Beijing, JurnalPost.com — Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertolak ke New Delhi untuk menghadiri pertemuan BRICS tahun ini. Agenda tersebut berlangsung tidak lama setelah Xi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Bishkek, Kirgizstan.
Rangkaian pertemuan multilateral itu menempatkan kerja sama negara-negara Global South sebagai salah satu isu utama. Tiongkok mendorong penguatan koordinasi negara berkembang, baik melalui SCO maupun BRICS, terutama dalam bidang pembangunan, perdagangan, teknologi, serta tata kelola global.
SCO dan BRICS Perluas Kerja Sama Global South
Dalam KTT SCO di Bishkek yang berakhir pada 1 September 2026, Xi menyebut organisasi tersebut memiliki hubungan erat dengan negara-negara Global South.
“SCO berakar di Global South, denyut nadinya sejalan dengan Global South, dan menjadi salah satu pilar penting kerja sama Selatan-Selatan,” kata Xi.
Ia juga menyerukan agar SCO ikut mendorong pembangunan dan kebangkitan Global South melalui apa yang disebut sebagai “Kearifan SCO”.
Pada pertemuan BRICS mendatang, Xi diperkirakan kembali membawa agenda penguatan kerja sama negara berkembang. Sebelumnya, ia menyebut BRICS berada di garis depan Global South.
Tahun 2026 menandai 25 tahun perjalanan SCO sekaligus 20 tahun mekanisme kerja sama BRICS. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua kelompok tersebut memperluas keanggotaan dan jaringan kemitraannya.
Secara keseluruhan, negara anggota SCO dan BRICS mencakup lebih dari separuh populasi dunia serta sekitar 30 persen perekonomian global.
Tiongkok juga mendorong sejumlah konsep kerja sama, termasuk pendekatan “BRICS Plus” dan gagasan membangun komunitas SCO dengan masa depan bersama.
Kepala Pusat Studi ASEAN-Tiongkok Universitas Indonesia, Humprey Arnaldo Russel, menilai Tiongkok memainkan peran dalam mendorong perkembangan kedua mekanisme tersebut.
“Tiongkok secara konsisten telah memberikan visi dan momentum yang jelas bagi BRICS dan SCO, baik secara konseptual maupun dalam praktik,” ujar Russel.
Menurutnya, perkembangan tersebut membuat BRICS tidak lagi hanya menjadi kelompok terbatas, tetapi berkembang sebagai salah satu platform kerja sama negara-negara berkembang.
Pembangunan Jadi Agenda Utama
Dalam KTT SCO di Bishkek, Xi turut menyerukan agar negara anggota menempatkan pembangunan sebagai prioritas dan memperluas peluang menuju kemakmuran bersama.
Isu pembangunan juga berulang kali menjadi bagian penting dalam pernyataan Xi di berbagai forum internasional.
Dalam KTT BRICS 2024 di Kazan, Rusia, Xi mengatakan negara-negara Global South perlu menjadi penggerak pembangunan bersama.
“Global South bangkit demi pembangunan dan makmur melalui pembangunan. Kita harus menjadikan diri kita sebagai penggerak utama bagi pembangunan bersama,” katanya.
Xi selama ini memandang pembangunan sebagai salah satu instrumen utama dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi dan sosial.
Pendekatan tersebut juga dikaitkan dengan kebijakan pengentasan kemiskinan di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok menyatakan telah menghapus kemiskinan ekstrem melalui berbagai program pembangunan dan bantuan masyarakat.
Xi kemudian membawa gagasan serupa ke dalam kerja sama internasional.
“Di jalur menuju modernisasi, tidak seorang pun, dan tidak ada negara mana pun, yang boleh tertinggal,” ujar Xi.
Di Bishkek, ia menyerukan peningkatan kerja sama dalam sektor perdagangan, investasi, konektivitas dan energi, sekaligus memperluas kolaborasi pada bidang kecerdasan buatan, ekonomi digital, serta industri hijau.
Global Development Initiative
Tiongkok juga mempromosikan Global Development Initiative (GDI), sebuah inisiatif yang diluncurkan Xi dan pada tahun ini memasuki tahun kelima pelaksanaannya.
