhkan dalam mendidik.
Era digital yang seharusnya membantu pekerjaan guru ternyata juga menghadirkan tantangan baru. Berbagai aplikasi pembelajaran, sistem pelaporan daring, dan komunikasi yang berlangsung hampir tanpa batas waktu membuat sebagian guru merasa selalu "siaga". Tidak sedikit yang harus menjawab pesan pekerjaan di luar jam kerja atau menghabiskan waktu malam untuk menyelesaikan tugas administrasi.
Dari perspektif pendidikan humanistik, Abraham Maslow menegaskan bahwa manusia membutuhkan rasa aman, penghargaan, dan kesejahteraan psikologis sebelum mampu mencapai potensi terbaiknya. Guru pun demikian. Sulit mengharapkan guru mampu memberikan pembelajaran yang inspiratif jika mereka sendiri sedang berjuang menghadapi tekanan yang tidak kunjung berkurang.
Sayangnya, persoalan burnout guru masih sering dianggap sebagai masalah pribadi. Ketika seorang guru merasa lelah atau kehilangan motivasi, solusi yang muncul sering kali hanya berupa anjuran untuk lebih sabar dan lebih kuat. Padahal, burnout tidak selalu muncul karena kelemahan individu. Dalam banyak kasus, burnout merupakan akibat dari sistem kerja yang memberikan tuntutan besar tanpa dukungan yang memadai.
Karena itu, upaya mengatasi burnout guru tidak bisa dibebankan kepada guru semata. Sekolah perlu membangun lingkungan kerja yang sehat dan saling mendukung. Pemerintah perlu terus menyederhanakan beban administrasi yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran. Selain itu, perhatian terhadap kesehatan mental guru juga perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pendidikan.
Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Apresiasi terhadap guru seharusnya tidak berhenti pada peringatan Hari Guru semata, tetapi diwujudkan dalam penghargaan terhadap kerja keras mereka setiap hari. Guru bukanlah mesin yang dapat terus bekerja tanpa batas. Mereka adalah manusia yang juga membutuhkan dukungan, penghargaan, dan ruang untuk beristirahat.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, teknologi, atau fasilitas sekolah. Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kondisi para pendidiknya. Jika kita ingin menghadirkan pendidikan yang lebih baik, maka kesehatan dan kesejahteraan guru harus menjadi perhatian bersama. Sebab guru yang bahagia dan sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi generasi masa depan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda