JurnalPost.com, Sidoarjo — Belajar menjadi seorang pendidik ternyata tidak cukup hanya melalui teori di ruang kuliah. Pengalaman berhadapan langsung dengan siswa, memahami suasana kelas, hingga bekerja bersama guru menjadi proses pembelajaran tersendiri yang saya rasakan selama mengikuti program Asistensi Mengajar.
Program tersebut merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung di luar kampus.
Saya memilih mengikuti Asistensi Mengajar karena ingin melihat lebih dekat bagaimana proses pendidikan berlangsung di sekolah, mulai dari kegiatan pembelajaran hingga berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari keseharian siswa dan guru.
Kegiatan Asistensi Mengajar saya jalani di SD Negeri Siwalanpanji, Sidoarjo, mulai 27 Juli hingga 30 September 2026. Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), pengalaman berada langsung di lingkungan sekolah memberikan banyak pelajaran yang tidak selalu dapat ditemukan melalui perkuliahan.
Mengenal Sekolah Sebelum Masuk ke Kelas
Pada hari pertama berada di SDN Siwalanpanji, saya tidak langsung mendapatkan tugas mengajar. Saya terlebih dahulu diajak mengenal lingkungan sekolah sekaligus berkenalan dengan kepala sekolah serta Bapak dan Ibu guru.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian saya adalah program Adiwiyata yang diterapkan sekolah.
Di beberapa bagian sekolah terdapat tanaman hidroponik yang dirawat secara rutin. Hasil panennya tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dapat dijual sehingga memberikan nilai tambah bagi kegiatan sekolah.
Selain itu, sekolah menyediakan tempat khusus untuk mengumpulkan botol plastik. Botol-botol tersebut kemudian dikelola dan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan Adiwiyata, termasuk membantu pengadaan benih maupun tanaman.
Dari aktivitas sederhana tersebut, saya melihat bahwa pendidikan lingkungan hidup tidak hanya disampaikan melalui teori atau kegiatan bersih-bersih. Kebiasaan menjaga lingkungan juga dibangun melalui praktik yang dilakukan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Belajar Menghadapi Karakter Siswa yang Beragam
Setelah mengenal lingkungan sekolah, saya mulai berkoordinasi dengan guru pamong serta Bapak dan Ibu guru mengenai kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.
Selama program berlangsung, saya memperoleh kesempatan mengajar siswa kelas 2 hingga kelas 5 dengan total 11 kelas secara bergiliran sesuai jadwal.
Pengalaman berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya membuat saya semakin memahami bahwa setiap kelas mempunyai karakter yang berbeda.
Ada siswa yang dapat memahami instruksi dengan cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan penjelasan secara berulang. Beberapa siswa aktif bertanya, sementara siswa lainnya membutuhkan pendekatan berbeda agar lebih berani terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Situasi tersebut membuat saya belajar bahwa metode mengajar tidak dapat selalu diterapkan dengan cara yang sama pada setiap kelas.
Guru perlu memahami kondisi siswa, suasana kelas, serta kemampuan belajar mereka sebelum menentukan cara menyampaikan materi.
Belajar Metamorfosis Lewat Diorama
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya terjadi ketika mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas 3A dengan materi metamorfosis.

Pada pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai proses perubahan bentuk pada hewan. Mereka juga diajak membuat diorama yang menggambarkan tahapan siklus hidup hewan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui koordinasi bersama guru kelas 3A, Agung Jaya Wicaksono, S.Pd.
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok menentukan hewan yang akan dibuat, menyusun tahapan metamorfosis, kemudian menuangkannya dalam bentuk diorama.
Setelah selesai, siswa mempresentasikan hasil karya mereka di depan kelas.
Melalui kegiatan tersebut, saya melihat bahwa siswa menjadi lebih aktif ketika pembelajaran tidak hanya berpusat pada penjelasan guru.
Kesempatan untuk membuat, berdiskusi, dan mempresentasikan hasil pekerjaan membuat siswa dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Bagi saya sendiri, kegiatan tersebut sekaligus menjadi latihan untuk mengatur waktu, mengelola kelas, memberikan arahan kepada siswa, serta memastikan aktivitas yang dilakukan tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Menjadi Guru Juga Berarti Terus Belajar
Selama menjalani Asistensi Mengajar pada 27 Juli hingga 30 September 2026, banyak pengalaman baru yang saya peroleh.
Saya tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, tetapi juga memahami bahwa pekerjaan seorang pendidik mencakup banyak hal.
Guru perlu menyiapkan pembelajaran, mengenali karakter siswa, menjaga suasana kelas tetap kondusif, mengatur waktu, hingga bekerja sama dengan guru lainnya.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa proses menjadi pendidik membutuhkan kesiapan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Saya menyampaikan terima kasih kepada Kepala SD Negeri Siwalanpanji Aminatus Sholihah, S.Pd.SD., M.Pd., guru pamong Bambang Widoyono, S.Pd., serta seluruh Bapak dan Ibu guru SDN Siwalanpanji yang telah memberikan kesempatan, arahan, dan bimbingan selama kegiatan berlangsung.
Bagi saya, program Asistensi Mengajar MBKM UNESA memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai dunia pendidikan.
Awalnya, saya datang ke sekolah untuk belajar sekaligus membantu kegiatan pembelajaran. Namun setelah menjalani berbagai pengalaman di dalam maupun di luar kelas, saya menyadari satu hal penting: menjadi seorang pendidik bukan berarti berhenti belajar setelah mampu mengajar.
Justru, menjadi pendidik berarti harus terus belajar—dari siswa, dari guru lain, dari lingkungan sekolah, dan dari setiap pengalaman yang terjadi di ruang kelas.
Identitas Penulis
Nama: Zahra Ashila
Email: 24010644368@mhs.unesa.ac.id
Program Studi: Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Perguruan Tinggi: Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Dosen Pengampu: Dr. Wasis Suprapto, S.Pd., M.Pd.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda