Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Saat AI Bisa Menjawab Soal Matematika, Masihkah Siswa Perlu Berpikir?

Saat AI Bisa Menjawab Soal Matematika, Masihkah Siswa Perlu Berpikir?

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
11 Juni 2026, 20.51 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
AI Bisa Menjawab

Oleh: Refika Sari Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning

JurnalPost.com - Beberapa tahun lalu, siswa yang kesulitan mengerjakan soal matematika biasanya membuka buku, berdiskusi dengan teman, atau bertanya kepada guru. Kini, situasinya mulai berubah. Cukup dengan memotret soal menggunakan ponsel, siswa dapat memperoleh jawaban lengkap beserta langkah penyelesaiannya dalam hitungan detik melalui berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

IKLAN

Kehadiran teknologi semacam ini tentu menjadi kemajuan yang luar biasa. Informasi menjadi lebih mudah diakses, proses belajar lebih fleksibel, dan siswa memiliki kesempatan memperoleh bantuan belajar kapan saja. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan bagi dunia pendidikan: jika AI dapat menyelesaikan soal matematika dengan cepat, masihkah siswa perlu berpikir?

AI di Ruang Kelas
Baca Juga

AI di Ruang Kelas: Ancaman atau Kesempatan bagi Pendidikan?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar dalam pendidikan matematika. Selama ini banyak orang menganggap matematika identik dengan angka, rumus, dan jawaban benar. Padahal, tujuan utama pembelajaran matematika bukan sekadar menemukan hasil akhir, melainkan melatih cara berpikir.

Matematika mengajarkan peserta didik untuk menganalisis masalah, mengenali pola, menyusun strategi, menguji kemungkinan, dan menarik kesimpulan secara logis. Keterampilan inilah yang justru dibutuhkan dalam kehidupan nyata, terutama di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.

Ironisnya, kemudahan teknologi terkadang membuat proses berpikir tersebut terlewati. Sebagian siswa lebih fokus mendapatkan jawaban dibandingkan memahami bagaimana jawaban itu diperoleh. Ketika tugas dapat diselesaikan hanya dengan mengunggah foto soal ke aplikasi tertentu, kesempatan untuk melatih penalaran menjadi semakin berkurang.

Fenomena ini tidak berarti teknologi harus dijauhi dari ruang kelas. Menolak perkembangan teknologi bukanlah pilihan yang realistis. Generasi saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan mereka. Persoalannya bukan pada keberadaan AI, melainkan pada cara kita memanfaatkannya dalam pembelajaran.

PPKn di Era Digital
Baca Juga

PPKn di Era Digital: Mampukah Menumbuhkan Nasionalisme Generasi Muda?

Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kemampuan bernalar matematis peserta didik Indonesia masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Banyak siswa mampu mengerjakan soal rutin, tetapi mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada masalah yang membutuhkan analisis dan penalaran lebih mendalam.

IKLAN

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran matematika tidak cukup hanya berorientasi pada hasil akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa membangun proses berpikir selama belajar. Dalam konteks ini, AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat pemahaman, bukan jalan pintas yang menggantikan proses belajar.

Guru matematika perlu melihat perubahan ini sebagai momentum untuk melakukan penyesuaian strategi pembelajaran. Jika dahulu fokus pembelajaran banyak tertuju pada kemampuan menghitung, kini perhatian perlu diperluas pada kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan menjelaskan alasan di balik suatu jawaban.

Siswa perlu lebih sering diberikan soal-soal kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka juga perlu didorong untuk menjelaskan proses berpikirnya, berdiskusi dengan teman, dan membandingkan berbagai strategi penyelesaian masalah. Dengan cara ini, pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna daripada sekadar menghafal rumus.

Guru yang Burnout
Baca Juga

Guru yang Burnout: Ketika Mereka yang Mengajar Juga Butuh Ditolong

Teknologi dapat mendukung proses tersebut. AI dapat dimanfaatkan untuk memberikan contoh soal tambahan, simulasi konsep matematika, atau umpan balik terhadap pekerjaan siswa. Namun, penggunaan teknologi harus tetap diarahkan pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Di sisi lain, sistem penilaian juga perlu beradaptasi. Jika penilaian hanya berfokus pada jawaban benar atau salah, siswa akan cenderung mencari cara tercepat untuk memperoleh hasil. Sebaliknya, jika proses berpikir turut dihargai, siswa akan lebih terdorong untuk memahami konsep secara mendalam.

Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa matematika bukan sekadar mata pelajaran sekolah. Kemampuan berpikir matematis merupakan bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Dunia kerja saat ini membutuhkan individu yang mampu menganalisis data, mengambil keputusan berdasarkan bukti, serta menyelesaikan masalah secara sistematis. Semua kemampuan tersebut berakar pada cara berpikir yang dilatih melalui matematika.

Karena itu, keberadaan AI tidak seharusnya membuat pembelajaran matematika kehilangan maknanya. Justru di tengah kecanggihan teknologi, kemampuan berpikir manusia menjadi semakin berharga. Mesin dapat menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi kemampuan memahami masalah, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan mengambil keputusan yang bijaksana tetap menjadi keunggulan manusia.

Masa depan pendidikan matematika bukanlah tentang kompetisi antara manusia dan kecerdasan buatan. Masa depan pendidikan matematika adalah tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kemampuan berpikirnya. AI dapat membantu menghitung lebih cepat, tetapi hanya manusia yang mampu memberi makna terhadap hasil perhitungan tersebut.

Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran matematika tidak diukur dari seberapa cepat siswa memperoleh jawaban. Keberhasilan yang sesungguhnya terlihat ketika siswa mampu berpikir secara logis, kritis, dan kreatif dalam menghadapi persoalan kehidupan. Karena itu, ketika AI semakin mahir menjawab soal matematika, tugas sekolah justru semakin penting: memastikan bahwa siswa tidak berhenti berpikir.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/saat-ai-bisa-menjawab-soal-matematika-masihkah-siswa-perlu-berpikir/94353/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Artificial Intelligence
  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Lancang Kuning

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pilihan Editor

  1. 1 Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka
  2. 2

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  3. 3

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  4. 4

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  5. 5

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.