Menurut data yang disampaikan pihak Tiongkok, GDI telah menghimpun lebih dari 23 miliar dolar AS untuk mendukung berbagai program pembangunan.
Dana tersebut disebut telah membantu lebih dari 1.800 proyek mata pencaharian berskala lokal dan mendukung program pelatihan bagi lebih dari 200.000 orang di sejumlah bidang profesi.
Pemimpin Redaksi Delovoy Kazakhstan, Serik Korzhumbayev, menilai konsep pembangunan yang dikembangkan pemerintahan Xi semakin memiliki dimensi internasional.
“Di bawah kepemimpinan Xi, konsep pembangunan telah memperoleh dimensi internasional yang baru dan menjadi bagian dari visi yang lebih luas untuk masa depan bersama umat manusia,” katanya.
Dorong Representasi Lebih Besar bagi Negara Berkembang
Selain pembangunan, Tiongkok juga mendorong peningkatan representasi negara-negara Global South dalam tata kelola internasional.
Pada KTT SCO di Tianjin tahun lalu, Xi mengusulkan Global Governance Initiative (GGI), yang menurut Tiongkok ditujukan untuk mendorong tata kelola global yang lebih adil dan setara.
Salah satu gagasan utamanya adalah memberikan kedudukan dan kesempatan yang lebih besar kepada berbagai negara untuk terlibat dalam pengambilan keputusan internasional.
Dalam KTT SCO di Bishkek, Xi kembali menyampaikan pandangannya mengenai multilateralisme.
“Urusan dunia harus dibahas bersama, dan norma internasional harus ditetapkan bersama,” ujarnya.
Xi juga menilai negara-negara Global South perlu memperoleh representasi yang lebih kuat dalam berbagai institusi internasional.
“Sebagai bagian penting dari dunia multipolar dan penggerak utama di baliknya, negara-negara Global South harus memiliki representasi dan suara yang lebih besar dalam urusan internasional,” katanya.
SCO dan BRICS dalam beberapa tahun terakhir menjadi wadah koordinasi berbagai negara berkembang dalam membahas isu politik, ekonomi, keamanan, dan pembangunan.
Pada Maret 2026, misalnya, negara-negara anggota SCO mengeluarkan pernyataan mengenai perkembangan di Timur Tengah dan menyampaikan keprihatinan terhadap serangan terhadap Iran.
Pembiayaan Pembangunan hingga Kerja Sama AI
Tiongkok juga mendorong perubahan tata kelola ekonomi dan keuangan internasional.
Pada 2014, Xi bersama pemimpin negara BRICS lainnya menandatangani perjanjian pembentukan New Development Bank (NDB). Bank tersebut dibentuk untuk menyediakan pembiayaan bagi proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang dan perekonomian emerging.
Dalam KTT SCO di Bishkek, negara-negara anggota juga kembali menegaskan pentingnya rencana pembentukan SCO Development Bank.
Agenda kerja sama Global South kini turut merambah sektor teknologi.
Pada Juli 2026, Xi mengumumkan pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) dan mendorong terciptanya sistem tata kelola kecerdasan buatan global yang lebih inklusif.
Menurut Xi, negara-negara berkembang perlu memperoleh akses lebih besar terhadap teknologi dan peningkatan kapasitas agar kesenjangan digital tidak semakin melebar.
“Kita harus menjalin kerja sama internasional yang luas dan membantu negara-negara Global South dalam peningkatan kapasitas guna menjembatani kesenjangan AI dan digital, mendorong pembangunan berkelanjutan, serta mencegah terciptanya ketidakadilan historis yang baru di bidang AI,” ujarnya.
Selain melalui SCO dan BRICS, Tiongkok juga mengembangkan kerja sama Global South melalui sejumlah forum lain, termasuk Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) serta mekanisme kerja sama Tiongkok-ASEAN.
Xi menegaskan bahwa Tiongkok memandang dirinya sebagai bagian dari Global South dan dunia berkembang.
“Bagaimanapun lanskap internasional berkembang, kami di Tiongkok akan selalu menempatkan Global South di dalam hati kami dan menjaga akar kami di dalam Global South,” ujar Xi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda